<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313</id><updated>2011-07-08T07:22:33.512+07:00</updated><category term='kolong jiwa'/><category term='kolong singkawang'/><category term='kolong arsitektur'/><title type='text'>kolongkolong</title><subtitle type='html'>this space is a testament of the too many ideas of men in the service of the greatest inspirations</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-7656140684771656091</id><published>2009-12-17T00:08:00.002+07:00</published><updated>2009-12-17T00:10:54.195+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong singkawang'/><title type='text'>Tiba-tiba saja Kangen Singkawang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Melayang tujuh keliling, vertigo yang tak diundang menyerang dan membuyarkan orientasi. Selembar plano putih yang sangat luas dan saya mendarat di tengahnya. Putih, putih sejauh cakrawala yang terjauh. Putih-putih itu kemudian berubah menjadi kumpulan warna-warna lain yang menyeruak seperti hujan badai yang dingin menyiram sekujur tubuh, antara sadar dan tak sadar. Warna-warna yang tak asing lagi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya seperti sedang melihat sekelompok anak-anak kecil berlarian dari gang ke gang, dengan celana jeans panjang yang kepanjangan sehingga digulung dalam beberapa lipatan. Sepatu-sepatu Eagle baru berwarna hitam yang disiapkan sekaligus untuk masuk sekolah nanti. Di tangan mereka terpegang beberapa pasang petasan cabe rawit dan kembang api Apollo yang terkenal di zaman itu. Menyalakannya dan sembarangan saja melemparnya. Tak ada yang memarahi mereka biar seberapa bising yang mereka hasilkan dari suara-suara itu, karena pagi itu, semua orang masih terlelap setelah berpesta dan bergembira semalam suntuk. Namun tiba-tiba saja sekelompok ibu-ibu seketika lewat dengan sepeda mini mereka, dengan keranjang di depan. Sekelebat, terlihat tulisan Phoenix di rangka sepeda beberapa orang di antaranya. Membawa bermacam buah dan kertas-kertas sembahyang, berlalu berkelompok sambil membunyikan lonceng sepeda. Mereka akan bersembahyang ke kuil-kuil di seantero kota, di pagi hari pertama Tahun Lunar itu. Bunyi kring sepeda terus terdengar seperti gema yang semakin hilang dan hilang. Saya membalikkan diri, dan hanya terlihat kumpulan anak-anak yang sedang menyalakan kembang api mereka, tanpa suara sama sekali. Wajah-wajah mereka berkontraksi dalam tawa, namun tak ada suara sama sekali yang terdengar meskipun terlihat kertas-kertas merah petasan yang terus berhamburan. Hanya vista. Dan dalam sekejap, vista itu hilang.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mundur sedikit, ada vista lain. Saya melihat murid-murid sekolah yang beramai-ramai menangkap kodok ketika musim hujan tiba, di lapangan rumput yang penuh basah oleh hujan semalam, di selokan-selokan samping parkir sepeda, terkelilingi oleh pohon-pohon kelapa sawit yang tak pernah terlihat berbuah sejak dulu. Baju-baju kotor penuh lumpur sepertinya tidak dipedulikan sama sekali padahal selepas jam istirahat ini, masih ada pelajaran sampai siang nanti. Tapi mereka masih terus saja menangkap kodok-kodok kecil yang baru saja bermetamorfosis dari fase berudunya. Ingin rasanya memberi tahu mereka bahwa baju-baju putih sekolah mereka sekarang telah berubah belang seperti kucing kampung, tapi keceriaan mereka membuat tak tega. Dengan satu tangan memegang kantong plastik gula bekas, mereka sibuk menangkap dan memasukkan kodok-kodok itu. Entah apa yang akan mereka lakukan dengan makhluk-makhluk kecil itu sesudah ini. Pikiran-pikiran anak kecil yang kadang tak tersentuh logika. Apa peduli, mereka hanya hidup tanpa beban. Sudahlah. Lalu lagi-lagi sontak terdengar bunyi kring yang cukup nyari. Terus mengiang di telinga, saya hanya bisa melihat murid-murid sekolah itu melemparkan segala pegangan di tangan mereka ke tanah-tanah lumpur, dan berlarian ke arah bangunan panjang di seberang. Lalu kali ini badai yang menyerang pandangan hingga semuanya menjadi begitu kabur tanpa suara apa-apa.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika pandangan kembali jelas, saya telah berdiri di balkon belakang rumah. Memandangi hijaunya padi-padi muda yang sepertinya baru tersiram hujan gerimis dari pagi, dengan berlatar Gunung Poteng dan Pegunungan Pasi di sebelahnya. Kabut-kabut putih dengan nakal menggerayangi kepala pegunungan itu. Di kejauhan, seorang ibu membawa anak perempuannya berjalan melalui pematang-pematang sawah menuju rumah gubuk mereka yang berada di seberang sawah. Di antara tangan dan pinggang mereka, terkepit tempayan kuning dari tanah liat, entah apa isinya. Di kiri kanan mereka, jernih air membasahi lahan-lahan padi keluarga mereka yang baru mendapat berkah air melimpah. Seekor sapi sedang sibuk berkubang sambil makan rumput, dengan gerobak penuh rumput di sampingnya. Majikannya sendiri sibuk memotong rumput tanpa sempat memperhatikan sapinya yang sedang tertawa. Seperti cerobong asap, dari ujung atap setiap rumah mulai terlihat asap tipis yang membubung makin lama makin pekat. Bau kayu bakar mulai tercium. Satu, dua, tiga, lima, delapan, dua belas rumah, semuanya membubungkan asap kayu bakar yang terasa menghangatkan, dalam baluran sejuk kabut selepas hujan sore itu. Perlahan mulai terdengar bunyi-bunyi adzan dari suro-suro sahut menyahut, pertanda maghrib. Hijau itu, sejuk itu, hangat itu, damai itu, mungkin hanya bisa dirasakan dalam pejaman. Namun ternyata pejaman ini menjadi awal dari perputaran berikutnya. Rasanya kepala dibalut oleh kabut-kabut putih panjang dan terus berputar dan bingung, semuanya hilang dan kembali putih.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam bingung, mencoba menoleh lebih ke belakang, saya melihat pohon-pohon randu yang sedang menghasilkan salju-salju kapas yang terus berjatuhan. Beberapa anak mencoba menangkapnya, menangkap kapas-kapas itu sebanyak-banyaknya. Lalu meniupnya sembarangan sambil berlompat-lompatan saking senang di antara pohon-pohon sukun yang mengelilingi. Tawa membahana. Lalu dari jauh terlihat seorang nenek tua. Adrenalin rasanya deras terpacu mengalir ke saraf-saraf tubuh ketika nenek itu berlari menuju ke anak-anak itu sambil membawa sapu yang diacung-acungkannya. Anak-anak itu ketakutan sehingga lari berhamburan namun tetap dengan tawa yang membahana. Saya tiba-tiba ingat pada nenek tua itu. Saya ingat, ia adalah penjaga sekolah itu. Tukang sapu dan tukang pel yang juga merangkap tukang sampah, yang dulu sering mengancam akan mengadu kepada ibu jika saya nakal di sekolah. Nenek tua yang lucu. Spirit muda dalam syaraf-syaraf tua. Lalu sekali lagi hilang dalam pusaran angin putih yang melenyapkan semuanya, meninggalkan saya berdiri di lantai terakota, di teras sekolah yang sangat panjang. Sepi tanpa siapapun. Tiba-tiba angin putih menyapu seperti sedang membalikkan lembaran pandangan ke halaman berikutnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lalu di kiri kanan, saya melihat jalan-jalan. Semakin lama semakin jelas bahwa sebelah kanan itu ada jalan Diponegoro dan di kiri adalah Ahmad Yani. Saya ke kiri, lurus dengan Gunung Sari di sebelah kiri dan 3 patung di sebelah kanan, sampai pada pertigaan, ada tulisan Alianyang dan berbelok ke sana. Menjumpai lapangan Kodim di kiri dan sebuah kelenteng di kanan, lurus dan saya menerobos beberapa gedung pemerintahan, dan melihat beberapa lampu lalu lintas, serta beberapa pertigaan, salah satunya bertuliskan Tsjafioedin, dan sampai pada sebuah tugu di perempatan, saya membelok lagi ke kanan dan menjumpai Yos Sudarso. Sekelebat saya melihat tulisan Gedung Juang di sebelah kiri. Yos Sudarso penuh dengan penjual makanan di kanan kirinya. Lalu tanpa disadari saya telah melewati sebuah pertigaan lagi dan menjumpai sebuah Mesjid Raya bercat hijau di sebelah kanan. Jauh di depan, sebuah klenteng lagi yang berwarna merah menyala. Beberapa orang sibuk bersembahyang di depannya. Ke kanan, saya sampai ke Sejahtera. Pada perempatan pertama saya ke kiri dan menemui sebuah tugu naga berwarna putih di tengah perempatan. Konon itu adalah patung naga yang legendaris. Entah apa yang membuatnya menjadi begitu hebat. lalu saya putuskan ke kiri dan sampai ke Niaga. Lurus terus dan saya ke Budi Utomo di sebelah kanan yang penuh dengan toko busana. Kembali menjumpai beberapa pertigaan lalu menjumpai Nusantara. Di sini terasa sepi, di sebelah kiri terdapat kantor polisi yang cukup besar sepertinya. Lalu di pertigaan berikut saya bertemu dengan Jenderal Sudirman dan PLN, setelah perjalanan lurus cukup jauh melewati tulisan Kalimantan, saya menemukan sederet ruko berseberangan yang cukup ramai, serta KS Tubun di sebelah kanan. Saya berbelok. Semua terasa sulit di sini, jalan yang cukup rusak, sebuah kuil besar di kiri, dan beberapa rumah walet, melalui beberapa jembatan, lalu sampai pada sebuah area pemakaman yang sangat luas. Akhirnya saya sampai pada sebuah jalan raya bernama GM Situt. Berbelok ke kiri, ruko berjejer di kiri kanan. Setelah sebuah pertigaan bernama Kridasana, saya menemukan Yohana Godang yang masih hijau kiri kanannya. Jalan ini akhirnya membawa saya kembali berhenti di antara Diponegoro dan Ahmad Yani dengan bangunan bertuliskan Mahkota di sebelah kanan. Perjalanan yang cukup panjang. Heh, tak terasa, hanya dengan 1 paragraf saja, saya sudah merasa seperti sedang berkeliling kota Singkawang. Lalu sedetik kemudian saya sadar bahwa semuanya akan kembali putih dan menghilang. Dan benar saja.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Saya kembali melihat ke depan, kali ini saya melihat sebuah pasar yang saya sepertinya banyak orang berjualan sayur-sayur dan daging. Seorang nenek Madura duduk di atas lembaran koran, di tepi jalan yang agak becek, dengan keranjang-keranjang sayur di hadapannya. Berikat-ikat pakis yang dibungkus dengan daun pisang dan diikat dengan batang-batang ilalang kering membuatnya terus meneriakkan iklan-iklan sayur dengan tenaga penuh, tiba-tiba ia memandangi saya, lalu terdiam. Saya tercekat, perempuan setua itu. Beberapa langkah di sampingnya, seorang bapak gendut yang tak memakai baju sedang memotong daging-daging babi di atas talenan lebar dari kayu nangka yang terlihat licin oleh gosokan daging dan pisau potong setelah sekian lama. Potongan-potongannya digantungkan di gantungan-gantungan besi yang modelnya mirip mata panjang raksasa bermata 3 yang dipakai untuk memancing hiu. Di lehernya tergantung dengan sangar sebuah kalung emas bermodel rantai sebesar ibu jari. Di sebelah kiri bapak itu, berdiri seorang amoy dengan sebuah nampan yang tertutup dengan lapisan kain katun putih. Seorang pembeli lewat dan dia langsung membuka tutup nampannya dan terhamparlah sebidang kenyal berwarna putih yang ternyata adalah tahu. Dari gerakan memotongnya, langsung bisa dilihat bahwa anak muda ini telah lama bergelut di bidang pertahuan. Tangannya gemulai menggerakkan pemotong tahunya dan seketika mengambil selembar daun simpur dari kolong mejanya. Seketika meletakkan beberapa potongan tahu pesanan di atasnya dan dalam beberapa lipatan, ia menyerahkannya kepada sang pembeli itu. Namun, seketika juga, saya seperti melihat sebuah cakar ekskavator raksasa menghantam ketiga orang itu dan seketika bayangan mereka beserta keramaian pasar menjadi blur, buram tergantikan oleh lempeng-lempeng batako yang dengan cepat menanjak dinding-dinding beton. Satu lantai, dua lantai, 3 lantai. Saya seperti sedang melihat selintas bayangan Pasar Kopro berpindah ke sana. Lalu kesadaran berlalu, sebentar.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Foto-foto hitam putih kakek dan nenek yang saya satukan pagi ini dengan program Photoshop bajakan kembali menyeret saya dari sadar. Dari keluarga ibu, mereka adalah 2 orang yang tak sama asal usulnya. Foto-foto mereka lusuh dalam bayangan noda waktu. Tak pernah punya foto berdua selama hidupnya, tak pernah terekam, yang ada hanya foto-foto keluarga besar. Menyatukan foto-foto itu hanya untuk mendapatkan kenangan bahwa suami istri itu dekat satu dengan lainnya. Foto-foto hitam-putih itu semakin menyeret saya ke belakang. Ke Singkawang 1948. Ke Singkawang yang masih membiru dalam kayuhan sepeda tua, membiru dalam urat-urat rumah-rumah kayu, membiru dalam jalan-jalan gerobak sapi, membiru dalam selangit panorama yang menggulung.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Langit biru. Sejauh mata di atas, ditutupi oleh selimut awan yang robek di sana-sini karena kadar air yang tak merata. Tak terlihat di mana matahari berada, barat dan timur, cerah tapi tak panas. Sekali, dari utara terdengar deru dari kejauhan, jauh sekali, stereo pesawat terbang, burung besi masa kecil, entah dari mana, entah ke mana. Lalu hilang tak berbekas, tertelan gumpalan-gumpalan arumanis, awan-awan di selatan. Di bawah kaki, bumi batu-batu koral, dengan tanah dan rumput, sepi ilalang di sela-selanya. Berjalan, berhenti, pijakannya tak rata. Tipikal tekstur bumi yang belum terjamah. Bayangan lembut di bawah, cerah dan hangat. Hamparan kristal berloncatan di antara beningnya riak-riak sungai yang terbelah oleh tumpukan-tumpukan andesit. Tarikan antara sejuknya air dan hangatnya tanah membuat ilalang-ilalang sabana jauh di sana, di sisi cakrawala, menari-nari dalam komposisi tropical waltz yang indah bukan kepalang. Bunga-bunganya seperti bola-bola sutera persia, terbang dalam alunan harmoni angin serenade dari tenggara.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Melihat Singkawang, adalah seperti melihat gulungan film tak berujung, berputar frame demi frame, adegan demi adegan. 2 lembaran ini, antara sadar dan tak sadar, adalah hanya karena saya kangen dengan kampung halaman saya, hanya karena kangen dengan tanah-tanah merahnya, hanya karena kangen dengan pohon-pohon randunya, dengan bau kayu-kayu bakar, bau tanah dan air yang tertinggal di sana, kangen dengan klasika Singkawang. Ingin sekali pulang.&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dan vertigo itu hilang.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba saja, rasanya kangen Singkawang,&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ardy Prasetya.&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-7656140684771656091?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/7656140684771656091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=7656140684771656091' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/7656140684771656091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/7656140684771656091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2009/12/tiba-tiba-saja-kangen-singkawang.html' title='Tiba-tiba saja Kangen Singkawang'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-8628328809202998218</id><published>2009-08-17T13:59:00.005+07:00</published><updated>2009-08-18T08:02:31.155+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong jiwa'/><title type='text'>Lukisan Hari Ini</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya melihat sebuah lukisan kemerdekaan. Di jalan yang telah biasa dilalui, pagi ini terjadi sebuah kelainan. Seketika saja sebuah panggung cukup besar malang melintang di tengah jalan seperti pesawat UFO yang baru mendarat semalam dan tersasar tak tahu jalan pulang. Tatakan-tatakan kayu lapis di atas drum-drum minyak tertutup oleh kain-kain merah dan putih sedemikian mempesona. Di kiri kanan panggung, tiang-tiang baja penyanggah atap tidak ketinggalan berjurai-jurai pita merah, putih, hijau, kuning, biru berjejalan saling adu warna. Sebuah struktur baja segitiga lalu didudukkan di atas tiang-tiang baja tersebut, dan akhirnya dengan lembaran-lembaran seng bekas, tertutuplah ruang di bawah atap tersebut. Belum juga ketinggalan bermacam ragam umbul-umbul pita, bendera berbagai ukuran, dan bunga-bunga saling silang, saling selip di antara kuda-kuda bajanya. Sekilas tampak sempurna. Setidaknya begitulah yang telah terbentuk dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sebuah struktur yang temporer, yang barangkali juga didasari atas semangat yang temporer pula. Ah, setahun sekali.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Di atas panggung, terlihat beberapa orang sibuk menekan-nekan, memetik-metik, menabuh-nabuh penuh semangat. Di bagian belakang atau backdrop panggung, melatari mereka, tampak sebuah poster laki-laki kekar berambut ikal dan berjubah juga berjurai-jurai persis seperti panggung, sambil menenteng gitar, entah siapa, barangkali itu Bang Toyib yang sudah dicari-cari 3 tahun sama keluarganya. Sementara orang-orang lain membanjir di bawah, terus saja mengejang-ngejang, berjoget. Dut-dut-dut, suara petikan semakin lama semakin membahana, dang dut-dut-dut, dang dut-dut-dut, dang duer-duer-duer. Saya yakin peluh mereka yang sebesar-besar biji jagung telah jatuh berbutir-butir dari subuh hari tadi ke aspal yang kering begitu saja karena cuaca akhir-akhir ini yang terasa begitu panas di sini. Tapi biar saja, mungkin karena bagi mereka, matahari pagi yang konon sangat menyehatkan sebaiknya dibiarkan saja menembak-nembak tubuh. Atau barangkali karena bunyi dut-dut-dut yang menggoda itu. Beberapa di antara mereka, dengan pakaian merah ala kadar (kalau tidak mau dikatakan sebagai pakaian pemulung), juga ikut mengejang. Dua jempol di dada, mengejang-nge dang dut. Saya terpana. Suara petikan terus saja dut-dut-dut. Ah, biar saja.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dalam keterpanaan itu, saya hampir menabrak pengendara di depan karena kendaraannya yang sengaja diperlambat. Dalam waktu beberapa detik itu, ternyata dia terus melihat ke arah panggung, ke arah dut-dut-dut yang benar-benar menggoda itu, seperti sedang melihat seorang wanita seksi berpakaian rok merah ketat sepaha. Matanya seperti magnet ketemu besi, tak mau pergi dari godaan itu, lehernya seperti telah kaku karena salah bantal sewaktu tidur semalam, dan motornya ya ampun, sudah seperti bajaj bingung mencari penumpang di samping halte karena saking lambatnya. Dia begitu tertarik dengan suara dut-dut-dut. Saya tak sampai hati memburunya dengan klakson, lalu memilih membiarkannya saja karena memang terlihat gelagatnya sudah lain. Dan benar saja, beberapa detik berikutnya dia sudah memarkirkan motornya di samping jalan di seberang panggung. Masuk di antara hutan-hutan manusia kelas pekerja, yang bisa dikatakan sekelas dengannya meski mungkin tak senasib dan sepenanggungan. Dia ikut mengejang dang dut. Ah, dut-dut-dut lagi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Suka cita tak dilewatkan oleh segerombol anak-anak dengan pakaian dan sepatu bola menghiasi tubuh-tubuh kurus mereka. Mereka menunggu di satu sudut lapangan, persis di belakang panggung. Sementara di balik lapangan mereka, para orang tua sedang asik mengejang dut-dut-dut, mereka dengan muka ceria asyik menendang-nendang, dang-dang-dang. Seorang anak melingkar-lingkarkan kakinya di sekitar bola persis seperti Christiano Ronaldo. Mereka luar biasa bersemangat, spirit dan atmosfer yang mereka rasakan, mungkin sudah bisa&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;diadu dengan suasana di Dortmund sewaktu semi final Piala Dunia 2006, ketika Jerman kalah dramatis dari Italia. Bercampur di sana, anak-anak sekolahan, anak-anak pengajian, anak-anak putus sekolah, anak-anak rumahan, anak-anak gelandangan, anak-anak jalanan, dan anak-anak yatim barangkali. Mereka tentu sangat bersemangat meraih kemenangan, berebut hadiah kemengangan. Mereka bergembira karena mereka sedang merayakan hari merdeka. Hah ? Hari Merdeka ? Dang-dang-dang. Dut-dut-dut. Dang dut, dang dut, dang dut.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Lalu, saya berpikir, dengan sedikit bekal intelektualitas yang saya miliki -dan saya pikir tidak mereka-mereka miliki- saya mulai berpikir, kelas-kelas seperti mereka itu, tahu apa soal kemerdekaan, tahu apa soal makna kemerdekaan, makna perjuangan. Mereka hanya bisa merayakan sehebat-hebatnya, berjoget sepuas-puasnya, menendang sekencang-kencangnya, memanjat pinang setinggi-tingginya, balap karung sejauh-jauhnya, bergembira sejadi-jadinya. Lalu apa yang disisakan sebagai refleksi dan introspeksi dari setiap tahunnya ? Tak terpikir ? Ya tentu tak terpikir oleh mereka. Bayangkan saja kelas mereka, yang rata-rata SMA tidak lulus, SMP saja setengah mati, SD tak tamat-tamat ngulang terus, bahkan TK saja drop out. Ah, takkan terpikir. Apa lagi soal refleksi dan introspeksi, lebih baik pulang makan nasi pakai sambel terasi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Mereka itu, atas nama memperingati hari kemerdekaan kita, hari besar yang bersejarah bagi kita, merayakannya dengan suka cita, dengan semangat dang dut 45. Tak perlu berharap banyak dari apa yang akan menjadi jawaban mereka jika ditanya tentang makna kemerdekaan untuk mereka-mereka itu. Satu-satunya jawaban logis yang terpikir pastinya adalah sebuah pencapaian dan keberhasilan bangsa kita ini mengusir penjajah dengan senapan-senapan mosser sisa kumpeni dan bambu-bambu runcing yang legendaris. Mengenai bagaimana para pilot sekutu Amerika yang membombardir Hiroshima dan Nagasaki diikuti menyerahnya Jepang tanpa syarat lalu pulang meratapi nasib kolega sebangsanya yang telah habis kena atom, pergi dari tanah Hindia, meninggalkan galian gunung emas, tak peduli mereka. Mengenai bagaimana naskah proklamasi ditulis semalam suntuk oleh Bapak-bapak bangsa kita, dan tentang Undang-Undang Dasar yang dirumuskan tak lebih dari seminggu, tak peduli mereka. Mengenai&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;bagaimana pahlawan-pahlawan revolusi kita berperang setengah mati untuk mempertahankan hari bersejarah itu di tahun-tahun berikutnya, apa lacur, tak peduli mereka. Mereka itu, hanya peduli pada semangat pesta ria kemerdekaan, pada suka cita temporer, pada gawean liburan setahun sekali, pada dut-dut-dut. Mereka itu, kelas pekerja itu, adalah lukisan dari separuh besar hidup Indonesia, lukisan dari separuh besar keseharian masyarakat negeri, sebuah lukisan dari 8 windu kemerdekaan. Mereka hanya peduli pada hari ini. Tentang hari esok, biar bagaimana besok saja baru dipikirkan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Apakah memang tidak bermakna kemerdekaan ini bagi kehidupan di negeri ini ? Serendah itukah makna kemerdekaan bagi kita ?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Tiba-tiba saya kembali terpana. Saya ingin mencoba berpikir dari mata mereka. Berpikir dari sudut pandang mereka-mereka, kelas pekerja, kelas buruh dan tani, kelas “tertindas”. Mereka, sebagai separuh besar masyarakat Indonesia, sebagian besarnya merupakan korban dari kapitalisme yang terus merasuk, mereka yang selalu merasakan kemiskinan, kemelaratan, dan kesusahan setiap harinya. Kemerdekaan bagi mereka, tak lebih dari hari kemarin yang telah susah payah terlewatkan, hari ini yang sudah makan, dan hari besok yang mudah-mudahan bisa makan. Kemerdekaan bagi mereka, tak lebih dari harga sembako yang tak naik, gas dan minyak yang tak perlu diantri dari pagi, dan gaji karyawan yang syukur naik sedikit setiap tahun. Kemerdekaan bagi mereka, tak lebih dari buku-buku sekolah tahun kemarin yang masih bisa dipakai, baju sekolah bekas kakak-kakak yang masih bisa ditambal, dan tunggakan uang sekolah “gratis” yang bisa dicicil. Barangkali kemerdekaan bagi mereka hanyalah sesederhana masalah “ pindah-pindahan kekuasaan” yang padahal sejak hari proklamasi 8 windu kemarin sudah direncanakan akan diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hanya sesederhana itu. Lalu jika begini, mau bagaimana dan kapan mereka baru bisa memaknai kemerdekaan sebagai salah satu komponen bangsa ? Entahlah. Lalu apa makna kemerdekaan yang bisa dituntut dari intelektualitas yang terus dibangga-banggakan ini ? Semuanya akhirnya hanya menjadi bumerang yang melemparkan kembali kepada saya tentang betapa bodohnya semua itu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Akhirnya saya salut pada kedangkalan mereka semua. Mereka ternyata secara dangkal pun lebih tahu cara memaknai kemerdekaan daripada semua kompleksitas makna yang rumit dan luar biasa ilmiah dari orang-orang terpelajar. Cara sederhana mereka adalah tentang bagaimana mereka telah sukses melewati semua ketidakmerdekaan di masa kemerdekaan ini. Cara sederhana mereka adalah bahwa mereka telah teruji luar biasa oleh waktu dan kesulitan, sampai pada hari ini. Sungguh salut kepada mereka, karena pada hari ini, mereka masih bisa tertawa gembira di atas kemiskinan yang telah mengakar di bawah kaki mereka. Mereka masih bisa tertawa mengakak di atas mayat-mayat sosial yang tertimbun di antara batu-batu kapitalisme yang ironisnya harus terus diangkat oleh tangan-tangan kering mereka sendiri. Mereka masih bisa tertawa gelagapan di atas kemelaratan yang telah membenalu sekian puluh tahun di syaraf-syaraf tubuh mereka. Mereka bahkan masih bisa tertawa untuk hari besar ini dan menghasilkan sebuah lukisan indah bagi kemerdekaan kita, sampai saat ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Di sebuah Mal, beberapa orang anak sekolahan sedang asyik berjalan. Gaya mereka Hip-Hop, dengan baret di kepala, celana boxer polkadot merah putih, dan jeans longgar yang pinggangnya sengaja diturunkan sampai ke bawah bokong. Sudah dari tadi mereka bermain dengan barang hitam di tangan-tangan mereka. Mereka terlihat sangat terkonsentrasi pada keypad-keypad Blackberry mereka. Saya berpikir mereka pasti sedang mengetikkan update statusnya ke wall mereka. Mereka juga tak ketinggalan, terserang virus Facebook. Masuk ke restoran McD, memesan beberapa hamburger, lalu duduk dan berlanjutlah terus Facebook dan Blackberry ria. Suara musik hingar bingar di dalam restoran tersebut, semua kepala berajojing jang-jing jang-jing. Apakah Karl Marx akan bahagia jika tahu telah tercipta Blackberry dan Facebook yang telah membuat hubungan antara manusia tanpa melihat kelas sosial bisa terjadi hanya dengan beberapa kali “klik” ? Entahlah. Yang pasti, saya tidak melihat merah putih kecuali boxer itu. Dan hamburger pun datang.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Hilang jati dirikah kita ? Jangan-jangan sudah banyak bule-bule yang datang ke negeri kita, yang memilih tinggal kampung-kampung Jawa, di rumah-rumah dinding krepyak, dengan atap joglo genteng kodok dan jerami, lantai keramik tanah, pakai mebel jati jepara, dengan becak Jogja di salah satu sudut rumahnya, bahkan setiap hari pakai kemeja batik, baju kejawen, pergi ke Beringhardjo naik ontel, tentu tak lupa dengan blangkon di kepala. Tak tahu mau apa mereka sebenarnya sementara kita sendiri sibuk dengan Facebook dan Blackberry di tangan. Tak dinyana kita diam-diam telah dikhianati tanpa ampun oleh mereka dengan memakai teknologi mereka dan juga tradisionalitas kita sendiri. Mereka sekarang malah terkesan lebih Indonesia dari orang Indonesia. Dan kita sudah jauh lebih tertarik dengan begitu menggodanya Facebook, Friendster, Myspace, Twitter, Blackberry, McD, Starbucks, yang telah menjadi indikator dari betapa dinamis dan progresifnya peradaban kita. Sungguh menggelikan. Produk-produk kapitalis itu, ah tapi peduli apa kita ? Buat apa susah-susah dipikirkan. Biar saja. Lagipula bukankah Kenneth Frampton sudah mengatakan tentang pentingnya melihat dunia luar, meski sedang berada di tengah tanah-tanah lokal ? atau tentang pentingnya kembali ke nilai-nilai lokal, meski sedang berada di ranah-ranah teknologi dunia luar ? Itulah kontemporaritas kita.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Kita orang-orang Indonesia ini, apapun kelas sosialnya, ternyata sama saja. Menikmati hari merdeka dengan gembira ria suka cita, menjadikannya tak lebih tak kurang dari sekedar liburan nasional setahun sekali. Lalu kembali melukiskan hari merdeka dengan pesona khayangan, hingga detik ini. Lalu apakah kita salah ? Perlukah kita mengheningkan diri sejenak untuk mengenang jasa pahlawan-pahlawan kemerdekaan itu sekarang ? Bagaimana bisa ? Dalam spirit yang telah terdisorder, berdiri di tanah-tanah yang telah keropos retak terdisintegrasi secara tak kasat mata, sebagian dari kita bahkan sudah tak mampu lagi membedakan yang mana pahlawan, dan yang mana teroris. Tak perlu banyak peduli. Hamburger juga sudah ludes dimakan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Tiba-tiba, di luar restoran, terdengar bunyi sayup-sayup, eng-eng-eng, semakin lama semakin nyaring lagunya, jang-jing jang-jing eng-eng-eng, semakin lagunya jelas terdengar, Indonesia Pusaka. Hm, hari yang aneh.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dunia memang tak bisa ditebak. Tapi apa peduli ? Lupakan saja dulu, bergembiralah untuk hari ini. Atas nama demokrasi, inilah kemerdekaan kita. Suara-suara tadi pagi masih terus saja mengiang, dut-dut-dut. Eng-eng-eng. Jang-jing jang-jing. Dang dut-dut-dut.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dirgahayu RI ke 64, 17 Agustus 2009. Selamat hari merdeka.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Dut-dut-dut, siap-siap updut status lagi,&lt;br /&gt;Ardy Prasetya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-8628328809202998218?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/8628328809202998218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=8628328809202998218' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/8628328809202998218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/8628328809202998218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2009/08/lukisan-hari-ini.html' title='Lukisan Hari Ini'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-39692685569742980</id><published>2009-03-15T00:58:00.004+07:00</published><updated>2009-03-15T01:02:10.072+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong jiwa'/><title type='text'>Negeri Kita, Kita Sendirian</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;[1] Mereka&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;“ Janganlah segan belajar dan membaca, pengetahuan itulah perkakas mereka kaum hartawan untuk menindas kamu. Dengan pengetahuan itulah kelak kamu bisa merebut hakmu, hak rakyat. Asahlah otakmu dengan pengetahuan di manapun juga. Janganlah kamu sangka bahwa kamu sudah cukup pandai dan takabur mengira sudah kelebihan kepandaian buat memimpin dan menyelamatkan 55 juta manusia, yang beribu tahun terhimpit. Kawan, kawan, pengetahuan itulah kekuasaan, yang mungkin kelak dari kamu, rakyat-rakyat melarat akan menuntut segala macam pengetahuan, seperti dari satu perigi yang tak boleh kering. Bersiaplah. “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Tan Malaka tahun 1926 itu sedikit banyak membuat saya tersadar akan gambaran negeri yang terkesan beberapa tahun ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan banyaknya gejolak aksi massa atau demonstrasi yang terjadi hampir merata di berbagai wilayah di Nusantara, terlepas dari apapun motivasi atau kepentingan tertentu yang menggerakkan itu semua, membuat otak saya berdenyut dan bertanya dalam kebodohan yang tak menentu, apa yang sedang terjadi dengan kita para rakyat ini ? apa yang kita tuntut ? apa yang kita minta ? Bagaimana bisa kekuasaan kita bahkan memaksa kita untuk memohon-mohon dalam bentuk-bentuk aksi seperti ini ? Bagaimana bisa negara yang mengakui kedaulatan di tangan rakyat ini membuat rakyatnya harus memelas dalam keadaan yang tak jelas ? Apa yang sedang terjadi dengan kita ? Lebih-lebih, apa yang sedang dilakukan oleh negara kita, vulgarnya, apa yang dilakukan oleh para pelayan kita, pemerintah kita ? Sungguh pedulikah mereka pada kita ?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Demonstrasi dan unjuk rasa itu, seperti hamparan konstelasi, bisa jadi merupakan gambaran dari suatu pertanda. Agak tergelitik ketika beberapa waktu yang lalu mendengar pandangan dari Ryaas Rasyid yang mengobservasi adanya fenomena tidak responsifnya pemerintah terhadap aspirasi yang disampaikan secara lebih dingin. Menurut Rasyid, demonstrasi pada dasarnya merupakan pilihan terakhir dari cara-cara untuk menyampaikan aspirasi yang ada. Pilihan-pilihan utama merupakan cara-cara yang lebih elegan, yaitu seperti pembuatan dan penyampaian petisi, pengiriman delegasi, ataupun penyampaian melalui media, berupa surat pembaca, opini, dan lain sebagainya. Pertanyaannya, mengapa pilihan terakhirlah yang selalu dipilih dulu oleh kita ? pertanda apakah itu ? Apakah ini adalah pertanda kebalnya mata dan telinga pemerintah terhadap aspirasi yang lebih dingin ? Apakah ini adalah pertanda sikap pragmatis pemerintah yang menganggap bahwa penyampaian aspirasi secara dingin dan etis itu seperti tidak ada gunanya dan tak perlu dihiraukan karena tak mencemaskan dan mengganggu mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;? Apakah ini adalah pertanda bahwa pemerintah kita harus selalu dibuat kaget / shock dengan lonjakan gerakan masif yang mengganggu, membuat mereka sport jantung dan akhirnya mau melihat barang sedikit masalah-masalah yang sedang diteriakkan ? Apakah benar ini adalah tanda tidak responsifnya pemerintah pada aspirasi yang kita sampaikan secara baik-baik ? Amburadulnya aksi-aksi massa yang terjadi beberapa tahun ini memang seharusnya bisa memerahkan mata dan memekakkan telinga mereka terhadap isu-isu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang terjadi pada rakyatnya. Benarkah demonstrasi dan gerakan aksi massa yang pada dasarnya hanya sekedar untuk membuka mata dan telinga mereka ternyata lebih efektif daripada penyampaian gagasan dan komplain yang lebih bermartabat ?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sidney Jones mengatakan bahwa pemerintah yang tidak konsisten dan konsekuen dalam menjalankan kebijakan menyebabkan rakyat tidak cukup optimal merasakan adanya kehadiran negara dalam varian layanan publik. Visi ini didukung dengan pandangan Amartya Sen yang melihat bahwa kualitas dan reliabilitas layanan pemerintah yang rendah akan memberi dampak yang nyata bagi kehidupan rakyat, mempengaruhi kemiskinan, kelaparan, rendahnya daya beli, termasuk ketiadaan hak milik, dan sebagainya. Dari sini, probabilitas yang terbuka adalah rendahnya konsistensi, konsekuensi, kualitas, dan reliabilitas pemerintah untuk bisa mendengarkan aspirasi dan menjelaskan kebijakannya secara lebih lugas dan menapak pada bumi rakyatnya, disertai dengan implementasi yang tidak jelas dan tidak efektif sehingga kehidupan malah terasa semakin berat, membuat rakyatnya tidak merasakan adanya kehadiran mereka sebagai representasi dari negara.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karl Marx pernah meragukan eksistensi sebuah negara dengan hadirnya pemerintah. Menurut Marx, adanya pemerintah justru akan menghasilkan ketidakadilan di berbagai bidang kehidupan, tidak diperlukan, karena hanya akan menguntungkan pihak/kelompok tertentu. Tapi kemudian dibantah oleh logika rasional Hegel tentang perlunya sebuah sistem governmental yang mampu dan bersedia dalam keseimbangan individual dan sosial untuk mengatur wilayahnya, kawasannya, lingkungan sekitarnya, dan rakyatnya, dalam bentuk sebuah negara dengan bingkai keadilan sosial. Masuk akal. Visi Hegel ini pun seperti didukung dalam konsep negara kita, yaitu membentuk pemerintah negara yang memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia. Tapi dengan pincangnya keseimbangan dan keadilan yang terus terasa, sepertinya bagi kita di hari-hari ini, skeptisme Marx pun terasa sedikit masuk di akal. Adilkah ? Sejahterakah ? Cerdaskah ? Bagaimana kita harus melihat negeri kita, tanah dan air kita ? Bagaimana kita harus melihat pemerintah kita, pengurus dan pelayan kita ? Terlebih, bagaimana kita akan memposisikan diri kita di sana ?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;[2] Ini Negeri Kita&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mohammad Hatta pernah menyatakan visi demokrasi sebagai perwujudan perwakilan dalam nuansa yang lebih bersifat egaliter. Bagaimana kita telah dan akan diwakili pun, rasanya kita semua sudah tahu. Segala macam demonstrasi dari berbagai lapisan sosial masyarakat yang telah terjadi selama ini, rasanya adalah bukti nyata hasil kinerja dari wakil-wakil kita yang terhormat. Dengan begitu, terlepas dari pesta demokrasi yang langsung dilakukan oleh kita sendiri, apakah egaliterianisme itu telah terasakan terutama dalam kehidupan praktis kita ? dalam kehidupan praktis kaum marjinal di negeri kita ? Coba tanya mereka. Tanya mereka, apa itu demokrasi ? Siapa sebenarnya yang diwakili ? Di mana sisi egaliternya ?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya pernah melihat sebuah foto masyarakat tradisional Papua. Waktu itu mereka sedang duduk di emperan jalan, menjajakan sayur-sayur mereka. Duduk berleseh di tepi jalan, membentuk pasar kaget setiap pagi. Foto ini jarak fokusnya sengaja dibuat pendek sehingga bagian latar dari penjaja sayur ini terlihat buram. Tapi samar-samar saya masih bisa melihat latar tersebut, sebuah papan nama pasar swalayan yang modern, nama yang berasal dari luar daerah. Hebat, Papua telah menjadi sedemikian maju dan atraktif sehingga menarik merk dagang dari luar untuk menginvestasikan modalnya di sana. Luar biasa. Dan kalau mau tahu, sebenarnya tapak tempat berdiri pasar swalayan ini, dulunya adalah lokasi pasar tradisional tempat berjualan para penjaja sayur tradisional yang sekarang “mengesot” di jalan itu. Kini mereka telah tergusur, justru di tanah mereka sendiri. Justru di tanah air mereka yang mengakui kekayaannya akan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran mereka. Ironis.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Beberapa hari yang lalu, saya kembali melihat sebuah foto. Sebuah foto tanah kelahiran saya, sebuah foto di tanah Borneo. Lokasi foto itu adalah di sebuah daerah perbatasan Indonesia-Malaysia di Aru, Kalimantan Barat. Beberapa ibu Dayak tersenyum membawa keranjang sayur panjang tradisional yang diikatkan di kening/kepala. Di foto itu, latar dari ibu-ibu ini adalah sebuah gardu listrik. Di sana, di halaman belakang negeri ini, mereka tersenyum, karena listrik telah masuk ke desa mereka. Ya, listrik, bukan ABRI. Listrik di negeri kita telah menjangkau desa terpencil di Borneo sana. Luar biasa ? tentu saja. Dan kalau mau tahu, listrik itu adalah listrik yang dibeli dari tetangga kita, Malaysia. Dan kalau mau tahu lagi, bahan bakarnya kemungkinan besar adalah batubara hasil tambang tanah Borneo kita. Bagaimana bisa tanah Borneo, tanah penghasil listrik di kepulauan Jamrud Khatulistiwa ini, tak punya listrik untuk rakyatnya sendiri ? Bagaimana bisa tanah Borneo, tanah penghasil batubara yang bahkan menjadi penghasil cahaya yang menerangi China, Jepang, Taiwan, dan Korea, tak punya cahaya untuk menerangi tanahnya sendiri ? Sebuah tanah, yang menurut Semaun hanya dari sebagian hutannya saja, bisa membuat Sukarno punya modal untuk membangun ibukota baru di sana. Coba kasih tahu saya, bagaimana bisa ? Ironis yang berdarah-darah.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Potret-potret paradoks itu, membuat saya bertanya, adakah kehadiran pemerintah di sana ? Ya, tentu saja ada. Tapi, indera perasa yang tak terbiasa lagi peka malah membuat saya tidak tahu bagaimana cara merasakannya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika John Kennedy pernah mengatakan bahwa jangan tanyakan apa yang bisa negara berikan kepada kita, tapi tanyakan apa yang bisa kita berikan kepada negara, saya rasa saya ingin bertanya kepada pemerintah dan calon pemerintah kita. Apa yang bisa mereka berikan kepada kita. Apa yang bisa mereka berikan kepada negara kita. Saya rasa sudah cukup banyak yang mereka dapatkan dari tanah dan air di bumi kita. Hak-hak dan kekayaan yang seharusnya dibagi secara merata dan dipergunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran kita di tanah air ini, begitu saja terhisap habis secara perlahan dan entah membuyar ke mana, sementara hampir separuh dari kita hari semakin hari semakin susah untuk melanjutkan hidup. Mungkin ada baiknya kita bertanya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan terus marak dan banyaknya orang-orang dan kelompok yang ingin memimpin kita, memimpin negeri kita, semuanya keluar dengan janji-janji dan kontrak-kontrak yang terbaik. Jajaran orang-orang nomor satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya pun kini mulai bergeliat dan bergerak kembali. Orang-orang yang dulunya merasa dengan bersama mereka pasti bisa, anehnya kini tak lagi merasa bisa bersama. Ya tentu saja, karena semuanya mereka lakukan dengan integritas dan empati, demi kita, demi rakyat. Segala atribut kerakyatan lalu dikeluarkan kembali. Mulai dari gambaran indah petani dan sawah, pasar dan sembako, laut dan nelayan, masyarakat miskin pedalaman, gelandangan, anak-anak jalanan, semua yang marjinal. Tanah kita dan juga kita sendiri, sepertinya terus menjadi lahan dan bahan eksplorasi dan eksploitasi sosial politik mereka. Semua berebut mengadukkan diri dalam satu kubangan. Semua itu demi apa ? Apa lagi kalau bukan demi rakyat, tentu saja. Tak jelas bagaimana mereka akan bergerak dalam peta logika yang mana lokasi faktual kita juga sepertinya tidak ada yang tahu dan mau tahu. Orang-orang yang dulunya terlihat hebat bersuara atas nama kita pun, kini juga ikut-ikutan berkubang. Hanya menyisakan sedikit saja nafas idealisme bagi kita. Sekelompok orang itu, mungkin ada juga di antara mereka yang hingga detik ini masih menjadi wakil kita pun tak kalah sibuk bersosialisasi dan membelanjakan modal dengan gila-gilaan supaya bisa dan tetap berada di gedung itu. Besarnya modal yang dibelanjakan demi pentingnya kedudukan ini luar biasa. Borjuisme dan kapitalisme yang mengindikasikan suatu hasil yang, terus terang cukup menyeramkan. Dengan pengeluaran sebesar itu, apa yang akan mereka harapkan dari kedudukan mereka kelak ? BEP dan keuntungan dengan tunjangan berlipat ganda setelahnya ? Bukan, sama sekali bukan. Semua itu murni dikeluarkan hanya demi tujuan kebesaran bangsa, untuk berbuat sesuatu demi negeri, demi kita, dan atas nama patriotisme dan nasionalisme. Heh, sudahlah.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sepertinya memang benar, di saat-saat ini, siapapun yang akan keluar memimpin dan memegang kepala negeri ini, mungkin tidak akan ada bedanya. Terlalu berat dan seperti bergantung pada sesuatu yang tidak realistis jika kita hanya akan terus menunggu dan berharap. Apa yang sedang kita tunggu ? Menunggu seseorang atau sekelompok orang ? Menunggu Ksatria Piningit ? Sampai kapan kita akan terus menunggu ?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pesta demokrasi akbar sebentar lagi akan dilaksanakan oleh kita. Bagaimana kita akan memilih ? Akankah kita berubah ? Kunokah pemikiran Tan Malaka yang telah ada lebih dari 80 tahun yang lalu, jauh sebelum kita merdeka dari senjata dan perang ? Mungkin kita bisa melihat 5 tahun lagi kedepan. Ketika saat itu tiba, mari melihat, apakah semua ini masih kontekstual dengan segala isu kerakyatan dan kebangsaan kita yang akan berkumandang di atas kita laksana tujuh lapisan langit yang tak akan pernah bisa kita capai. Jika masih, silahkan ditebak, apa yang sedang terjadi pada kita. Apa yang kita, para rakyat sedang lakukan ? Apakah kita akan dan harus terus berdemonstrasi dan berunjuk rasa ? Jangan salah sangka, saya tidak sedang menyalahkan atau melawan negara kita. Saya yang bodoh, hanya bingung. Menurut Joseph Schumpeter, demokrasi sesungguhnya berbicara tentang peran dan kekuasaan sosialitas sipil dalam menciptakan pemerintahan. Apakah kekuasaan itu hanya kekuasaan untuk memilih, mendukung, mengkritik, menggugat, atau berdemonstrasi ? saya rasa tidak sesederhana itu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;[3] Dan Kita Sendirian&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ini bukan tentang “Bersama Kita Bisa”, atau “Hidup adalah Perbuatan”, atau “Beri bukti, Bukan Janji”. Bukan pula “If there’s A Will, there’s A Way”, atau “Saatnya yang Muda Mengabdi”. Pun sama sekali bukan “Apa Kata Dunia?”, apalagi “Pantang Pulang sebelum Padam”. Kebesaran dan kedaulatan kita, saya rasa sebenarnya tak perlu semua itu. Ini adalah tentang kekuasaan kita, kekuasaan rakyat yang sebenarnya. Ini adalah tentang negeri, tentang kita sendirian.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagai manifesto individualis, saya rasa kita akan berpendapat bahwa sebagai rakyat dan warga negara, yang terpenting bagi kita adalah situasi dan kondisi negara yang kondusif, kestabilan sosial, politik, dan ekonomi, sehingga bisa mendukung kelancaran dan progresivitas usaha dan ekonomi kita sendiri. Namun dari sisi yang lebih kolektif, meskipun naif, rasanya kita juga harus berpikir bagi negeri, bagi bangsa kita, bagi sesama kita yang masih banyak berada di area yang seharusnya tak pantas bagi tangan-tangan pemegang kedaulatan. Tentang apa yang bisa kita lakukan, tentang apa yang bisa kita pikirkan dan kerjakan, untuk kehidupan kita semua yang lebih baik, untuk negeri kita yang lebih baik. Karena bukankah itu baru benar-benar kecintaan dan pengabdian sejati dan seumur hidup bagi tanah air ini ?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya berpikir, tentang bagaimana kita yang menjadi rakyat ini, bisa merebut kembali kedaulatan dan kekuasaan sejati milik kita sendiri, para rakyat, dari mereka yang selalu saling memperebutkan kekuasaan atas hajat hidup kita itu. Kita tidak perlu menjadi pelanduk di tengah kaki-kaki gajah mereka yang terus memperebutkan jatah makan kita. Saya berpikir, tentang kita para rakyat yang benar-benar bersama dalam kesendirian, menunjukkan kekuatan rakyat yang otentik, mencari kembali kedaulatan rakyat yang sesungguhnya, dari semua wilayah yang selalu terpinggirkan oleh mereka. Apa yang bisa kita lakukan ? Sebaiknya ada yang bisa kita lakukan, mungkin dari yang paling kecil, dari individu. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, demokrasi yang benar di negeri ini, bukanlah demokrasi dalam budaya figur, budaya panut-panutan, tapi demokrasi yang benar adalah kalau bisa meraih kedaulatan manusia, kedaulatan individu, dalam budaya individual, bukan budaya kelompok. Soekarno pun mengatakan, bahwa setiap kemajuan bangsa kita, akan diraih bukan oleh kelompok, tapi oleh individu. Kesatuan visi dalam dalam semangat individualitas. Mungkin itulah kemajuan yang sebenarnya, sesuatu yang perlu dimulai, dibiasakan, dan diteruskan, lebih dari apapun.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kita berhasil meningkatkan produktivitas beras, kita surplus beras, sebentar lagi kita akan ekspor beras, dan tak lama lagi, para 40 juta itu (kelihatannya lebih dari itu), kaum marjinal kita, tak akan lagi menyusahkan dirinya, tak akan lagi menghina-hina dirinya dengan berada di kolong-kolong jembatan, di rumah-rumah kardus, tak akan lagi berusaha pasrah menjadi bagian yang dikasihani, bagian yang hanya bisa mengatakan kelaparan dan maunya mengantri bantuan langsung tunai layaknya pengikut Kaipang saja, menjadi bagian yang tahunya hanya menunggu kejatuhan uang dari pohon dan bisanya makan nasi aking saja. Ya, tak lama lagi, mungkin. Soe Hok Gie pernah mengatakan begini, “Rakyat semakin lama semakin menderita. Orang-orang malang, aku besertamu”. Sangat patriotik. Namun mulai sekarang luapan semangat dan solidaritas itu sebaiknya diubah, menjadi begini, “Orang-orang malang, bangunlah, kita sendirian, bangunlah, moral kita, jangan lecehkan diri kita sendiri, karena seharusnya kitalah yang paling berkuasa di sini, di negeri ini”.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dari kolongkolong yang paling nadir, sedikit berpikir untuk negeri, untuk kita sendiri. Dan dalam ironi yang tak menentu, 5 tahun lagi, semoga tak perlu lagi dituliskan. Impian, harapan, moral, dan semangat nasionalistis para sosialis negeri ini setengah abad yang lalu yang terus bergerilya, akankah terus hidup ?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ini negeri kita, dan kita sendirian,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ardy Prasetya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-39692685569742980?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/39692685569742980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=39692685569742980' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/39692685569742980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/39692685569742980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2009/03/negeri-kita-kita-sendirian.html' title='Negeri Kita, Kita Sendirian'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-9066115461558379926</id><published>2008-11-30T00:50:00.011+07:00</published><updated>2008-12-02T00:18:49.268+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong singkawang'/><title type='text'>Pulang – Kembali dari Pergi, Bangun dari Tidur Panjang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saya pulang. 25 09 08, kembali ke tempat lama. Singkawang. Pulang ke rumah, pastinya bukan sesuatu yang luar biasa bagi semua orang. Tapi bagi saya, pulang ke Singkawang, kapanpun, seberapa lamapun, seberapa seringpun, selalu menjadi sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang spesial. Emosional. Rumah adalah tempat di mana hati berada, begitu yang digambarkan oleh CJ Snare dan Bill Leverty dalam tulisan mereka. Secara emosional saya mau tidak mau, terikat dengan tempat ini. Tempat di mana saya lahir, tumbuh, besar, berteman, bersekolah, bermain. Mungkin biasa saja, yang dikatakan sebagai kampung halaman mungkin memang seperti ini rasanya. Tapi ternyata itulah rasa yang susah dijelaskan. Susah dilukiskan. Ketika jantung serasa naik ke kerongkongan, bagaimana menjelaskannya ? bagaimana deskripsinya ? mungkin ada beberapa kata yang memang tak dapat dideskripsikan dengan baik menggunakan bahasa Indonesia. Lalu mau bagaimana ? Hanya seonggok rasa ganjil yang terpikir. Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singkawang. Ketika bertemu dengan rumah, emosional. Tempat saya dulu tinggal. Ketika bertemu dengan jalan-jalan, emosional. Tempat saya dulu melintas hampir setiap hari. Ketika bertemu dengan bangunan-bangunan, emosional. Saya pernah lihat semuanya. Ketika bertemu dengan gunung, lembah, hutan, pasir, emosional. Tempat vista selama belasan tahun terekam. Ketika bertemu dengan orang-orang, emosional. Orang-orang yang saya kenal, dulu dan sekarang. Semua orang terasa seperti dikenal, walau tak kenal. Bau kota ini, tempat ini, emosional. Pikiran dan perasaan seakan mengalami dejavu yang bertubi-tubi. Semuanya emosional bagi saya. Mungkin terasa hiperbol, tapi memang pada kenyataannya hantaman perasaan hiperbol itu yang saya rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kepulangan kali ini adalah kepulangan terakhir, yang mana pulang masih terasa seperti dulu, ketika belum meninggalkannya. Kepulangan kali ini sangat memaksa mata untuk melihat semuanya, memaksa hati untuk menghayati semuanya, memaksa raga untuk meraba semuanya, dan jiwa untuk menyerap semuanya. Diri sendiri berkata harus merasakan semua denyut tempat ini, sebelum benar-benar pergi darinya. Lebih emosional. Lalu hanya sedikit saja yang mampu tergambarkan karena memori lusuh ini tak lagi mampu menampung hantaman semuanya yang bertubi-tubi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang adalah ruko. Masih tetap sama, seperti dulu-dulu. Singkawang adalah, deretan ruko yang dihuni oleh orang-orang tionghoa. Tanpa bermaksud mengesampingkan etnis lain yang habitatnya bukan di ruko, jantung Singkawang memang dipenuhi dengan ruko seperti layaknya daging-daging babi dalam sepiring nasi campur. Memang etnis tionghoa pendatang Indonesia yang dikirim dari tanah nenek moyangnya sejak dahulu kala telah menjadikan deretan rumah baris dengan balkon, yang desain railingnya terkadang norak, sebagai habitat baru mereka. Mungkin inilah dasar dan faktor utama kuatnya budaya wiraswasta dan tradisi bisnis tionghoa di Indonesia, yang bahkan dalam tidurnya pun, tak ingin jauh-jauh dari bau uang dan peluh labanya. Ada berbagai jenis model ruko di Singkawang dari sejak zaman akhir rambut kepang setengah botak ala dinasti Manchuria yang menyeruak masuk ke sini, yang kata orang merupakan nenek moyang orang tionghoa Singkawang, hingga saat cerita ini diturunkan. Saking banyaknya mungkin sebentar lagi menyamai rekor negara dengan 17.000-an pulau yang beberapa ribu di antaranya belum bernama dan bahkan tak jelas punya siapa. Makanya dulu ada slogan KB yang legendaris, cukup 2 anak. Masalahnya kalau terlalu banyak anak, nanti bisa jadi lupa kasih nama, seperti pulau-pulau itu, bahkan lupa itu anak siapa. Sudah seperti ragam spesies burung di buku pintar fauna untuk anak SD saja. Tapi tak pernah coba disensus untuk urusan yang satu ini – model ruko, karena memang tak penting. Bagi saya yang pernah belajar dan punya sedikit bekal kearsitekturan, namun tak pernah disahkan menjadi arsitek karena memang tak bisa dan tak perlu lulus sensor ikatan arsitek, ruko-ruko di Singkawang itu terkesan, maaf, murahan, meskipun tak perlu disangkal, konstruksinya mungkin mahal. Memang ada beberapa perkembangan cukup signifikan dalam hal bentuk, tapi lagi-lagi perkembangan itu membuat semua yang berbeda menjadi semakin sama. Semakin berbeda, semakin sama. Modelnya boleh jadi berbeda, namun semangat yang diusung pastinya sama, yaitu semangat imitatif. Sampai kapanpun semangat seperti ini akan membuat sebuah barang semahal apapun, menjadi terlihat murahan. Pada akhirnya hanya menyisakan sedikit rasa geli seperti telapak kaki sendiri yang tak sengaja digaruk oleh orang lain. Memang ada ruas jalan yang sejak dulu telah menjadi daerah eksklusif, sebuah daerah di mana rumah-rumah mendapat barang sedikit, sentuhan desain yang lebih bermartabat. Namun ternyata keadaan dan tempat berbeda seperti itu juga penuh dengan kekurangan. Lain dengan deretan rumah-rumah baris tak bernyawa seni itu, yang ternyata bersemayam sebuah semangat yang telah ada sejak lama. Semangat itu adalah semangat kebersamaan dan berbagi. Bisa dipastikan, orang-orang tionghoa yang tinggal di ruko-ruko itu kenal baik dengan tetangga-tetangga mereka, dari buyut sampai cicit, bahkan sampai 7 turunan. Mereka adalah orang-orang yang sehari-harinya saling berbagi canda, berbagi tawa, berbagi suka, berbagi duka, berbagi kabar, berbagi informasi, berbagi dinding, berbagi air pam, berbagi air sumur, bahkan berbagi makanan, tapi tidak sampai berbagi suami. Semangat berbagi itu, adalah semangat yang sepertinya masih terjaga hingga saat ini, dan itu sangat sulit ditemukan di daerah rumah-rumah eksklusif tadi. Maka sepertinya kosakata desain seperti ini tak terdapat dalam segala macam teori arsitektur yang pernah saya baca. Dari Singkawang, ada sebuah pelajaran bahwa arsitektur yang baik tidak selalu berefek baik, dan tidak semua arsitektur buruk akan berefek buruk pula. Maka tetaplah tinggal di ruko-ruko. Biar murahan, tapi api semangat yang terjaga, tidak murahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang adalah walet. Dulu pernah ada satu superstisi konyol dari kalangan tionghoa Singkawang, yaitu menganggap jika ada orang yang berada di tengah jalan, melintasi pusat kota dan pulang dengan membawa pulang setitik kotoran walet di badan, yang tak sengaja terjatuhkan oleh walet-walet itu, maka orang itu adalah orang yang sedang hoki. Mungkin sekarang logikanya sudah bisa dibalik. Yaitu jika saja ada orang yang melintasi pusat kota dan pulang dalam keadaan badan dan kendaraan yang bersih tanpa sedikitpun kotoran walet, maka dia adalah orang yang paling hoki sedunia. Mungkin ini sudah bisa memberikan gambaran betapa Singkawang adalah walet. Hal ini juga didukung oleh riset setelah berada belasan hari di sana, 50%nya saya pulang ke rumah dengan 1 atau 2 tetes kotoran walet-walet tak bertanggung jawab itu. Membuat saya merasa bahwa saat itu saya adalah salah satu manusia yang paling sial sedunia. Di manakah walet-walet sebanyak itu tinggal ? saya yakin semua orang Singkawang pasti tahu. Di rumah walet pasti. Rumah walet, jika dijelaskan secara lugas dan lugu, adalah sebuah pabrik penghasil sejenis makanan yang sangat eksklusif sekaligus eksotis yang dipercaya turun temurun sebagai makanan para raja dan kaisar di Asia pada zaman dahulu kala. Percaya atau tidak, makanan itu sebenarnya adalah kumpulan ludah dari para walet yang beberapa hari itu sempat membuang air besarnya ke badan saya. Pabrik-pabrik terus bertambah. Walet, rumah walet, makanan, eksklusif, dan eksotis, di mata orang-orang tionghoa, akhirnya lagi-lagi tak akan bisa jauh dari urusan bisnis. Bisnis walet, adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Sebagai komoditas ekspor, barang ini mempunyai value yang sangat tinggi. Dan yang terpenting adalah, para buruh pabriknya, 95% adalah sukarelawan. Dan di masa-masa krisis global seperti saat ini, keuntungannya semakin terlihat. Pertama, tak perlu menggaji para buruh itu, karena mereka juga tak mengerti uang. Tak perlu uang makan, tak perlu tunjangan, tak perlu THR, tak perlu asuransi, apalagi jamsostek. Maka pebisnis walet pun tak perlu pusing untuk melakukan PHK dan memberi pesangon kepada karyawan-karyawannya yang terbang bebas di langit Singkawang sambil melempar-lemparkan bomnya ke orang-orang Singkawang yang sedang sial di bawahnya. Para sukarelawan itu. Pantas saja Singkawang penuh dengan mereka. Singkawang adalah walet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang adalah makan. Ada 1 hal pasti selama itu. Sesuatu yang secara disiplin diatur dan disiapkan sedemikian rupa seperti sedang berada di markas komando pasukan khusus militer. Ada 3 hal utama yang diatur dengan jadwal yang ketat, yaitu jadwal makan, makan, dan makan lagi. Pulang ke Singkawang, tak bisa dilepaskan dari acara makan, dan jadwalnya yang super disiplin. Baru saja makanan sarapan masuk ke perut dan belum sempat diolah oleh mesin lambung, otak di kepala sudah terprogram untuk rencana makan 5 jam lagi. Dan 12 jam lagi. Luar biasa, berpikir seperti teknologi quad core saja. Percaya atau tidak, bagi mereka yang berbadan kurus, Singkawang adalah terapi khusus untuk membuat badan terasa lebih kencang, lebih berisi. Singkawang seperti sihir. Tiba-tiba saja badan ini bisa terasa lebih berat, kaki terasa lebih pegal, leher terasa lebih kaku (dokter bilang ini merupakan salah satu tanda-tanda kolesterol akut), perut pun terasa lebih maju, sehingga pandangan mungkin bisa tertutup dan kehilangan orientasi semburan seketika waktu berada di depan urinoir. Tiba-tiba saja seperti ada batu 5 kg yang tertanam ke dalam tubuh tanpa berasa sakit bahkan tanpa disadari. Magis. Tidak variatif sebenarnya, 2 minggu dipenuhi dengan makanan-makanan seperti itu terus, berulang-ulang, bahkan bisa membuat mesin-mesin di tubuh ini tak berani lagi untuk sekedar memikirkannya saja. Bisa muntah. Tapi bikin kangen. Sebulan meninggalkannya, nafsu kembali meningkat terhadap makanan-makanan semacam itu. Aneh memang, kalau tidak mau dibilang sihir. Maka berbicara tentang makan pun adalah sebuah menu makan yang wajib di Singkawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang adalah panas. Dulu waktu kecil, ibu guru sering menjelaskan bahwa negara kita yang tropis ini punya daerah khatulistiwa, salah satu daerah itu adalah kota kita, kota Singkawang. Waktu itu, tak peduli apa artinya khatulistiwa, bagi saya nama itu adalah sebuah nama yang keren sekali, sehingga saya dengan bangganya merasa nanti kalau sudah punya anak maka saya sudah punya nama untuk mereka. Anak pertama akan bernama khatulistiwa dan anak kedua, equator. Ketika semakin besar dan tahu apa artinya khatulistiwa dan equator yang sebenarnya, rasanya seperti orang bodoh. Ketika tahu bahwa arti equatorial atau khatulistiwa jika dijelaskan secara konservatif adalah sebuah tempat di mana ubun-ubun manusia berjarak paling dekat dengan matahari, maka rasanya seperti orang idiot. Kembali ke topik panas, ngomong-ngomong masa kecil, Singkawang dulu, sepertinya tak sepanas sekarang ini. Tak tahu apa badan yang sudah bertambah umur ini tak lagi mampu menjalankan proses metabolisme dan adaptasi terhadap temperatur berlebih sebaik zaman dulu ketika mesin tubuh ini masih relatif baru. Juga tak tahu apakah temperatur yang tak seperti dulu ini berkaitan dengan mencairnya es di kutub-kutub bumi yang sering disebut-sebut sebagai dampak pemanasan global yang membuat daerah-daerah geografis termaju di bumi yang paling dekat dengan matahari seperti Singkawang menjadi semakin matang. Di sisi lain, Singkawang juga merupakan daerah lembah dan pesisir yang dekat dengan laut, sehingga cukup sudah syarat-syarat panas berlebih yang ideal bagi sebuah kota. Yang jelas Singkawang tambah panas. Dan ini mungkin menjadi alasan beberapa wanita muda Singkawang yang terlihat berpakaian sangat minim sehingga saya waktu itu merasa sangat ingin meminta supaya mereka sebaiknya tak usah pakai apa-apa saja. Karena ingin berpikiran positif, maka tentu mereka berpakaian begitu karena panas. Mudah-mudahan saja teman-teman binatang yang bertransmigrasi dari daerah Jawa beberapa waktu lalu bisa merumput dan bertahan dengan baik di kota baru mereka yang lebih panas, yang pastinya tidak mereka mengerti walaupun dijelaskan kepada mereka, masalah equatorial itu. Singkawang tambah panas. Untuk yang satu ini, apa yang bisa dilakukan. Menanam pohon ? tentu saja. Ternyata sepintar-pintarnya mengatur dan merencanakan, manusia akhirnya menyerah dan takluk juga kepada alam dan semesta yang membuat mereka semakin hitam dan gosong. Badan ini rasanya gerah. Singkawang tambah panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang adalah mistis dan takhayul. Senang rasanya, telah lama saya ingin mengatakan ini. Senang sekaligus bergetar. Singkawang, terlalu mistis. Tak sama seperti sihir dan begitu mistisnya makan dan kotoran walet di Singkawang, orang-orang Singkawang justru punya sifat percaya takhayul yang kadang berlebihan. Dari dulu sampai sekarang. Belum berubah. Memang Singkawang itu magis. Apakah ini berkaitan dengan tingkat pendidikan dengan menyalahkan tidak adanya institusi pendidikan yang memadai di Singkawang ? tak tahu. Mungkin tak mau tahu. Muchtar Lubis pernah merumuskan beberapa sifat manusia Indonesia, salah satunya bisa ditebak, manusia Indonesia masih suka percaya takhayul. Dan ini terbukti di Singkawang. Orang-orang Singkawang, sebagian tionghoa setahu saya, adalah orang-orang yang mempunyai tingkat logika di atas normal, dan sering disebut dengan istilah kerennya, paranormal. Singkawang adalah kota seribu kuil. Maka sangat tidak etis jika saya berada di sana tapi tidak pernah masuk ke satu kuil pun di sana. Suatu kali di suatu tempat itu, saya melintasi sebuah foto yang cukup saya kenal. Dan beberapa orang sedang berlutut, menyembah di depannya. Mereka adalah para konfusianis, yang menurut saya konfusianis mistis. Karena sejujurnya sampai umur saya sekarang ini, saya tidak pernah tahu bahwa ada wasiat dari Konfusius yang mengatakan bahwa dia meminta untuk disembah. Konfusius adalah seorang filsuf besar dari China. Tiga pokok ajarannya adalah moral, moral, dan moral. Mendengarkan, menghayati, dan menerapkan ajarannya lalu menjadikan kita mulai memvisikan dia sebagai seorang nabi dengan sifat-sifat kenabian yang perlu disembah adalah sesuatu yang absurd. Di manapun. Yang lebih mengenaskan dan tak adil bagi Konfusius adalah, bahwa Konfusianisme telah menjadi semacam kedok bagi semakin berkembangnya tingkat paranormalitas di sebagian kalangan masyarakat Singkawang. Sungguh tega. Segala macam tindak tanduk animisme, dinamisme, bahkan masokisme dan sebagainya banyak diasosiasikan dengan Konfusianisme, walaupun memang Konfusius juga mengajarkan tentang menghormati orang tua dan leluhur, tapi saya yakin implementasinya seharusnya tidak seperti itu. Seperti setetes minyak bawang mie instant yang disiram dengan air panas, meski tercampur, tetap terlihat bedanya, karena substansinya sama sekali berbeda. Tapi ternyata mienya enak dimakan. Apa mau dikata, semakin mistik masyarakat Singkawang, ternyata nilai jualnya semakin tinggi setiap tahunnya, seperti mie instant yang enak itu. Tak bisa ngomong apa-apa. Saya hanya bisa menghargainya sebagai sebuah perjalanan tradisi dan budaya. Dan ikut menikmatinya, merasakan gairahnya, dengan perasaan dan mindset yang tak jelas. Tan Malaka, seorang komunis, seorang marxis. Mungkin sebagian orang Indonesia menganggapnya sebagai seorang pemberontak dan kafir gila seperti pernah saya baca dalam buku-buku sejarah terbitan CBSA sewaktu SD. Doktrinasi. Maaf, Saya pikir dia hanyalah seorang idealis. Seorang pembela kaum martil dan arit, kaum buruh dan tani. Seorang nasionalis. Saya hanya ingin meminjam satu saja pernyataannya, satu-satunya yang paling saya ingat. Bahwa dunia mistis dan takhayul menyebabkan orang mudah menyerah, dan tak punya semangat juang. Apakah ini telah terlihat secara gamblang pada masyarakat Singkawang terutama mereka yang muda sehingga sepertinya malas untuk bekerja ? Saya tak tahu apakah ini harus dikatakan secara serius atau main-main. Saya bukan agnostik. Saya hanya sedang berada di persimpangan. Bermain-main di halaman kepercayaan orang lain tentu tidak sopan, sering saya melakukannya dan bersamaan dengan itu pula diusir dari halaman yang penuh dengan probabilitas itu. Dan saya tak ingin lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa. Hhhh... Lalu apapun untuk Singkawang, saya tak ingin banyak peduli, karena Singkawang bagi saya akan selalu seperti itu. Seperti dulu, ketika pertama kali membuka mata ke dunia. Saya tak perlu bangga padanya. Saya hanya perlu tahu bahwa Singkawang adalah hidup, Singkawang adalah rumah yang akan selalu seperti sedia kala seperti ketika saya meninggalkannya. Egois ? terserah. Saya hanya ingin mendapatkan kembali hidup selama semuanya masih tetap ada. Seperti kata kakak, ini adalah, sampai kapanpun, kampung halaman kita. Tunggulah, suatu hari nanti kita pasti akan kembali. Ya, suatu hari nanti, tak ingin muluk-muluk dengan membawa semangat perubahan segala, tapi cukup kembali saja. Dan untuk yang satu ini, saya tak ingin hanya ngomong saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang, adalah apa adanya. Dengan mengerti bahwa kebahagiaan dan terutama syukur yang paling besar bukanlah ketika mampu mendapatkan apapun yang diinginkan, tapi adalah ketika mampu menginginkan apapun yang telah didapatkan. Maka Singkawang adalah apapun adanya, Singkawang adalah apapun yang telah didapatkan dalam hidup. Sama seperti ketika menerima bahwa kita telah terlahir di tanah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, 06 10 08, langit sangat jingga. Tubuh ini terasa lebih berat, ditidurkan di atas bidang hijau rumput yang ikut menjingga karena junjungannya terhadap langit. Telentang, memandang ke atas. Langit Singkawang penuh dengan suara-suara kecil walet-walet yang beterbangan, yang semakin banyak, dan semakin banyak. Di iringi dengan nyanyian jangkrik-jangkrik yang saling bersahutan ke sana kemari menghasilkan suara stereo yang indah. Kiri, kanan, kiri, kanan. Jingga semakin tua. Langit yang sebenarnya semakin tak terlihat oleh mata biasa. Matahari petang itu, sepertinya dengan enggan menenggelamkan diri, lalu dengan sangat perlahan turun, bersama dengan cacahan-cacahan awan yang murung, seakan berucap, selamat tinggal, dan sampai jumpa lagi. Sampai jumpa lagi langit Singkawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bersamaan dengan lebatnya hujan di tengah hutan tropis Singkawang, dan munculnya pelangi yang anehnya bersembur muncul dari depan gunung, saya pun pergi lagi darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang, bagi sebagian urbanis, mungkin adalah sebuah pelarian kembali yang indah, dan perhentian, untuk sekedar melepaskan diri sejenak, berhenti sejenak, atau selama mungkin, dari dinamika hidup yang sebenarnya tak pernah berhenti. Tubuh ini, oleh kemajuan peradaban dan teknologi, mau tidak mau telah terisi oleh unsur-unsur sintetis yang semakin lama semakin menumpuk. Wujud-wujud aditif yang menumpuk di paru-paru, menumpuk di jantung, menumpuk di hati, menumpuk di ginjal, menumpuk di lambung, menumpuk di perut, lama kelamaan mungkin akan menggerogoti hidup itu sendiri, hingga tak lagi mampu bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang bagi saya, selalu menjadi tempat yang ideal, tempat lama, sebagai tujuan pelarian dan pencarian kembali bagi hidup. Mungkin juga tempat yang paling ideal untuk berpisah dengan dunia, waktu, dan hidup. Sependek apapun, harus ada waktu untuk itu, di dalam agenda hidup. Semua terus berubah, waktu terus berjalan, umur pun mungkin tak sepanjang dulu lagi. Seberapa panjang yang diharapkan ? apa mau hidup seribu tahun lagi ? sayang saya tak punya waktu sebanyak Chairil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini dinasti yang pendek. Besar atau kecil, untuk mengatur dan menggerakkannya, memanfaatkan dan menggunakannya, harus selalu ada rencana. Karena itu baru benar-benar hak asasi yang paling mutlak, untuk hidup yang lebih berarti. Kekuasaan manusia atas hidup ini adalah seperti seorang kaisar pada kekaisarannya, raja pada kerajaannya, sultan pada kesultanannya. Mutlak. Kesuksesan atau keberhasilan dalam hidup, entah pada kekayaan, kekuasaan, kebesaran, kepopuleran, tak peduli kita ingin membawanya ke mana, harus selalu ada visi ke depan. Bahkan untuk menjadi miskin dan bodoh pun, harus ada visi dan rencana, untuk bisa berhasil mencapai kemiskinan dan kebodohan itu, tapi ngomong-ngomong siapa yang mau. Tak peduli kita ingin membawa hidup ini ke mana, selama nafas masih terus tersambung, harus selalu ada visi dan rencana. Ke depan. Besar ataupun kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk Singkawang, akan selalu ada rencana dan harapan yang terbayang di otak dan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika waktunya sampai nanti, ketika tua nanti, saya ingin mempunyai sebidang tanah di hutan di Singkawang. Di daerah Pajintan mungkin. Tempat kelahiran ayah. Dan harus di hutan, untuk mendapatkan bayangan itu. Membangun sebuah rumah kayu, harus dengan arsitektur yang benar dan baik. Di sana saya akan tinggal dengan istri saya, yang juga pastinya sudah tua, tapi tetap cantik, seperti ketika pertama kali bertemu. Juga anak, jika ada. Rumah, dan sebidang kebun kecil, untuk istri saya, menanam tumbuh-tumbuhan ala kadar saja. Ketika tak lagi bekerja, lepas dari segala peradaban dan dinamika hidup yang membosankan. Setiap hari saya akan ke hutan mencari sayuran-sayuran hutan, bebas pestisida, memancing ikan, udang, kepiting, labi, bebas bahan-bahan artifisial. Pulang di rumah, ada istri yang akan memasaknya. Dan saya akan berusaha membantunya, kalau tak capek. Lalu kami makan bersama-sama. Sampai kenyang, lalu tidur. Dan besoknya begitu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali mungkin saya akan ke kota, melihat sampai sejauh mana teknologi manusia telah berkembang. Dan tentu saja, bertemu dengan teman-teman yang mungkin masih di sana, yang juga pastinya sudah tua, dan mungkin sudah kaya raya. Semoga. Melepas lelah, walau tak pernah lelah lagi. Menunggu, menghabiskan sisa umur. Sampai waktunya tiba pun, saya ingin menggali kuburan sendiri, bersama dengan istri. Mungkin di dekat sawah dengan pohon kelapa, dengan aliran sungai yang masih jernih garis-garisnya, mengalir langsung ke muara. Membelakangi gunung, menghadap laut. Di sana saya akan diam dengan istri saya. Sampai takdir yang tak berbatas. Tak masalah jika anak kami tidak akan menyembahyangi kami, tidak membakar uang-uangan untuk kami, tak menyiram air untuk kami, tak memasang bunga untuk kami. Kami tak ingin merepotkan mereka. Hidup ingin benar-benar kembali ke dasar, dan kali ini akan berhenti, berhenti untuk selamanya. Dan begitu saja dunia kami, semuanya akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan telah ada. Dan tentu saja, semoga Singkawang, dan semua itu masih tetap ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sastrawan China, Lin Yu Tang pernah berkata, bahwa seorang perantau biasa adalah perantau yang tak tahu ke mana ia akan pergi, dan seorang perantau hebat adalah perantau yang ternyata, bahkan tak tahu dari mana ia datang. Seorang perantau. Tapi tak tahu apakah sebagai seorang perantau, Lin adalah termasuk yang biasa atau yang hebat. Lalu sampai kapanpun, saya akan memilih menjadi seorang perantau yang biasa saja, karena saya akan selalu ingin tahu dari mana saya datang, hingga saya bisa tahu bahwa ke sanalah saya akan pulang. Sejak rumah adalah tempat di mana hati ini berada, maka ke sanalah kita akan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai waktunya nanti, kita akan pulang, pulang ke rumah, ke tempat di hati, tempat tersimpannya sejuta kenangan, tempat di mana ada keindahan yang paling sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Singkawang, pulang, dan hidup yang lebih berarti,&lt;br /&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-9066115461558379926?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/9066115461558379926/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=9066115461558379926' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/9066115461558379926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/9066115461558379926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/11/pulang-kembali-dari-pergi-bangun-dari.html' title='Pulang – Kembali dari Pergi, Bangun dari Tidur Panjang'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-588257750777304840</id><published>2008-07-23T21:15:00.005+07:00</published><updated>2008-12-10T04:12:12.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong arsitektur'/><title type='text'>Arsitektur Nir-IDE [Beta]</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdIS8aRsuI/AAAAAAAAAFo/qVP-2MKbmBs/s1600-h/01.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226225382877934306" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdIS8aRsuI/AAAAAAAAAFo/qVP-2MKbmBs/s200/01.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah saya perlu desain ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya perlu konsep ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya perlu teori ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya perlu ide ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Nir-IDE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba menjawab pertanyaan yang selama ini selalu mengiang dalam kekinian (contemporary), tentang kebutuhan akan arsitek, tentang perbedaan antara rumah yang didesain oleh arsitek dan rumah yang tidak didesain oleh arsitek. Mencoba mengosongkan pikiran, mencoba mengawamkan diri, mencoba untuk putus. Mencoba untuk mendesain rumah yang tidak  didesain oleh arsitek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontemporer artinya ? Rumah kontemporer artinya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai non-arsitek, mungkin saya tidak perlu tahu tentang apa itu kontemporer dan rumah kontemporer. Tentang bagaimana rumah kontemporer itu semestinya. Tentang teori dan sejarah panjang arsitektur modern dan kontemporer yang seharusnya seperti. Yang perlu saya tahu adalah tentang kepuasan yang saya peroleh dari apapun yang saya hasilkan. Untuk saat ini (contemporary), yang saya perlukan hanyalah rumah hasil dari saya yang bisa memenuhi kebutuhan saya, fisik maupun psikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan bahwa animo masyarakat terhadap perkembangan dunia arsitektur dewasa ini (contemporary) cukup besar. Lalu mungkin perlu dipertanyakan, apakah animo terhadap dunia arsitektur diikuti dengan animo terhadap arsitek ? apakah animo terhadap dunia kuliner diikuti dengan animo terhadap para koki ? ataukah sebenarnya orang hanya ingin tahu tentang rumah dan bagaimana cara memasaknya tanpa perlu tahu apakah mereka perlu kokinya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dijual oleh arsitek ? arsitektur ? gambar ? ide ? konsep ? desain ? semua yang sekilas mungkin terdengar dan terlihat semudah membalikkan telapak tangan. Sementara sebagian arsitek masih bergelut dengan definisi arsitekturnya sendiri-sendiri, sudah ada orang non-arsitek yang berpendapat bahwa mereka bisa menggambar sendiri, bisa mendesain sendiri, bisa berkonsep sendiri, bisa beride sendiri. Apakah saya perlu orang lain untuk punya ide, konsep, desain ? lalu jika kata “orang lain” diganti dengan kata “arsitek”, maka apakah saya perlu arsitek untuk punya ide, konsep, desain ? Apa harus menjual diri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan banyaknya buku-buku, majalah-majalah, tabloid-tabloid arsitektur masa kini (contemporary) yang memberi tahu saya bahwa rumah enak itu mudah dimasak, apakah saya perlu orang lain untuk memasak rumah saya sendiri yang terkini menurut saya sendiri dengan keinginan dan aturan saya sendiri, dengan ide saya sendiri, dengan konsep saya sendiri, dengan desain saya sendiri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu untuk saat ini (contemporary), apa beda rumah dengan arsitek dan rumah tanpa arsitek ? Dan saat ini, apa yang dimaksud dengan rumah kontemporer ? Seiring  perkembangan teknologi, kehidupan, dunia di segala bidang yang semakin menggila, dari dua itu, yang manakah yang hanya akan menjadi kontemporer dan yang manakah yang benar-benar akan menuju keniscayaan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu kontemporer ? Apa itu rumah kontemporer ? Apakah saya perlu tahu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Nir-Ide. Mencoba bergerak dari arah yang lain, mengambil satu adegan pendek dari proses panjang, dari tak ada lalu ada, untuk mencari jawaban dari perbedaan itu. Tak ada ide. Memang benar kata Lao Tse, semuanya hanya berawal dari sebuah kekosongan. Yang kemudian dibatasi oleh 6 bidang. Lalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, di sebuah toko buku bertengger sebuah buku baru yang turut meramaikan dunia arsitektur. Best seller. Judulnya, “Membangun Rumah Tanpa Arsitek”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya perlu arsitek ?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari dalam emosi dan ketidaktenangan,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdIS2RnzYI/AAAAAAAAAFw/ziaTfmj8dCE/s1600-h/02.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226225381231021442" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdIS2RnzYI/AAAAAAAAAFw/ziaTfmj8dCE/s200/02.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[formula]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdIS1-5cSI/AAAAAAAAAF4/a42VV3D7qnE/s1600-h/03.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226225381152485666" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdIS1-5cSI/AAAAAAAAAF4/a42VV3D7qnE/s200/03.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[roof-block plan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdITDvbSjI/AAAAAAAAAGA/LLxXBvVRo6U/s1600-h/04.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226225384845691442" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdITDvbSjI/AAAAAAAAAGA/LLxXBvVRo6U/s200/04.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[floor-1st]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdITPZFYNI/AAAAAAAAAGI/ESHPHvw5_FA/s1600-h/05.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226225387973206226" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdITPZFYNI/AAAAAAAAAGI/ESHPHvw5_FA/s200/05.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[floor-2nd]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdH3cz8F0I/AAAAAAAAAFA/UZirrvaU9rM/s1600-h/06.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226224910539167554" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdH3cz8F0I/AAAAAAAAAFA/UZirrvaU9rM/s200/06.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[section-A]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdH3ijSSZI/AAAAAAAAAFI/9IPHQJNWAdk/s1600-h/07.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226224912079931794" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdH3ijSSZI/AAAAAAAAAFI/9IPHQJNWAdk/s200/07.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[front-night]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdH3xo3i6I/AAAAAAAAAFQ/5sPH4-iVlFc/s1600-h/08.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226224916129876898" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdH3xo3i6I/AAAAAAAAAFQ/5sPH4-iVlFc/s200/08.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[pool-south]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdH4JphAhI/AAAAAAAAAFY/JzlA_wWbtUc/s1600-h/09.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226224922575045138" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdH4JphAhI/AAAAAAAAAFY/JzlA_wWbtUc/s200/09.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[pool-north]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdH4Y4L80I/AAAAAAAAAFg/gFk8LLZ0Sy8/s1600-h/10.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226224926663111490" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdH4Y4L80I/AAAAAAAAAFg/gFk8LLZ0Sy8/s200/10.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[living-night]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-588257750777304840?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/588257750777304840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=588257750777304840' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/588257750777304840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/588257750777304840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/07/arsitektur-nir-ide.html' title='Arsitektur Nir-IDE [Beta]'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_oj3dJatBqms/SIdIS8aRsuI/AAAAAAAAAFo/qVP-2MKbmBs/s72-c/01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-7815397863521556890</id><published>2008-02-03T23:18:00.000+07:00</published><updated>2008-02-04T08:47:23.643+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong singkawang'/><title type='text'>Singkawang Itu (Part 2)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sejuta kenangan manis itu, hanya sedikit yang mampu diingat jelas, sampai kapanpun akan tetap menjadi cerita tentang hidup yang begitu berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada hari-hari biasa berikutnya yang berlalu dan lalu, dalam sebuah bus kota yang pengap dengan wajah-wajah yang tertekan oleh kesehariannya, ketika sedang duduk terdiam dalam keramaian itu, dalam keberhentian terpaksa yang lama dan luar biasa, sampai pada sebuah palang pintu kereta api. Kebetulan saat itu sedang duduk di bagian belakang bus, di antara bunyi deru kendaraan dan klakson yang keras dan seperti saling bersahutan dalam bahasa lain yang tak dimengerti, hanya diam. Dalam diam itu, terdengar suara dari tempat duduk sebelah, seorang ibu sedang bercengkerama dengan anaknya yang berumur sekitar 5-6 tahun. Terdengar ibu itu berkata, “ Tuh nak, ayo lihat kereta api mau lewat “, anaknya menjawab, “ Mana Ma ? tidak keliatan “. Ibu, “ Coba Mama gendong, nah keliatan gak, Tuh dah mulai lewat “. Terdengar suara gesekan roda-roda mekanik kereta api dan sentuhan pilu dengan relnya. “ Ma, gak keliatan Ma ! “, kata anaknya, lalu Ibunya menjawab “ Itu ada suaranya, dengar gak ? itu ada suara pluitnya, dengar gak ? “, Anak, “ dengar Ma… “ …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Maka dengarkanlah… “ tak diduga suara dalam diam itu ternyata membawa lamunan kembali ke dalam kenangan-kenangan tentang Singkawang, dalam fenomena dan wujud yang tak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada kenangan-kenangan yang telah lalu, keluar dari lamunan yang tertuliskan ketika timbul, dan terlupakan ketika tenggelam. Merepotkan, kenangan yang belum juga mampu dihabiskan dalam kata-kata itu, kadang timbul, kadang tenggelam. Kenangan-kenangan yang kini terasakan telah lebih dari sekedar ingatan akan Singkawang, tapi kenikmatan yang tak berwujud, tak berbatas masa, tak berbatas ruang dan waktu, tak berbatas personal, kenikmatan dalam indera yang dirasakan lebih dari sekedar materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati Singkawang, terpikirkan bukan hanya melalui sesuatu yang bersifat material, seperti berbagai makanan-makanannya, jalan-jalan sorenya, hutan-hutannya, sungai-sungainya, pantai-pantainya, tahun-tahun barunya, festival budayanya. Tapi lebih dari itu, wujud-wujud yang immaterial. Bau, rasa, gairah, suara, angin, bunyi, suasana, kebiasaan, dalam detail, semua yang abstrak dan tak konkret, semua yang tak terlukiskan, tapi terasakan, terlamunkan, terkhayalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di sini merasakan sama seperti ketika berjalan di hutan-hutan di sana. Mayat-mayat daun oval dan meruncing coklat tua terus berjatuhan dari pohon-pohon yang tingginya mencapai 30 kaki membayangi hampir semua bagian tanah. Di antara celah celah pohon itu, menerawang cahaya yang terasa hangatnya pada bulu-bulu tangan. Gesekan-gesekan daun dengan daun, daun dengan ranting, daun dengan batang, dan jatuhnya daun menjejak ke tanah. Sesekali angin bertiup menyusuri tanah menyibak daun-daun itu dari kulit tanah dengan bunyi serak terseret. Kicauan-kicauan burung-burung hutan. Semua yang terdengar dan terasa biasa ketika di sana malah tidak biasa ketika tak lagi di sana. Setahun, dua tahun, lima tahun, bunyi dan rasa itu adalah kenikmatan yang membawa kembali pikiran kepada Singkawang, meski tak sedang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan secangkir kopi pun, terasakan lain. Bangku-bangku kayu coklat panjang tanpa pelitur, terasa licin di tangan, berkilau di mata, kadang-kadang bau kayu lembab di hidung. Licin dan berkilau karena telah sekian lama terduduki, lembab dari titik-titik air yang menetes dari teritis-teritis atap daun rumbia, meresap melalui celah-celah ujung kayu bangku dengan gurat-gurat pecah dari pasak-pasaknya. Suara-suara dalam dialek khas yang terdengar, cangkir-cangkir dengan alas piring besi yang saling menyahut berbunyi. Bunyi-bunyi bidak catur gajah, bulat silinder dengan diameter 1.5 inci dan ketebalan 0.5 inci padat berukir, bertuliskan aksara-aksara cina, yang dihentakkan dengan begitu kencang ke papannya. Asap-asap putih yang melayang landai begitu saja melintas di hidung membawa aroma rokok lintingan kertas yang kental kadar tembakaunya. Di antara uap, asap dan hentakan-hentakan itu, dari agak jauh terdengar, mungkin dari dalam rumah, mungkin dari radio tua, mungkin pemutar kaset bersejarah, suara nyanyian yang agak tinggi melengking khas tiongkok klasik dari penyanyi wanita yang lagu-lagunya sudah sangat terkenal di sana. Bersamaan dengan bau kafein yang lewat di atas bibir, samar-samar sepertinya terdengar lagu Sedap Malamnya yang akrab di telinga. Bau kopi di Singkawang tidak lain, tapi begitu pada suasananya, suaranya, bunyinya, nyanyiannya, bau meja bangku kayunya, lintingan-lintingannya, asapnya, cangkirnya, caranya, kebiasaannya, tradisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi panci-panci yang dibuka-tutup, bunyi mangkuk-mangkuk yang dirapikan, suara-suara beberapa yang terasa sudah sangat dikenal, meski tak kenal. Ketika semangkuk bakmi yang datang, bukan kepada bakminya yang berukuran kecil dan krem, atau dagingnya yang merah atau coklat, kuahnya yang berminyak. Tapi kepada bau bawang putih yang kental pada kuah, bau seledri bercampur bau alami kecambah yang begitu saja terangkat bersamaan dengan asap yang mengepul dari permukaan mangkuk, semuanya terasakan. Karena ini benar-benar bakmi, bukan bakmi ayam. Lalu terdengar bunyi pentungan bambu dari depan, seketika lamunan berpindah kepada bunyi gesekan dan tumbukan antara wajan dan spatula besi, hangatnya minyak menyergap ketika tetes-tetes air menyentuh sisi wajan yang panas, dengan asap mengudara dan mendekati tubuh. Bau asin kedelai yang masih asli terasa ketika sepiring kwetiau goreng yang telah selesai diadu di antara wajan dan spatulanya, disorongkan ke atas meja. Bunyi-bunyi pukulan bambu dan wajan dari sorongan gerobak terlewati. Ini berbau asin, tidak manis. Oh iya, dan ini kwetiau, bukan kwetio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berjalan di atas pasir-pasir pantai-pantai, debur-debur bunyi ombak yang terdengar seperti nafas yang dikeraskan volumenya, yang dengan malas dan tak berdaya menampar pelataran pasir-pasir yang berusaha dipanjatinya tanpa batas waktu. Bau asinnya udara yang lembut begitu saja tercium. Dalam jalan di bawah bayang-bayang yang biasa ketika ada dan tak biasa ketika tak ada, biji-biji cemara lonjong sekitar 1 inci yang begitu saja jatuh mengenai badan, dari dahan dan rantingnya yang menahannya dalam tarikan selama ini. Jutaan butir-butir pasir itu pun tercampur dalam adukan seperti sudah biasa dengan hijaunya rumput-rumput liar yang merambati dan mengikisnya ke dalam dan kaki-kaki yang berjalan merasakan sela-sela licin dan halus di antara tekstur kasarnya, kadang berniat ingin menggalinya. Angin yang menerpa begitu saja bahkan membuat rambut tak pernah bisa menempel di dahi. Teriakan-teriakan menggema camar laut yang sudah biasa, dalam sepi. Oh, tentu saja, yang membuatnya berbeda, bahwa dia tidak ekspresif, dia diam tak bergerak, seolah termakan oleh nafas tidurnya. Atmosfer ketika berjalan di antara batas basah dan kering, antara batas panas dan dingin, membuatnya terasa seperti tak berjiwa, tapi itulah jiwanya. Dan tentu saja, di sana ada ingatan. Dia kesan yang pertama dari dunia, sama seperti pertama kalinya anak itu mendengarkan kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun begitu ketika sama-sama merayakan tradisi Festival Musim Semi di sini dan di sana. Ketika kini lebih dekat dan dikatakan lebih besar memaksa pikiran seakan tidak ada waktu untuk tidak memikirkannya. Telinga menangkap derap-derap kaki-kaki kecil bersepatu baru yang terus berlarian dari gang ke gang, disertai dengan celoteh kegembiraan yang sepertinya sudah akrab. Tak terasa, itu sudah lama ditinggalkan. Kertas-kertas berwarna merah dengan bentuk-bentuk kasar tidak beraturan bertaburan begitu saja dari rumah ke rumah. Terekam kegembiraan, senyuman dan tawa baru diledakkan semalam. Sisa-sisa kabut darinya, yang dulu tak terasa enaknya dalam nafas, kenapa sekarang baru dipikirkan bahwa itu yang tak lagi dirasa. Dan itu pun sudah cukup lama ditinggalkan. Lalu pada waktu siang dan malamnya dengan manusia-manusia merah yang ramai bergerak dalam suasana yang juga merah, kelompok, berpasangan dan tunggal, muda dan tua, dari jalan ke jalan. Aura semangat yang tak terlihat tapi terasakan temperaturnya dari bibir-bibir yang melengkung turun dan raut-raut muka yang mengerut naik. Hanya dari itu. Ketika di sini makan dan minum. Dan di sana pun makan dan minum. Tapi ini tak sama. Di sini sudah banyak. Bebas, namun tanpa gairah, bisa makan, namun dengan mata yang terasa terpaku turun ke pipi dan kerongkongan yang seperti tersekat karena kekosongan perasaan, ditemani bangku-bangku multipleks yang diduco mengkilat tersapu oleh gerakan-gerakan sekitarnya, yang lapang-lapang saja tanpa ada yang akan menduduki di hari ini pun besok. Hampir tak ada di sini, sebanyak apapun, berbeda. Karena di sana, lebih dari apapun, sudah hadir wajah-wajah yang lebih dari kata cukup. Makanan dan minuman yang biasa. Tapi tak terasa biasa. Sedikit tapi tak terasa sedikit. Karena tangan-tangan yang menjamahnya mampu membuat hati dan jantung bergairah sampai terasa naik ke bahu. Lalu terus saja begitu sampai 10-15 kali perputaran cahaya kemudian. Lebih dan berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa lagi. Mungkin belum habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Singkawang akan terasa lebih dari sekedar Singkawang, seperti ketika bergerak tidak lagi terasa bergerak, berjalan tidak lagi terasa berjalan, ketika berbicara tidak lagi terasa berbicara, menulis tidak lagi terasa menulis, hingga dengan sendirinya akan terasakan, lebih dari sekedar semua yang tak tergambarkan, tak terceritakan, mungkin juga tak tertuliskan. Ini bukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang itu, dlihat, didengar, diraba, dibaui, dirasakan. Singkawang itu, ah sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan itu, seperti kata Louis Armstrong dalam suara beratnya, bukan apa yang dikatakan, tetapi bagaimana cara mengatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lamunan tak berbatas, tiba-tiba kedua lengan merasakan tusukan-tusukan dingin yang sudah lama tak ada, berbau khas sedikit asam, yang mendadak. Semua terasa pusing, berputar lagi menuju kenyataan yang kadang tak semanis juga sepahit mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sadar, ternyata, Jakarta turun hujan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih, ketika lama tak lagi terasa Singkawang,&lt;br /&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-7815397863521556890?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/7815397863521556890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=7815397863521556890' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/7815397863521556890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/7815397863521556890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/02/singkawang-itu-part-2.html' title='Singkawang Itu (Part 2)'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-6024815636910736632</id><published>2008-02-03T11:37:00.000+07:00</published><updated>2008-02-03T11:38:38.688+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong arsitektur'/><title type='text'>Setelah Mencicipi Arsitektur – Idealisme dan Moralitas</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Setidaknya sudah mencoba ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berbicara tentang idealisme, sepertinya tidak selalu berhubungan dengan pesan moral. Kapitalisme juga ideal jika dilihat dari kacamata kapitalis. Komunisme juga ideal kalau dilihat dari kacamata komunis. Pembunuhan juga ideal kalau dilihat dari kacamata pembunuh. Tapi apakah ada pesan moral di dalamnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita hanya mengatakan bahwa sekarang kita berhadapan dengan uang, lalu apakah idealisme kita selalu lebih bermoral dari uang ? Contoh, sekarang yang kita inginkan dalam desain kita, kita ingin membuat air terjun buatan pada dinding rumah klien supaya suhu bisa diturunkan, supaya dindingnya terlihat dinamis. Tapi klien kita tidak mau, karena itu menurutnya tidak efisien, atau maintenancenya susah, atau klien hanya bilang “tidak bagus”, lalu karena mereka yang pegang uang, jadi tidak direalisasikan. Lalu jika memang kreatifitas / desain kita yang kita bilang ideal benar-benar dilaksanakan, apakah desain kita langsung membawa pesan moral ? jika klien tidak ingin, apakah lalu kliennya jadi tidak bermoral ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau contoh kedua, sebuah bangunan desain kita, kita ingin bermain-main dengan cahaya, idealnya bangunan dibengkokkan sedikit di tengah-tengah, sehingga cahaya matahari yang masuk membentuk sudut yang berubah-ubah setiap jam, dan itu memang ideal. Lalu ternyata klien juga suka. Lalu karena mereka megang uang jadi, dilaksanakan ide kita itu, lalu apakah langsung bangunannya jadi membawa pesan moral ? pesan moral apa yang ingin kita sampaikan dengan membengkokkan bangunan kita ? pesan moral apa yang ingin kita sampaikan dari idealisme kita itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah kita selalu lebih bermoral dari klien kita ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dan selalu, perlu diperjelas idealisme seperti apa yang membawa pesan moral yang dimaksud itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab terhadap lingkungan alam dan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika moralitas adalah tanggung jawab arsitek dan arsitekturnya terhadap lingkungan dan ruang sosialnya, saya jadi merasa agak munafik dengan semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keranjang rotan hasil dari desain produk atau selembar poster hasil dari desain grafis merupakan realisasi atas ide dasar manusia. Semua terealisasi mungkin hanya dengan biaya 50 ribu rupiah per product, hitung-hitung 100 ribu rupiah dengan perhitungan kebutuhan tenaga dan energi per satu product, bahkan bisa kurang. Dan itu realisasi ide, dan hanya realisasi ide, bukan perbanyakan, pabrikasi, dan sebagainya. Hanya realisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di arsitektur, realisasi ide dasar juga terjadi, tapi apakah cukup dengan 100 ribu rupiah per product ? seidealis apapun desain kita, seramah apapun desain kita, sesehijau apapun desain kita, seadem apapun desain kita, seberkelanjutan apapun desain kita, apakah kita masih pantas berbicara tentang moral ? Ketika daerah-daerah hijau dibabat habis, ketika daerah-daerah serapan dikorbankan, ketika begitu banyak biaya, tenaga, energi dihabiskan, hanya untuk merealisasikan satu product ide dasar manusia yang disebut arsitektur meski dengan embel-embel sustainable, atau arsitektur hijau, atau hemat energi, apa mungkin masih pantas kita berbicara tentang moral ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah cukup kita mengganti dengan taman dan area hijau di bangunan kita, untuk semua hutan yang kita babat ? apa cukup kita mengganti dengan bangunan hemat energi untuk semua energi tak terdaur yang telah kita hisap ? apakah cukup kita mengganti dengan sumur-sumur resapan untuk semua daerah resapan yang kita injak-injak dan perkeras meski dengan iming-iming bukan perkerasan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaya dan miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu arsitektur adalah mainan orang kaya, bukan berarti tak tersentuh orang miskin maka mereka lebih ramah lingkungan dari orang kaya. Tapi mungkin persentase keramahan lingkungan mereka lebih besar dibanding orang kaya. Kita belum tahu jika orang miskin sudah jadi orang kaya. Mungkin memang benar kita telah berusaha bertindak sustainable atau berusaha mengurangi konsumsi energi atau berusaha berpikir dalam ruang sosial, tapi dalam realitanya, apakah benar kita tidak sedang menutupi badan serigala kita dengan bulu-bulu domba ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kita kenal masih ada arsitek-arsitek idealis environmentalis yang memperhatikan keberlangsungan ekosistem dan konteks sosial dalam desainnya. Katakanlah Mangunwijaya, atau Adi Purnomo, Ken Yeang, lalu siapa lagi ? memang masih ada, tapi seberapa besar pengaruh keberadaan mereka di belantara arsitektur yang demikian besar ini ? seberapa besar efek tanggung jawab moral mereka terhadap lingkungan, tanah dan bumi yang sedemikian luas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ketika mendengar pujian-pujian arsitek-arsitek lokal kepada Louis Kahn, Tadao Ando, Oscar Niemeyer, Richard Meier, dan lain-lain, apakah pujian mereka terutama terletak pada moralitas dan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan ? yang paling menarik untuk dibahas pastinya iramanya, proporsinya, feelnya, monumentalismnya, fleksibilitasnya, tekstur materialnya, campuran betonnya, sambungan elemen2nya, permainan cahayanya. Mereka memang idealis, tapi apa pesan moral dari idealisme mereka yang bisa tersampaikan ? lalu apa tanggung jawab moral mereka terhadap lingkungan atau masyarakat, yang bisa dijadikan pelajaran ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip Johnson berkata, “ architecture is an art of wasting space ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kadang ada yang berpikir, sebaiknya semua ini dimulai dari diri sendiri, setidaknya saya tidak ikut-ikut arus kapitalisme yang membangun membabi buta, setidaknya desain saya pro dengan lingkungan, pro dengan masyarakat marjinal, paling tidak sudah ada usaha, kalau saya tidak memulai dari diri sendiri, mau tunggu siapa ? jika tidak sekarang, kapan lagi ? mungkin ini memang solusi yang terbaik, saat ini, bukan yang terakhir. Paling tidak kita tidak dengan sengaja membohongi diri kita sendiri, meskipun kita sedang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sah-sah saja jika arsitek dikatakan sebagai salah satu perusak lingkungan terparah, idealis ataupun tidak idealis. Dan saya tidak banyak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Graves : “ I don’t believe about morality in architecture “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang memang terasa naif, seperti menjilat ludah sendiri. Alah mak, cuma datang untuk mencari sesuap nasi saja kok jadi seperti ini, apa sebaiknya belajar cara-cara korupsi yang cepat dan tepat saja daripada mengurus tentang moralitas, jadi calon arsitek begini. Cari makan saja susah. Jadi untuk saat ini saya hanya bisa bilang, “ I don’t really give a shit about morality in architecture, yet “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kata untuk kerongkongan dan angan-angan arsitektur besar yang ideal bagi lingkungan dan ruang sosialnya, pahit dan munafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip Johnson : “ architects are pretty much like the high class whores ”&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di ambang kelacuran diri,&lt;br /&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-6024815636910736632?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/6024815636910736632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=6024815636910736632' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/6024815636910736632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/6024815636910736632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/02/setelah-mencicipi-arsitektur-idealisme.html' title='Setelah Mencicipi Arsitektur – Idealisme dan Moralitas'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-3749474558832418421</id><published>2008-02-03T01:06:00.000+07:00</published><updated>2008-02-03T01:10:36.643+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong singkawang'/><title type='text'>Bangun Singkawang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;[1] DENGAR-DENGAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar-dengar Singkawang udah ada lampu lalu lintas, bilang aja di Singkawang udah ada lampu merah, tapi bukan nama koran. Singkawang sudah maju. Mungkin kendaraan-kendaraannya roda 2, roda 3, roda 4, roda 5, roda 6, roda 12 udah banyak, gak seperti dulu, kalau nyeberang jalan, tinggal lihat kiri kanan, terus lari sekuat tenaga, atau jalan pelan-pelan sambil lambai-lambai tangan. Singkawang sekarang sudah maju. Memang udah saatnya ada lampu merah, biar keren. Walet-walet juga sudah tambah banyak. Apa barangkali lampu merahnya juga bisa difungsikan buat walet supaya gak sembarangan terbang sehingga terjadi kecelakaan di udara ? tapi dengar-dengar lagi banyak orang yang ngelanggar lampu merah, katanya gak disiplinnya jadi kelihatan, jadi ketahuan belangnya. Tapi, jangan heran lah, namanya juga barang baru, ya masih kagok pakainya. Tahu-tahu hijau berhenti, merah malah jalan. Namanya juga barang baru. Masih adaptasi. Lagian semua kota yang nama belakangnya pakai “Indonesia” kan kayak gitu. Kan ngikut ibukota. Kota besar. Orang ibukota aja ngelanggar, padahal udah berpuluh tahun pakai lampu merah, masih juga kagok. Lagian lagi belum ada yang nangkap-nangkapin, nanti kalau ada kan bisa takut sendiri (maksudnya takut keluar duit damai), kayak dulu pakai helm besar, sampai sport jantung dikejar-kejar kalau ketangkap basah gak makai. Lagian orang Singkawang kan bakal tahu diri, Singkawang kan udah maju, ngelanggar lampu merah, kayak orang kampung aja. Barangkali, Singkawang sudah maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar-dengar Singkawang mau dibangun dengan investasi asing. Bilang aja akan ada orang mau bangun pabrik di Singkawang. Entah itu pabrik sepatu, pabrik asinan, manisan, pabrik terigu, perusahaan rokok, kontraktor seperti Total. Singkawang sudah maju. Mungkin nanti bakal banyak pabrik di Singkawang, kayak Cikarang. Tidak kayak dulu lagi, di mana-mana hutan, orang-orangnya kayak orang utan primitif aja, lalu-lalang di jalan gak pakai baju. Sekarang malu kalau-kalau dilihat ama investor berjas pakai dasi wangi parfum bawa Mercy. Gak pakai baju ? malu lah. Tapi Singkawang juga makin panas. Gimana nggak, kata Al Gore, es di Kutub sudah mencair saking panasnya bumi ini. Apa jadinya daerah Khatulistiwa ? (itu kan jelas-jelas ada hotelnya, kalau gak salah di Jalan Ponegoro-nama pahlawan). Pakai jas dasi ? apa gak panas ? Kan ada AC. Kan udah dibilang Singkawang udah maju. Nanti lapangan kerja pun jadi banyak. Kalau dulu mancing batok, bikin hakoi, jualan bubur, sekarang kan bisa nyoba lamar jadi programmer, staf marketing, jadi pegawai inventory, operasional, maintenance, syukur-syukur bisa jadi manager, direktur cabang. Mumpung belum pakai robot, kayak Willy Wonka. Barangkali, Singkawang sudah maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar-dengar orang Singkawang banyak yang berhasil di luar. Bilang saja… Kalau di Jakarta, orang Singkawang sudah jadi penguasa Kerendang Jembatan Lima, penguasa Metro Tanah Abang, penunggu Pasar Pagi Mangga Dua. Orang Singkawang sudah maju. Tidak seperti dulu lagi. Orang-orang tua duduk-duduk kongkow di warung kopi sambil makan pisang goreng srikaya, nasi putih ama holansujap makhikoi (kayak lagu Obeng), anak-anak kecil nangkap ikan di got, main kelereng, kejar-kejaran, petani-petani cuma bisa jualan durian dan rambutan di pasar. Kata orang itu udah gak zaman. Sekarang zamannya olahraga daki gunung di Kulor, aerobik, cha-cha, bisnis walet, kelapa sawit, main futsal, petani jualan bunga hias kayak Anthurium yang harganya selangit, makan Tomyam dan Padthai, KFC, Burger dan Steak, main PS 3, ke Fun Station. Kelereng ? malu-maluin. Barangkali, Singkawang sudah maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar-dengar di Singkawang sekolah gratis SD, SMP sampai SMA, sayang belum ada universitas, kalau gak kan kuliah juga gratis. Tapi udah mau dibangun, tenang aja. Nanti kuliah juga bisa gratis. Sekolah tinggi ? ngapain ? dari dulu juga gitu-gitu aja. Udah ketinggalan zaman. Sekarang zamannya uni-unian, biar maju. Singkawang kan udah mau maju, masa dari dulu kayak gitu-gitu aja. Nanti Singkawang udah maju masa gak ada universitas ? kota maju gak ada universitas, kapan baru bisa maju ?masa nanti anak-anak mudanya lulusan sekolah menengah semua ? yang ada malah pada pergi kuliah ke luar gak pulang-pulang, bangun kota orang lain, kota sendiri dilupakan. Kapan Singkawang mau maju ? atau kapan Singkawang sudah maju ? Anak-anak muda Singkawang sekarang juga udah keren-keren pakai baju 126 yang ada blink-blinknya, lengan panjang digulung sedikit, kayak artis-artis Taiwan gitu lah. masa pakai baju tradisional ? gak level lah. Rambut aja udah dicat merah kuning coklat, masa baju adat ? parah-parahnya nanti diklaim jadi punya orang lagi, lagi-lagi malu-maluin. Malu-maluin ? Barangkali, Singkawang sudah maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar-dengar Singkawang mau bangun bandara dan pelabuhan. Udah ada kodenya lagi. Tinggal nunggu waktu saja, Luar biasa. Mau ngomong apa lagi, Singkawang memang sudah maju. Kalau dulu, mau naik pesawat aja pantat harus pegel 2-3 jam sebelum bisa lihat pesawat, gila aja. Sebentar lagi, tinggal jalan kaki juga sampai ke bandara, nanti bisa ke Singkawang cuma buat makan choi po pan, makan bakmi dan kwetiau goreng. Habis makan, naik pesawat pulang lagi. Keren. Tapi nanti pesawatnya ada gak penumpangnya ? takut apa, orang Singkawang banyak kok, hampir 200.000 orang penduduknya, belum lagi nanti orang dari Pemangkat, Tebas, Sanggau, Ketapang, dan lain-lain yang berbondong-bondong. Kedengarannya saja sudah menakutkan, pasti ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar-dengar selanjutnya bakal ada universitas, sebagai pusat akademik dan tolak ukur pembangunan kota Singkawang. kalau dulu mau kuliah aja harus test dulu di kota besar yang namanya Pontianak, bangun pagi-pagi, mandi buru-buru, sikat gigi aja lupa. Sekarang malamnya masih bisa main RF di Cyber X sampai pagi, habis itu minum kopi dulu di Nikmat, bisa langsung nyelonong test di kampus universitas Singkawang. Kalau dulu mau sekolah keren harus terbang jauh-jauh ke Jakarta, ke Bandung, ke Jogja, ke Malang, lebih keren lagi, yang gengsi, ya ke Taiwan (tapi bukan buat dikawinin), ke Singapur, ke Jepang, ke Kuching, Malaysia, nanti lanjut ke Australia. Nanti tinggal naik motor 5 menit sampai. Tapi ingat, harus pakai helm besar, jangan pakai helm-helman warna hitam yang dihias-hias lagi, biar gak usah keluar duit damai. Tapi, nanti ada gak siswanya ? takut apa, nanti tinggal bagaimana usaha kita saja. Barangkali, Singkawang memang sudah maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang sudah maju ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ikut membangun. Makanya jangan hanya bisa dengar-dengar. Ikut terjun langsung bangun Singkawang. Baru namanya orang Singkawang yang punya rasa memiliki kampungnya sendiri. Istilah kerennya “sense of belonging”. Makanya jangan cuman bisanya ngomong doang. Cuman bisa mengkritik, gak mau dikritik. Coba masuklah dalam kehidupan yang nyata, baru tahu rasa. Jangan hanya pintar ngomong aja. Kalau bisanya cuman ngomong mendingan diam aja. Pesimistis, mimpi aja tak punya. Kapan Singkawang mau maju kalau orang-orangnya pesimis dan hanya bisa ngomong aja. Makanya jangan hanya bisa melihat, hanya bisa jadi penonton di lahan sendiri. Jadilah pemain dalam pembangunan Singkawang, baru bisa dikatakan ikut memberi kontribusi, ikut melakukan sesuatu untuk pembangunan Singkawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang maju ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang mau maju ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang kapan maju ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangun Singkawang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar-dengar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[2] LALU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintarto : “ Kota adalah sebuah jaringan kehidupan manusia-manusia dengan strata sosial ekonomi yang heterogen, dengan corak kehidupan yang cenderung materialistik. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota merupakan simbol kebudayaan manusia, di mana terdapat ragam manusia dengan kebutuhan-kebutuhannya yang mengadu nasib dan berusaha mewujudkan mimpi dan harapan mereka. Heterogenitas inilah yang membuat sebuah kota bisa tumbuh berkembang menjadi sebuah “karya seni” (fine art), baik di bidang sosial, ekonomi, maupun budaya. Di sini perlu ada konsep perencanaan, strategi yang kreatif dan efektif yang bisa mengakomodir semua kebutuhan manusia-manusia secara kolektif kuantitatif di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kebutuhan adalah dasarnya, maka heterogenitas atas kebutuhan adalah awalnya, lahannya. Maslow membagi kebutuhan manusia yang heterogen tersebut dari yang paling dasar sampai yang paling atas, dari yang paling generik sampai yang paling prestisius. Kebutuhan-kebutuhan yang jika diurutkan dari yang paling rendah adalah kebutuhan fisik : udara, air, makan, olahraga, istirahat, kebebasan dari penyakit, cacat dan lain-lain; kebutuhan keamanan : keselamatan, perlindungan, stabilitas dan lain-lain; kebutuhan sosial : cinta, saling memiliki, saling membutuhkan dan lain-lain; kebutuhan ego : gengsi, kekuasaan, pengakuan, prestisi dan lain-lain; dan kebutuhan atas aktualisasi diri : pembangunan, pengembangan, kreasi, inovasi, idealisasi dan lain-lain. Heterogenitas ini kemudian membuat manusia-manusia terbagi dalam strata-strata sosial ekonomi yang berbeda-beda dan labil. Berbicara keinginan, semua level tersebut adalah keinginan yang akan berubah menjadi kebutuhan seiring naiknya “status” sosial ekonomi manusia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu perlu dijawab, seberapa heterogenkah strata sosial dan ekonomi masyarakat di Singkawang ? terlepas dari aneka ragam suku budaya yang menghiasi peta kota. Terlepas juga dari elit-elit modernis yang merasa Singkawang seharusnya bukan Singkawang. Seberapa besar bagian yang kini benar-benar membutuhkan diri mereka untuk diaktualisasikan ? ataukah bagian besarnya sesungguhnya masih berkutat pada kegalauan di antara kebutuhan fisik, keamanan, sosial, dengan keinginan-keinginan dini untuk diakui atas gengsinya ? Mungkin memang begitu tipikal konsepsi dan kreasi inovasi dalam pembangunan Indonesia masa kini yang akhirnya hanya perlu menyentuh pada level kulit saja, level paling atas, serta tak mampu dan memang tak berniat masuk lebih dalam lagi. Secara Indonesia yang demokratis, mungkinkah harus menyalahkan bawaan sejak lahir itu sebagai linggis raksasa yang mencungkil dan memperlebar jurang ? sebagai bom waktu dari keadaan yang disebut sebagai urban yang modern yang maju dengan tujuan menjadi wujud yang segemerlap mungkin ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusumawijaya : “ Permasalahan mendasar budaya berkota di Indonesia adalah bahwa urbanitas pada saat yang sama adalah modernitas itu sendiri. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota dan kemajuannya banyak dan sudah terlanjur dipersepsikan sebagai modernitas. Terlepas dari apakah itu keinginan atau kebutuhan, terlepas dari ada tidaknya jejak historis, tidak akan ada yang menyangkali fakta bahwa memang atribut-atribut modernlah yang dilihat sebagai tolok ukur. Bahwa mobilisasi masyarakat yang luar biasa di siang hari dengan kawasan-kawasan elit bertabur tinggi rendah tiang-tiang beton menandai apa yang disebut dengan kemajuan. Bahwa taburan gemerlap lampu-lampu warna-warni di malam hari yang menjadi daya tarik kepada mereka yang disebut sebagai orang desa untuk merasa kota sebagai daerah modern yang hebat menandai apa yang disebut sebagai progresif. Sialnya, modernitas juga seperti layaknya kubus putih dingin tak berperasaan yang tak pernah peduli atas konteks budaya dalam budaya berkota. Kelamaan yang di satu sisi perlu dipertahankan sebagai jejak juga hanya bisa diam termakan oleh buruan dominasi kebaruan di sisi lain yang perlu dan ingin mencuat sebagai indikasi dari keadaan yang progresif tersebut. Lalu barangkali Singkawang akan ingin seperti itu. Menjadi salah satu kota besar yang modern di dunia, paling tidak Indonesia, atau Kalimantan, paling tidak, atau Kalbar, paling tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budihardjo : “ Kita memang harus mencoba mengangkat kepala untuk mencoba melihat keluar, namun di saat bersamaan, kaki harus tetap dipancangkan kuat-kuat di bumi tempat kita berdiri “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu masih adakah kebutuhan atas jati diri ? mengingat hasil-hasil rancang bangun tanpa jejak yang dipungut dari etalase modern ala Barat yang sama rata dan sama rasanya telah terlihat di semua kota besar di Indonesia, yang perlahan hilang jati dirinya, dan masih sibuk bernegosiasi untuk membentuk simbol-simbolnya yang baru. Kapitalisme yang terselubung indah dalam balutan demokrasi prematur akhirnya menurunkan semuanya ke lubang yang sama. Munafik memang, tapi masih perlukah jati diri ? masih perlukah jejak sejarah dan karakteristik tanah dan manusia-manusianya yang masing-masing telah unik ? atau memang benar modernisasi di tanah-tanah kita bukan lagi alat, namun telah menjadi tujuan akhir dari progresifitas, sehingga apa yang dikatakan oleh Bintarto yang kini terasa sangat real tidak mampu lagi diubah ? Singkawang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masih lama. Mungkin terlalu berlebihan. Dan belum parah untuk mulai memikirkan tentang keberlanjutan. Atau mungkin belum mulai sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[3] NGOMONG-NGOMONG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, sesungguhnya apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat Singkawang ? sekedar menjadi modern ? sekedar kebanggaan bahwa Singkawang sudah ada lampu merah ? sudah ada pabrik ? sudah ada bandara ? sudah ada pelabuhan ? sudah ada universitas ? orang Singkawang itu butuh apa sebenarnya ? mungkin Singkawang sudah maju. Tapi orang Singkawang sebenarnya butuh apa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong lagi, apa sebenarnya arti dari melakukan sesuatu untuk pembangunan Singkawang ? sesuatu yang seperti apa yang harus dilakukan sehingga Singkawang bisa dikatakan sebagai telah dibangun atau telah terbangunkan oleh sesuatu yang telah dilakukan itu ? Apakah ikut membangun Singkawang berarti harus kembali ke Singkawang dan menampakkan batang hidung dengan terjun langsung dan bebas tanpa mengerti dan tahu apa yang bisa diterjuni ? Apa definisi dari berbuat dan tidak berbuat itu? Dengan apa seseorang bisa dikatakan sebagai yang telah berbuat ? apakah dengan menjadi pengusaha super sukses dan investor untuk mengeksploitasi potensi kota dalam sudut pandang komersil yang kemudian dipuji sebagai ikut mengembangkan dan membangun kota ? apakah dengan menjadi seorang karyawan dan pramuniaga yang menawarkan barang-barang jualan majikannya yang pada akhirnya dihargai sebagai orang biasa yang mencari penghidupan di sebuah kota kecil yang lalu mendapat kebanggaan sebagai ikut mendukung pembangunan kota ? apakah dengan mendaftarkan diri sebagai pegawai negeri sipil yang jumlahnya berlebih-lebihan sehingga lebih banyak yang sangat sibuk untuk duduk bersantai di kantor untuk kemudian disaluti atas jasanya sebagai abdi negeri ? atau apakah dengan menjadikan mereka yang menjual diri dan anak-anak perempuan mereka ke luar negeri atas nama kemiskinan dan usaha pamungkas untuk melanjutkan hidup sebagai contoh atas kemampuan yang disebut sebagai membantu perekonomian dan sumber devisa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Tuhan atau demi siapa saja, sebenarnya bagaimana caranya baru bisa dikategorikan sebagai ikut dalam pembangunan Singkawang ? Mungkinkah akan ada yang berbagi ? Apakah cukup dengan cara sejalan dan mendukung mimpi-mimpi yang dikatakan besar dan ide-ide yang dikatakan cemerlang yang bagaimana cara mewujudkannya pun tidak tahu, tidak mampu tahu, tidak berniat tahu, dan tidak akan pernah tahu, yang akhirnya hanya menyisakan cangkang kosong untuk selanjutnya diisi dengan wacana-wacana besar yang lain yang sedang menunggu di belakang dan begitu seterusnya ? Atau tak terkecuali setelah berwacana tanpa arah, apakah semuanya hanyalah kepura-puraan, yang sebenarnya kita semua sama-sama tidak pernah tahu apa yang kita maksud ? Lalu kembali lagi ke dalam mimpi dan harapan sebagai penduduk kota yang mengadu nasib seperti kata Bintarto, yang kemudian seakan menunggu waktu untuk dikatakan sebagai yang tidak berbuat apa-apa, sebagai penduduk kota yang punya kebutuhan pun di sisi lain juga dibutuhkan untuk dikatakan tidak berbuat apa-apa ? Apakah ada yang akan berbagi tentang cara yang benar untuk berbuat sehingga tidak terlihat seperti tidak berbuat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa “hanya” yang sudah cukup, dan “berbuat” yang tidak pernah dirasakan cukup ? “memberi” cukup ? “menonton” tidak cukup ? “mendukung” paling tidak ? “mendukung” sambil menonton ? paling tidak, cukup atau tidak cukup ? apakah dengan berteriak ? “tidak berteriak” tidak cukup ? “berteriak” cukup ? paling tidak sudah “berteriak” dan ada yang mengatakan “paling tidak” atau “sudah cukup” ? “cukup” seperti apa yang sudah cukup, belum cukup, tidak cukup, atau paling tidak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa cukup adalah cukup atau tidak cukup ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong sana-sini juga akhirnya tidak mampu mendefinisikan apa yang dikatakan sebagai “sudah berbuat apa-apa”, sebagai “tidak berbuat apa-apa” dan “belum berbuat apa-apa”. Tidak mampu mendefinisikan maju bukan modern. Mungkinkah ada baiknya kita menghadap ke bawah melihat piring-piring sendiri dan mulai menghabiskan makanan kita masing-masing ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada kesimpulannya, ketika semua terasakan dengan depan yang berkabut, kita sendirikah yang menyatakan di bawah sadar bahwa kita semua orang Singkawang memang ingin dan perlu pergi karena kita tidak punya arah ? karena kita tidak tahu apa yang kita butuhkan dan untuk apa kita dibutuhkan ? karena kita memang malu menjadi orang Singkawang yang Singkawang ? karena kita tidak punya gunung yang bisa dinaiki dan lembah yang bisa dituruni ? karena kita memang benar-benar tidak pernah tahu apa yang sedang kita tuju dan apa yang sedang kita bicarakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau apakah semuanya itu akhirnya lagi-lagi harus dibebankan pada stereotip dan tipikalitas ala Indonesia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[4] TERUS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang sebenarnya maju atau tidak maju ? Singkawang ini sebenarnya mau diapakan supaya bisa “dikatakan” sebagai “maju” oleh kita ? Sebenarnya yang namanya orang Singkawang itu inginnya apa ? butuhnya apa ? saya juga benar-benar tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah masih perlu kata-kata bermimpi besar dan memberikan ide cemerlang ? Apakah ada yang akan berbagi, tentang bagaimana caranya membangun sebuah kota kecil yang diapit oleh gunung dan laut dengan karakter yang unik, tapi seperti tertidur, secara “berbeda” dengan mengesampingkan cara-cara paternalistik pembangunan sebuah kota yang telah dijadikan konvensi ? Barangkali tidak, karena pada akhirnya semua akan dikembalikan pada jalur dan pola-pola tersebut, dan selanjutnya keberhasilannya akan diukur menurut konvensi yang seperti telah menjadi hukumnya. Jadi sebenarnya masih ada dan perlukah mimpi besar dan ide cemerlang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti, ketika api bisa dihasilkan dengan sekali tekan, masih perlukah kita mencoba membenturkan batu atau menggesek kayu ? ketika lampu telah ditemukan, masih perlukah kita mencoba menciptakan alat penerang, terlebih, masih perlukah kita mencoba menemukan listrik ? atau kita memang tidak pernah tahu apa fungsi dan bagaimana cara menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kota sudah benar-benar kota ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan bukan keinginan. Keberadaan sebuah kota pada dasarnya harus memenuhi kebutuhan penduduk di dalamnya, bukan untuk memenuhi keinginan. Namun, lagi-lagi menyalahkan kodrat manusia sebagai makhluk yang hanya tidak ingin dan tidak butuh kesempurnaan, kadang-kadang tidak mampu membedakan apa yang termasuk kebutuhan bukan apa yang termasuk keinginan. Sebagai yang tidak pernah merasa cukup dan puas, saking banyaknya keinginan akhirnya membuat manusia sendiri tidak pernah tahu dan terpikirkan tentang apa sebenarnya kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga dengar-dengar, lihat-lihat, ngomong-ngomong, nunggu-nunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mao Tze Dong : “ Just let the flowers bloom ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, dengan caranya sendiri, diam-diam, Singkawang membangun. Semoga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[5] DIAM-DIAM SAJA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-3749474558832418421?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/3749474558832418421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=3749474558832418421' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/3749474558832418421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/3749474558832418421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/02/bangun-singkawang_03.html' title='Bangun Singkawang'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-4307926894008930315</id><published>2008-02-03T00:58:00.001+07:00</published><updated>2008-02-03T01:06:09.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong jiwa'/><title type='text'>Sekali Lagi Rikiplik Tercinta, Merdeka</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sebuah renungan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 17 Agustus 1945, ketika pernyataan kemerdekaan dibacakan oleh Sukarno dan Hatta, maka merdekalah Indonesia, maka bersukacitalah seluruh pengikut dan rakyat-rakyat Indonesia, merayakan pertama kalinya merasakan kebebasan dari penjajahan senjata yang telah berlangsung selama 300an tahun. Semua orang seperti merasakan surga dunia. Sekali merdeka, tetap merdeka. Dan hari ini, setelah tepat 62 tahun berlalu dari kala itu, 17 Agustus 2007, maka sekali lagi kita merdeka. Merdekakah kita ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun berlalu setelah hari pertama itu, dan orang-orang pun terus berbenah dengan optimis bahwa Indonesia akan terus menjadi sebuah negara maju. Pucuk pimpinan berganti tapi tidak berpengaruh. Bangunan-bangunan besar dan publik dibangun di Jawa, dan Sumatera, dan Jawa, dan Sumatera, dan Sulawesi, dan Jawa. Maju tak gentar. Dan dalam beberapa 17 Agustus yang berikutnya, maka majulah kita. Majukah kita ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bertahun-tahun lagi berlalu, dan orang-orang pun berganti, generasi ke generasi dan terus berbenah. Lama kelamaan orang-orang pun mulai sadar, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan republik ini. Kesadaran-kesadaran mereka akhirnya membawa mereka berpikir bahwa ada yang tidak benar. Benarkah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka menurut Purwadarminta adalah bebas dari penjajahan, penghambaan, dan lain-lain. Dan apa yang tidak benar dari kita ? Benarkah republik kita telah merdeka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa realita republik kita yang sedang terjadi dan akan terjadi mungkin berkata lain…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita melihat kota-kota seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, lalu ketika kita pulang ke Purwakarta, Kidul, Tentena, Banggai, Sarmi, Waropen, Ketapang, Sanggau… ( apakah ada nama kota yang tidak pernah kita dengar ? )… dan ternyata… kita merdeka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama juga seperti ketika ketika kita masuk ke sebuah pusat perbelanjaan, dan kita minum Starbuck, makan Lasagna, Ice Cream NewZealand, pakai parfum merk Hugo Boss, pakaian merk Prada, Celana Levi’s 501, Sepatu Bally, lalu kita bertanya, di mana Mbok Tun penjual Jamu, di mana Warteg, di mana Warung Kopi Tubruk, dan lalu di mana Celana dan Sepatu Cihampelas ?… dan ternyata… kita merdeka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti ketika kita bermobil ria ter-AC dan terlindungi dari hujan dan panas, dan kita lewat di sebuah jalan kecil kumuh, di mana anak-anak bermain dengan taruhan nyawa karena kendaraan-kendaraan kita bersliweran di antara petak-petak permainan mereka, dan ibu-ibu duduk mengawasi sambil memberi mereka makan, sambil berpikir, “ Nanti kami mandi dimana ya ? “ dan sesekali berteriak, “ Awas ! “, dan ternyata… kita merdeka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti ketika beberapa orang Cina berjalan cepat di trotoar yang penuh Fankui, tanpa saling bertegur sapa, dan Cina-Cina agak takut, terus waspada agar dompet dan perhiasan mereka tidak dicopet sambil berbisik, “ Hati-hati… “ dan Fankui-Fankui pun berbisik pula, “Cina sial, jalan-jalan aja seenaknya di daerah kita, awas aja jangan sampai nyinggung kita… “ dan ternyata… kita merdeka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti ketika Cina-Cina di Singkawang dan kota-kota lain di Indonesia yang terus berusaha bertahan hidup dan akhirnya berhasil, lalu pejabat-pejabat pemerintah pusat dan daerah yang didominasi oleh Fankui-Fankui mulai merasa gerah, dan mengharuskan Cina-Cina itu punya SBKRI untuk membuktikan mereka tidak “berkhianat” pada Indonesia. Anak-anak Cina harus dibedakan dengan menggunakan marga yang melekat pada namanya dan jadi bahan ejekan teman-teman Fankui mereka di sekolah, dan mereka juga harus berbahasa Indonesia di sekolah mereka sedangkan teman-teman Fankui mereka bebas berbahasa Melayu, dan ternyata… kita merdeka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti ketika sekelompok tokoh pemuda Fankui yang mulai merasa gerah dengan tingkah laku Cina-Cina yang seenaknya saja ngobrol bahasa Cina di tempat umum, dan di sisi lain kota yang juga tempat umum, beberapa anak-anak muda Fankui bebas berbahasa Melayu tanpa ada yang merasa terganggu. Dan mereka berpikir harus mengangkat wacana menggunakan Bahasa Indonesia di tempat umum sebagai bahasa persatuan tanpa berpikir secara Melayu, dan ternyata… kita merdeka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti ketika kebebasan pers dan media mulai dijunjung tinggi dan dimerdekakan sehingga wartawan-wartawan merasa bebas untuk mewawancara, mengejar, mengawasi, mengintip, serasa “meneror” para artis ibukota dan ketika artis-artis manusia itu merasa tidak suka dan marah, lalu wartawan tersebut ikut marah karena kemerdekaan mereka terenggut, dan ternyata… kita merdeka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti ketika kebebasan berpendapat direformasi dan semakin menemukan kebebasannya, dan kita mulai berpendapat ke sana dan ke sini, dan kadang-kadang kita mulai memotong pembicaraan orang lain, karena sudah tidak tahan mengutarakan opini kita, dan orang yang pembicaraannya terpotong oleh kita, dan ternyata… kita merdeka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bagi Jakarta, Surabaya, Starbuck, Levi’s, mobil ber-AC, Fankui, bahasa Melayu, dan wartawan, mereka merdeka… tapi bagi Banggai, Sanggau, Mbok Tun, Ibu-Ibu dan anak-anak kecil, Cina, bahasa Cina, dan artis, apakah mereka merasa bebas dari penjajahan dan penghambaan ? dan lain-lain ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian kemerdekaan kita hanya sebatas merdeka dari senjata, dan kalau begitu bagaimana kalau kita kembali ke zaman RIKIPLIK saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Konfusius pun berucap, “ Apa yang tidak akan kamu lakukan pada dirimu sendiri, janganlah lakukan pada orang lain. “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya… kita merdeka, meskipun tidak sepenuhnya, tapi setidaknya tidak lagi terjajah oleh senjata… dan kita manusia… merekapun manusia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada suatu saat, ketika kita bisa melihat Jalan Sudirman-Thamrin di Tentena dan Sanggau, ketika kita makan Lasagna sambil minum Kopi Tubruk, atau makan Warteg sambil minum Starbuck, ketika kota kita dipenuhi ruang-ruang publik dan sosial di mana orang-orang dengan mobil ber-AC turun dan ikut berjalan sambil bermain bersama anak-anak kecil, ngobrol sebentar dengan Ibu-Ibu, ketika Cina-Cina yang berjalan di jalan-jalan kecil dan kumuh saling bertegur sapa dengan Fankui-Fankui, duduk sebentar, ngobrol, dan mengeluarkan HP-HP mereka untuk berfoto ria bersama, ketika Cina dan Fankui bisa saling bercanda menggunakan bahasa Melayu dan Cina sambil saling mempelajari bahasa mereka dan kemudian bercanda lagi, ketika wartawan menganggap artis benar-benar manusia dan sebaliknya, ketika kita mulai sabar mendengarkan pendapat orang lain tanpa ingin memotong, dan ketika kita mulai saling memikirkan seperti sedang bercinta… mungkin saat itu kita akan mendengar mereka dengan nyaring dan semangat 45 memekikkan kata : “ MERDEKA ! “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti surga dunia, rasanya akan sama seperti zaman Rikiplik, tapi dengan kegembiraan jiwa yang berbeda, suatu saat nanti.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Renungan, 17 Agustus 2007&lt;br /&gt;Dirgahayu Rikiplik Tercinta,&lt;br /&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-4307926894008930315?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/4307926894008930315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=4307926894008930315' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/4307926894008930315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/4307926894008930315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/02/bangun-singkawang.html' title='Sekali Lagi Rikiplik Tercinta, Merdeka'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-7424117273114105478</id><published>2008-02-02T11:05:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T11:10:17.991+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong singkawang'/><title type='text'>Pasir Panjang, antara Ada dan Tiada</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pasir Panjang yang terdengar di telinga pasti sebuah tempat dengan hamparan pasir-pasir yang berjarak begitu panjang. Memang Pasir Panjang seperti itu, waktu itu kami masih ingat, ada gerbang-gerbang di depan Pasir Panjang itu, gerbang yang namanya “Pasir Panjang 1”, “Pasir Panjang 2”, lalu muncul lagi gerbang yang namanya “Pantai Samudera Indah”, apa kami ketinggalan ? Gerbang-gerbang itulah yang memisahkan Pasir Panjang yang begitu Panjang dari kami, orang-orang Singkawang. Gerbang-gerbang yang memisahkan hamparan pasir yang panjang itu dalam Pasir-Pasir Panjang yang lebih pendek. Tapi dia tetap kami panggil, Pasir Panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang, Pasir Panjang kini tidak lagi terawat, air lautnya abu-abu, coklat. Sebagian teman-teman merasa sedih, tapi kami justru senang. Bagi kami, Pasir Panjang, ternyata masih seperti yang dulu, Pasir Panjang yang berusaha dijamah oleh kami dan selalu dilindungi oleh alamnya. Antara ada dan tiada, antara manusia dan alam. Dan dia tetap bertahan, menyimpan kenangan-kenangan kami di sana, menunggu kami kembali ke sana suatu saat nanti. Pasir panjang kini begitu sepi, dan kembali sebagian teman merasa sedih, tapi kami pun tetap senang. Ternyata Pasir Panjang masih menyimpan dirinya untuk kami, Pasir Panjang masih tetap menjadi hamparan dan curahan hati-hati kami yang tidak tenang, dengan ketenangan dan kesepiannya. Dia bermeditasi bersama kami, antara kami dengan alam, antara ada dan tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasir Panjang adalah tempat favorit dan pertama di hati. Tidak tau apa artinya bagi orang lain, tapi setidaknya itulah artinya bagi kami. Hanya sebuah pantai, memang, pantai biasa dengan air yang keruh, abu-abu, bahkan kecoklatan, tapi kami ingat rumah kami, kami ingat rumah-rumah di Singkawang, dan kami pun sadar pasir-pasir dari pasir panjang ternyata telah lekat pada konstruksi rumah-rumah kami, telah lekat pada campuran semen-semennya, telah demikian lekat dengan badan-badan kami, lekat dengan nafas-nafas kami, yang tertinggal di pori-pori dinding rumah kami itu. Ternyata pasir-pasir yang kotor dan coklat itu kini telah begitu penting bagi kami. Pasir Panjang telah berhasil menghamparkan pasir-pasirnya sampai begitu jauh, sampai ke Singkawang dan Singkawang pun, dari tiada, menjadi ada. Jadi kami pun tidak heran, Pasir Panjang begitu dekat dengan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasir Panjang sekarang sudah sepi, sudah kalah pamor kalau dibandingkan dengan “Pantai Samudera Indah” yang ramai. Lalu di mana Pasir Panjang dan di mana Pantai Samudera Indah ? tanpa disadari, kami manusiapun telah memisahkan kelebihan-kelebihan itu, demi kami sendiri, demi mereka sendiri. Lalu apa kelebihan pasir panjang ? kelebihan pasir panjang adalah, dia punya hamparan pasir yang panjang yang sepi, tenang, kontemplatif, dengan pohon-pohon cemara tropis, di Pasir Panjang 1, dia punya mulut muara yang berair tawar yang sepi beriak, mengalir gemericik dalam tenang, di Pasir Panjang 2, dan dia juga punya bebatuan yang indah dan ramai, bersemangat, serta penuh suasana sukacita, di Pantai Samudera Indah. Itu kelebihan Pasir Panjang bagi kami. Kami pun punya angan suatu saat akan bisa berjalan dari hutan-hutan cemara tropis yang sepi, sampai ke mulut muara yang beriak-riak kecil, dan akhirnya sampai ke batu-batuan yang ramai. Kami pun ingin berjalan dari tiada ke ada, dari sepi ke ramai. Dan kami semakin bersemangat, untuk hidup sampai waktu itu, untuk kembali ke Pasir Panjang pada saatnya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Pasir Panjang, dari tiada menjadi ada, dan akan kembali menjadi tiada,&lt;br /&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-7424117273114105478?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/7424117273114105478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=7424117273114105478' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/7424117273114105478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/7424117273114105478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/02/pasir-panjang-antara-ada-dan-tiada.html' title='Pasir Panjang, antara Ada dan Tiada'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-5388954673895180983</id><published>2008-02-01T23:02:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T11:04:33.726+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong singkawang'/><title type='text'>Pemimpin Singkawang ?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sukarno : “ Aku berjuang karena rakyat, aku besar karena rakyat, Aku bukan apa-apa tanpa rakyat “ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari sini saya belajar dan menemukan bahwa pemimpin sejati adalah pemimpin yang tidak menjadi pemimpin, oleh karena apa yang dia pimpin. Maka pemimpin adalah juga orang biasa. Orang biasa yang mengerti tentang apa yang disebut dengan "orang", dan bagaimana seharusnya menjadi "orang", dan terlebih dahulu harus sudah menjadi "orang". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah sekian lama, bagi saya, menjadi pemimpin sebenarnya tidak harus luar biasa, karena seorang pemimpin itu : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orangnya MALANG &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;MALANG diartikan sebagai memasyarakat langsung. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Colin Powell : “ The people in the field are closest to the problem, closest to the situation, therefore that is where real wisdom is “ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Malang di sini tidak hanya berarti sikap memasyarakat atau merakyat. Tapi benar-benar dilakukan dengan tindakan yang nyata. Walikota bukan kaisar, yang turun ke masyarakat setiap ada even besar, Agustusan, Cap Go Meh, Pawai, Upacara hanya untuk melambai-lambai. Tapi sering-sering berbaur ke masyarakat sehari-hari (everyday community) karena di situlah masalah berada, bukan ketika ada even besar. Kadang-kadang membingungkan melihat seorang pemimpin harus ditemani oleh sekian bawahan untuk sekedar berkunjung ke suatu tempat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Memasyarakat yang benar-benar membaur dalam keseharian. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau mungkin (seharusnya mungkin), setiap bulan dilakukan laporan pertanggungjawaban langsung kepada masyarakat. Harus didukung dengan perubahan metode bicara berpidato / pembacaan laporan yang selama ini dilakukan dengan metode baca teks / baca berita. Karena pada kenyataannya, semua bacaan itu hanya "bullshit" intelektualitas yang tidak memasyarakat langsung, karena tidak menarik untuk didengarkan, apalagi dicermati isinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di sini, tindakan nyata dan kreatifitas diperlukan sebagai salah satu faktor penting. Cara konvensional tersebut diganti dengan kegiatan laporan dengan metode diskusi interaktif. Eksplorasi sangat diperlukan sehingga masyarakat merasa mereka memang didengarkan. Metode interaktif sekaligus sebagai kegiatan dan wadah pengumpulan aspirasi dan keluhan masyarakat yang langsung merasakan dampak pemerintahan. Bukan mendengarkan dari bawahan yang jaraknya berlapis-lapis dengan masyarakat, dan ketika sampai di atas, mungkin keluhan dan aspirasinya telah berubah bunyi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di sinilah kelebihan dari seorang pemimpin yang malang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Doyan ngeSEX &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;SEX diartikan sebagai self exemplary – sebagai pelopor dan teladan &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Colin Powell : “ The leader sets an example, people will take their cue from the leader, not from what the leader says, but what the leader does “ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di sini saya belajar dan menemukan bahwa, “ tidak harus menjadi pemimpin untuk memimpin “. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Self exemplary bisa dikatakan sebagai sikap inisiatif. Seorang pelopor dengan sendirinya akan menjadi pemimpin tanpa perlu berebut untuk menjadi pemimpin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sikap durhaka dan kreatif juga digunakan di sini. Jika sekarang pola seorang pemimpin yang ada adalah memberi janji kemudian merealisasi, maka sekarang bisa diubah menjadi selalu merealisasi. Hal ini bukan berarti melakukan tindakan yang nyata hanya pada waktu kampanye. Jika memang kita mempunyai begitu banyak kemampuan dan kekuasaan untuk berkampanye, kenapa tidak kita gunakan semua itu untuk selalu membantu tanpa mengharapkan akan dibantu (dinaikkan menjadi pemimpin) ? Semua orang pada dasarnya mampu menjadi pemimpin jika mereka mempunyai sikap ngesex. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang pemimpin sejati akan selalu memberi kelebihannya kepada yang kurang, saat apapun, ketika berada di atas ataupun di bawah, maupun ketika tidak berada di mana-mana. Seseorang yang bisa memimpin bisa dilihat dari sikapnya sehari-harinya ketika masih merupakan orang biasa, bukan ketika dia akan naik menjadi pemimpin yang diangkat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Konfusius : “ I will not fret over being unknown to others, I will fret that I do not know them ” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menjadi seseorang yang selalu berpikir demi orang lain kapanpun dan dalam kedudukan apapun adalah cerminan seorang pemimpin sejati, tanpa harus menjadi seorang pemimpin. Mampu memberi contoh tidak ketika sedang ingin memimpin, tapi ketika tidak ingin memimpin. Inilah yang disebut dengan self exemplary. Maka jadilah seorang yang ngesex, seorang pelopor, bukan seorang orator.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tindakannya TAEK &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;TAEK diartikan sebagai nyata dan efektif &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Colin Powell : “ Not from what he says, but what he does “ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kita masyarakat di Indonesia, di mana pun daerahnya, sudah sangat kenyang dengan janji-janji yang sangat hebat dari calon-calon pemimpin kita. Kita sendiri di negara ini yang paling merasakan apa yang terjadi dengan sistem kepemimpinan dan proses menjadi pemimpin dari para pemimpin kita sejak mereka semakin bebas untuk berkeinginan menjadi pemimpin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang pemimpin bagi saya, lagi-lagi harus kreatif dan berani melawan pola. Jika sekarang yang benar-benar dipikirkan adalah rakyat, maka lakukanlah apa yang harus dilakukan untuk kepentingan rakyat. Begitu susahkah kita menunjukkan keikhlasan kita sebagai seseorang yang tidak memimpin untuk membantu dan memberi andil bagi kehidupan masyarakat ? kalau kita benar-benar ikhlas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bukan janji, tapi sudah ada. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kita sebagai masyarakat lebih membutuhkan tindakan yang nyata dan efektif bagi kepentingan kita, yang langsung menyentuh kepentingan kita. Bukan untuk dirasakan 10 tahun mendatang. Jika ada seorang pemimpin kreatif yang mampu memberikan rasa terpenuhinya kepentingan itu (efektif) oleh masyarakat secara nyata, maka tidak perlu bermimpi akan memimpin 5 atau 10 tahun lagi, tapi saya jamin bisa 50 tahun lagi, karena itulah yang dibutuhkan oleh masyarakat sekarang, saat ini juga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Konfusius : “ Don’t be concerned that you have no position; be concerned how you may fit yourself to occupy one ” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka berpikir keras dan berkhayallah, hanya ketika tidak dan tidak ingin memimpin, tentang bagaimana mewujudkan apa yang dinginkan oleh masyarakat kita sekarang juga, bukan besok atau di masa depan, bukan di bawah, atau di atas, tetapi sekarang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh karena itu lah, konsep pemikiran taek bagi saya merupakan solusi yang sangat solutif untuk saat ini dan kapanpun ketika harapan telah mulai memudar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Punya pemikiran TIPIS &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;TIPIS diartikan sebagai kreatif - utopis &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang yang malang, hobi ngesex, dan bertindakan taek memerlukan kreatifitas yang luar biasa. Maka dari itu, kreatifitas tidak bisa tidak akan menjadi salah satu syarat pokok seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang kreatif akan selalu membuat masyarakat terkejut dan memberi perhatian lebih. Ketika itulah seorang yang ingin jadi pemimpin, akan benar-benar memimpin, karena dia kreatif, karena di mempelopori. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Albert Einstein : ” Imagination is more important than knowledge “ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kreatifitas erat hubungannya dengan utopia / khayalan / imajinasi, karena imajinasi merupakan awal dari sebuah kreatifitas. Seorang pemimpin bagi saya adalah seorang utopis yang selalu berimajinasi untuk memulai memberikan perubahan yang berarti bagi masyarakatnya. Dari khayalan-khayalan itulah, akan selalu memberikan kreatifitas yang mengejutkan masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi saya kreatifitas dan khayalan adalah syarat paling dasar menjadi seorang pemimpin, ketika pemimpin itu telah menjadi orang. Seorang pemimpin yang berkemampuan tipis akan senantiasa membuat masyarakatnya penasaran, dan bergairah (excited) terhadap apa yang dilakukan dan akan dilakukan oleh pemimpin mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana kreatifitas dan utopia bisa bekerja telah dituliskan pada pemimpin yang malang, suka ngesex, dan punya tindakan taek. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi pemimpin yang telah ada di jalurnya hanya perlu berkemampuan tipis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bisa DURHAKA &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;DURHAKA di sini bukan sebuah akronim, tapi diartikan sebagai belajar dari sejarah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pramoedya Ananta Toer : “ bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa belajar dari sejarah “ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa artinya belajar dan durhaka? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belajar dari sejarah bukan berarti bernostalgia dengan sejarah bangsa yang ada, tetapi dengan belajar dari sejarah, akan menjadi dasar untuk melawan dan mempelajari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita. Sejarah menginformasikan kepada kita tentang keberhasilan dan kegagalan. Kita tentu tidak perlu mengenang berlebihan pada keberhasilan, tapi selalu berorientasi dan mencoba untuk memperbaiki kegagalan dan kesalahan yang pernah terjadi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Durhaka adalah syarat dasar yang kedua dan berhubungan sangat erat dengan kreatifitas dan utopia, untuk melawan dan memperbaiki kesalahan dan kegagalan dari sejarah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu keadaan yang bernilai A, untuk menjadi A+, kita harus tahu berapa nilai A dulu. Suatu keadaan yang bernilai sejarah untuk menjadi lebih baik dari sejarah, kita harus tahu berapa nilai sejarah itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Socrates : “ A life without evaluation is such a life in vain “ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Itulah pentingnya belajar dari sejarah, bukan hanya untuk mengenang, tapi terlebih untuk melawan, untuk mengatakan ada yang salah, untuk mengevaluasi, untuk menjadi durhaka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tentang bagaimana sikap durhaka bisa bekerja pun, telah dituliskan pada pemimpin yang malang, doyan sex, dan tindakannya taek. Maka pemimpin ada saatnya harus bisa durhaka, untuk menunjukkan apa arti sebuah perjuangan, untuk lebih baik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak perlu segalanya, cukup lima saja. Lima konsep pemikiran itu, semuanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Tidak hanya di Singkawang, tapi di mana saja, jika ada seorang yang menguasai dan menjalankan lima konsep pemikiran itu, matipun saya akan mendukung dia sebagai pemimpin, meskipun saya tahu, dia tidak ingin dan tidak akan pernah ingin menjadi pemimpin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lima hal itu, jika disimpulkan, maka seorang pemimpin hanyalah orang yang malang, doyan ngesex, tindakannya taek, punya pemikiran yang tipis, dan ada saatnya bisa durhaka. Luar biasa ? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mensius : “ Confucius did not do extreme things ” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Biasa saja. Bahkan seorang Konfusius. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jangan memimpin, oleh karena apa yang dipimpin, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-5388954673895180983?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/5388954673895180983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=5388954673895180983' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/5388954673895180983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/5388954673895180983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/02/pemimpin-singkawang.html' title='Pemimpin Singkawang ?'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-1352133882027729874</id><published>2008-02-01T21:44:00.000+07:00</published><updated>2008-02-03T01:00:46.112+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong jiwa'/><title type='text'>Kepala (mungkin) Perlu Dikasihani</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sebelum terlalu berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah film aksi Hongkong menampilkan sekelompok triad yang sedang baku hantam. Pada akhirnya seorang pemuda tokoh utama berhasil merubuhkan semua kaki tangan lawannya. Lalu menodongkan pistol langsung ke kepala pemimpin triad yang jahat. Dalam sekali tembak, peluru menembus kepala dari kepala penjahat itu, dan langsung menghentikan takdirnya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun Tzu pernah berucap, bahwa jika ingin mengalahkan pasukan, maka tangkap dan kalahkan kepalanya lebih dulu. Ini membuktikan betapa penting dan berharganya kepala dalam sebuah pasukan, namun juga selalu menjadi incaran dan titik kelemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam arsitektur vernakular, sering dibagi bagian-bagian bangunan dalam kepala, badan, dan kaki. Dalam semua penjelasan, tidak perlu diragukan bahwa filosofi-filosofi vernakular itu menyatakan bagian kepala adalah bagian yang paling atas, paling suci, paling dijaga, paling baik. Sedangkan bagian badan dan kaki hanyalah bagian pelengkap, bagian kotor, tidak sesuci, setinggi, sesakral kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di badan manusia pun, kepala adalah bagian tubuh yang paling dihormati, paling dijaga, sekaligus paling lemah. Daerah di mana muka seseorang ditaruh. Daerah di mana sumber pemikiran seseorang disematkan. Daerah di mana semua vista dari semesta diserap. Daerah di mana akal dan budi peradaban manusia disimpan. Daerah di mana udara kehidupan keluar masuk ke tubuh. Daerah di mana makanan dan minuman yang diperlukan oleh seluruh tubuh dijejal. Daerah yang mana jika ditempeleng, orang akan merasa pusing dan sial. Daerah di mana dalam sekali tembak, orang bisa mati. Suci, bersih, penting, namun ternyata lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong soal kepala, badan, kaki, ekor, maka sperma juga… tapi sepertinya ini tidak perlu dilanjutkan lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilematis, sebenarnya menjadi bagian kepala ini beruntung atau sial ? manis atau pahit ? enak atau enek ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terlalu berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah baiknya jika tidak beriri hati atau merasa tertekan atau merasa berharap banyak atau merasa perlu dikasihani oleh kepala, sebab mungkin justru kepala ini yang perlu dikasihani. Ketika begitu banyak kata-kata selamat dan sukses disertai setumpuk harapan diberikan kepada si kepala, adalah kebingungan yang mewakili, sebaiknya siap bersuka cita atau siap berduka cita ? Saat begitu banyak beban ditumpukan ke bahu terasa bagaikan menerima kenyataan bahwa akan matinya orang terdekat, atau akan habisnya kekayaan pribadi, dalam idealisme sebagai kepala, mungkin yang harus diucapkan malah kata-kata turut berduka cita ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lagi-lagi berpikir setelah lama kebingungan di ambang mimpi dan kenyataan, sebaiknya berduka cita atau memang bersuka cita ? Mungkinkah ini hanyalah euforia berlebihan dari ibu saya setelah 60 tahun hidup dan besar di bawah bayang kepala-kepala yang tak sama dengannya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama pada saat seperti ini, ketika pudar dan besarnya harapan hampir sama kuatnya, mungkin menjadi kepala bagaikan 2 sisi uang logam. Penting namun lemah, labil, penuh beban dan tekanan. Sebuah permata juga dihasilkan dari tekanan. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ketika semakin tertekan, permata itu akan menjadi semakin berkilau, atau malah menjadi pasir atau debu, atau malah akhirnya terbuang dan membatu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan sampai sejauh ini, apakah mereka itu berkilau atau membatu, baik atau buruk, hebat atau tidak, luar biasa atau biasa saja, tindakannya brilian atau hanya menyisakan taek bagi untuk dibersihkan oleh tangannya atau diinjak oleh kakinya, berkemampuan tebal atau tipis, doyan ngesex atau tidak, kepala itu kepala durhaka atau bisa berbakti kepada bangsanya, masing-masing dari badan dan kaki yang selama ini menopang (baca: membantu, mendukung, merasakan, mengkritik, menghakimi) lah yang menilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala, badan, kaki, ternyata sama saja. Atas dari bawah. Tukul Riyanto dalam salah satu sisi kebijaksanaan dari kekonyolannya pernah mengatakan bahwa jika ada atas tentu karena ada bawah. Karena itu mereka disebut kepala. Cukup nila setitik saja, susu sebelanga akan rusak. Cukup sekali tembak saja dia akan mati. Cukup berbuat salah kecil saja, semuanya akan ingat. Ternyata semua bagian sama level dan kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut seorang abang tukang becak menama Koh Bong Li, kepala yang baik adalah kepala yang selalu ingat pada kaki-kaki kotornya karena merekalah yang selama ini menopangnya. Ternyata seorang tukang becak pun tidak kalah filosofis dari Sun Tzu. Jangan tanya saya tau dari mana, karena saya juga dengar-dengar dari warung kopi sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kekecewaan semakin besar karena semakin besarnya harapan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jose Mourinho pernah mengatakan, kita tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak bapak kepala yang paling pantas jadi dan pantas diselamati, yang penting, nanti kalau sudah jadi, jangan lupa janjinya ya pak, yang bijak ya pak, jadi pemimpin yang benar ya pak, buktikan ya pak, visi misinya ingat jalankan ya pak, kota kita dimajuin ya pak, buka lapangan kerja ya pak, hidupkan ekonomi kota kita ya pak, lampu jangan padam lagi ya pak, air ledeng dibenerin ya pak, walet jangan dikembangbiakkan ya pak, makan nasi campur gratis lagi ya pak, jalan di kampung kami sudah banyak lubangnya, diaspal ya pak, nama jalannya malu-maluin, diganti ya pak, jangan lupa ya pak, tahun baru nanti, kami dibolehin main petasan ya pak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak ? Pak ? Pak ? Pak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau capek tidur aja pak, jangan cemas, masih 4 tahun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enak-enak gini, kasihan kepalamu,&lt;br /&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-1352133882027729874?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/1352133882027729874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=1352133882027729874' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/1352133882027729874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/1352133882027729874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/02/kepala-mungkin-perlu-dikasihani.html' title='Kepala (mungkin) Perlu Dikasihani'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-4249682491754601705</id><published>2008-01-30T20:38:00.000+07:00</published><updated>2008-02-01T21:21:37.840+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong singkawang'/><title type='text'>Singkawang dengan Sejuta Kenangan Manisnya (Part 1)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“ Desaku yang kucinta… Pujaan hatiku… Tempat ayah dan bunda… Dan handai taulanku… Tak mudah kulupakan… Tak mudah tercerai… Selalu kurindukan… Desaku yang permai… “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bait-bait lagu tersebut mendengung kembali di telinga, yang teringat bukanlah Singkawang dengan sawah-sawahnya di Jalan Tani, atau hutan-hutan kelapanya di Kuala, ataupun ternak-ternaknya di Kulor, tapi semuanya terasa berputar kembali ke satu ruang kelas di sebuah sekolah dasar dengan seorang Guru yang mengajarkan murid-muridnya bernyanyi dalam pelajaran kesenian. Masih terasa waktu itu berdiri dengan teman-teman kecil di lapangan upacara di seberang sebuah rumah sakit menyanyikan lagu-lagu sambil berbaris dengan suara yang fals. Semua itu kadang mampu membuat tubuh merinding bersemangat untuk sekedar mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkawang itu menyenangkan, kata seorang teman. Singkawang itu lebih dari menyenangkan, Singkawang itu manis. Semua kenangan masa kecil ada di sana. Masa ketika beban hidup terasa bagai kayuhan sepeda BMX kecil, tidak pernah lelah. Masih terasa cukup jelas ketika pulang sekolah dikejar oleh anjing di Jalan Gereja. Masih ingat juga ketika pulang sekolah naik becak bersama teman-teman kecil. Kenakalan-kenakalan masa kecil, teguran, kemarahan, omelan, teriakan, bahkan tamparan oleh guru-guru kini malah terasa manis dan bernilai. Ketika musim hujan tiba pergi memancing dan menangkap ikan di rawa-rawa Jalan Antasari. Kedua kaki menjadi gatal dan penuh dengan goresan-goresan luka kecil akibat gesekan rumput ilalang. Tapi waktu itu tetap terasa berharga untuk dikenang. Semua itu terasa begitu jelas, kadang begitu cepat terlintas di mata seperti kembali ke waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beranjak besar, kemanisan itu tetap ada. Sepeda BMX kecil pun telah berganti menjadi sepeda Federal dengan rantai dan piringan rantai yang bisa diatur-atur. Guru matematika pun berganti, namun tetap dengan pola yang sama, disiplin dan galak. Di masa-masa sekolah menengah pertama yang penuh dengan gejolak. Penuh kelabilan, dan penuh dengan olahraga, penuh dengan bola. Masih teringat jelas lapangan bola di sekolah dan permainan-permainan bola di halaman belakang rumah teman di masa kecil yang begitu bergairah, tanpa beban. Musim kemarau, musim hujan, musim-musim dengan bola. Adalah masa-masa yang luar biasa ketika bersepeda setiap sore bersama teman-teman yang tak akan pernah terlupakan, ke mana saja. Pulang ke rumah telat untuk ikut makan bersama, omelan-omelan orang tua karena pulang malam, kini terasa begitu jauh, namun begitu terngiang, begitu dekat, begitu dirindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa SMU, adalah masa di mana mata mulai terbuka, masa di mana kehadiran rekan-rekan dari berbagai etnis di Singkawang terasa begitu berbeda, sangat berharga. Sepeda Federal pun telah tergantikan oleh sepeda motor. Pergaulan dengan rekan-rekan dari suku-suku lainnya menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Masa-masa berbaur yang penuh dengan kekonyolan dan kebahagiaan. Senyum mereka semua terasa manis di hati. Jalan-jalan sore menjadi menu wajib. Jalan Diponegoro, penuh dengan anak-anak muda sepantaran, pria, wanita, semua bermotor, berbincang, bercanda, bercerita sambil terus mengitari jalan, satu kali, dua kali, lima kali, sepuluh kali, tidak terasa malam tiba dan lampu-lampu di Singkawang pun menyala, seolah mendukung kegiatan ini dan mengatakan teruslah bercerita, jangan pernah berhenti. Di masa ini pula hati mulai terbuka, mulai menghadapi apa yang disebut cinta monyet oleh orang-orang tua itu. Muda-mudi mulai berpasangan dengan motor-motor di malam-malam minggu di Singkawang. Malam minggu, malam yang panjang dan ramai. Dan akan selalu menjadi malam yang berbeda, dan manis. Dan kita pun mulai beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan, kasih sayang, solidaritas, kebersamaan, dan cinta, semuanya terlebur dalam hangatnya matahari pagi, dan sejuknya embun-embun di daun-daun hijau, serta mengepulnya asap-asap dari hutan-hutan yang terbakar. Petani-petani di pedalaman yang membakar hutan dan menanam untuk terus menyambung hidup di kota kecil yang selalu segar. Setiap pagi angin datang menyampaikan bau khas dari kayu-kayu yang terbakar di Singkawang, bau yang selalu dirindu, tak pernah terlupakan. Satu kenangan termanis yang selalu membuat Singkawang mendapat tempat khusus di hati, adalah masakan dari orang tua. Kenangan akan ayah yang jago memasak dan ibu yang selalu memberikan yang terbaik tidak akan pernah didapatkan di tempat lain, karena ada satu rasa yang tidak akan pernah dapat diberikan oleh juru masak manapun di dunia, yaitu rasa keluarga. Singkawang telah menjadi rumah keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejuta kenangan manis itu, hanya sedikit yang mampu diingat jelas, tapi sampai kapanpun akan tetap menjadi cerita tentang hidup yang begitu berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghargai Singkawang, seperti menghargai hidup ini,&lt;br /&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-4249682491754601705?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/4249682491754601705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=4249682491754601705' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/4249682491754601705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/4249682491754601705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/01/singkawang-dengan-sejuta-kenangan.html' title='Singkawang dengan Sejuta Kenangan Manisnya (Part 1)'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-3368811145108059558</id><published>2008-01-30T20:08:00.000+07:00</published><updated>2008-02-01T21:20:41.969+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong jiwa'/><title type='text'>Antara Mohon dan Syukur</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Waktu itu Jumat siang, pukul 11.44. Sekelompok pria memakai sarung, berbaju kemeja, beberapa terlihat bermuka agak basah, masing-masing membawa sebuah kain berjalan beriringan dan berdampingan menuju sebuah bangunan komunitas. Sesampainya di sana mereka melepaskan sendal, ada yang menuju ke belakang dan mencuci muka, tangan, kaki. Setelah itu mereka mulai mencari tempat masing-masing, menebarkan kain-kain mereka ke lantai. Dan memulai kegiatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari setelah itu, Minggu pagi, tepat 5 menit sebelum jam 7.00. Sebuah keluarga berbondong berjalan agak cepat memasuki gedung komunitas. Nyanyian sudah terdengar ketika mereka baru sampai depan pintu masuk gedung itu. Semasuknya, mereka pun mulai mencari tempat dan duduk, memejamkan mata dengan tangan dikepal, belasan detik kemudian, mereka kembali berdiri, dan mulai ikut bernyanyi. Dan kegiatan mereka pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di tempat lain, tanggal 1, pagi, seorang ibu dengan sepedanya membawa sekantong besar kertas-kertas yang telah dilipat-lipat dengan rapi, sampai ke sebuah bangunan rumah berwarna merah. Sepeda diparkirkan di samping bangunan itu, kemudian agak kecapaian berjalan masuk ke bangunan. Sesampainya ke dalam, ibu itu membuka sebuah kantong yang di dalamnya berisi batang-batang wewangian. Dan dia pun memulai kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara mohon dan syukur, dalam pada itu, mereka semua mulai pada 1 kata, tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengatakan tuhan itu maha esa. Tapi pada kenyataannya, keesaan itu adalah perbedaan di antara aku dan kamu. Sementara sekelompok orang menabrakkan pesawat pada gedung-gedung pencakar langit milik orang-orang yang mereka anggap tak bertuhan, sekelompok lainnya sibuk menghujankan rudal-rudal ke tanah kelompok lain yang mereka anggap tukang teror. Sementara kita sibuk mengebom mereka atas nama tuhan, mereka sibuk menyodomi kita atas nama kebenaran dan keadilan. Sementara aku sibuk mengajak orang-orang yang sama-sama ke rumah merah untuk memilih aku supaya aku bisa jadi pemimpin mereka, kamu sibuk mencari pendukung-pendukung dari mereka yang bersarung karena mereka telah berkuasa sejak dulu. Sementara kalian sibuk mengatakan untuk memisahkan masalah kekuasaan dengan masalah tuhan, tapi ternyata kalian sendiri juga tidak pernah terlambat untuk mengumpulkan kelompok-kelompok atas nama satu tuhan untuk menambah kekuatan dan kekuasaan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaifan kita, ketidaksadaran kita, disadari atau tidak disadari, telah membawa serta tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada hari berikutnya, dalam kedamaian semu, aku, kamu, kita, kalian, dan mereka, sama-sama pergi lagi ke gedung-gedung komunitas, ke bangunan-bangunan merah dan berundak, untuk memulai kata, tuhan. Dan kita semua, sekali lagi, berada di antara mohon dan syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi apa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku ? Tuhanmu ? Tuhan Kita ? Tuhan Mereka ? Tuhan siapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang tuhan itu satu, kenapa begitu banyak perbedaan pada kita yang sama-sama mencarinya? apakah tuhan kita tidak sama dengan tuhan mereka ? Jika tuhan memang esa, kenapa aku menganggap membunuh mereka yang juga mencarinya adalah restu tuhan ? kenapa kamu menembak dia atas nama tuhan, karena tuhanmu yang benar atau tuhannya tidak ? Apakah dengan membunuh dan menghilangkan dan mengalahkan semua yang berbeda dengan aku, kedamaian dan kemajuan di sini akan tercapai ? Kemunafikan kitalah yang mengatakan bahwa perbedaan itu indah, jika kita sendiri tidak mampu menciptakan keindahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia memang binatang yang lemah dan sering lupa, sehingga harus selalu ada sebuah ritual untuk secara teratur mengingatkan kita, untuk tidak membunuh, untuk tidak membacok, untuk tidak membantai, untuk tidak menipu. Tapi ternyata ingatan-ingatan itu membuat kita lebih fanatik akan tuhan kita, tanpa memikirkan tentang bagaimana orang-orang lain menghormati tuhan-tuhan yang lain. Dan akhirnya, setelah sehari terlewati ritual itu, kita pun lupa kembali, dan mulai membunuh, membacok, menipu lagi. Dan pada waktu panggilan berikutnya, kita dengan naif kembali lagi ke antara mohon dan syukur, untuk menjangkau tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencuci dosa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saatnya, setelah kita harus diingatkan pun, kita tetap selalu lupa kembali. Lalu apakah tuhan hanya kedok kita untuk mendeklarasikan bahwa kita adalah orang yang bertuhan ? Apakah dengan bertuhan, maka kita telah menjadi orang baik ? Setelah mereka berteriak-teriak dan bernyanyi pun, dalam hitungan hari mereka telah lupa kembali. Karena mereka mungkin tahu, ada yang akan mengingatkan mereka, kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata selama ini, di antara kita dan tuhan tidak pernah ada ingatan yang baik. Di antara itu, diakui atau tidak, hanya terselip mohon dan syukur. Hanya sesederhana itu. Dan kita pun merasa kita yang paling benar. Dan dalam kesamaan mohon dan syukur itu, ternyata selama ini telah terselip satu hal, perbedaan. Dan beginilah kita jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah cukup berbeda. Sudah cukup banyak perbedaan. Namun ternyata dalam sesuatu kesamaan yang begitu hakiki pun, kita juga tetap berbeda. Apakah kadang-kadang memilih untuk tidak memilih adalah sebuah jawaban atas semua perbedaan itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah ini semua, apakah memang sudah saatnya kita perlu bertanya tentang perbedaan tuhan di antara kita ? Dunia memang belum kiamat. Suatu ketika, John Fitzgerald Kennedy berucap, jika kita memang tidak bisa mengakhiri perbedaan, paling tidak kita bisa menciptakan dunia yang damai dalam kondisi berbeda itu. Di antara kita, apakah mungkin ? Dan ternyata John pun mati terbunuh, tanpa pernah ada yang tahu, tuhan mana yang merestui pembunuhan itu. Ataukah sebenarnya kalian telah tahu bahwa dalam satu tuhan pun ternyata telah ada perbedaan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah sebaiknya sekarang kita mulai berpikir, setelah mati nanti, kita mau masuk surga tuhan yang mana ? atau sebaiknya kita ke nerakanya tuhan siapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara panjang lebar antara aku, kamu, kita, kalian, dan mereka, akhirnya hanya menyisakan introspeksi pada diri masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja suatu ketika, benar-benar hanya ada satu Tuhan yang esa, yang tertanam dalam pribadi-pribadi yang satu, keluarga-keluarga yang satu, rt rw, kecamatan, kabupaten, propinsi, negara, dan dunia yang benar-benar satu, apakah mungkin hidup ini akan lebih baik ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara mohon dan syukur pun, kita ternyata juga berbeda,&lt;br /&gt;Ardy Prasetya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain tempat, suatu pagi, sekelompok orang tua dan anak muda berbaris, dengan berikat kepala, dan sarung bercorak kotak-kotak hitam putih, beberapa di antaranya membawa sekeranjang kecil makanan, nasi, lauk, buah-buahan, bunga-bunga, dan wewangian yang tersusun rapi, ada yang ditaruh di atas kepala, berjalan menelusuri tanah, batu dan rumput yang masih basah. Mereka menuju ke sebuah bangunan dengan penutup dari ijuk yang berundak-undak. Ketika sampai beberapa orang tua mulai masuk ke dalam membawa keranjang-keranjang tersebut, sementara yang lainnya menunggu di luar. Seketika itu, kegiatan mereka pun dimulai.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-3368811145108059558?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/3368811145108059558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=3368811145108059558' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/3368811145108059558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/3368811145108059558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2008/01/antara-mohon-dan-syukur.html' title='Antara Mohon dan Syukur'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6766070184861060313.post-6609149197240765372</id><published>2007-07-07T20:13:00.000+07:00</published><updated>2008-02-03T09:28:13.940+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolong arsitektur'/><title type='text'>My Architecture</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;I think sometimes architecture is made just for a war to other architects, because our works almost often just read by them, judged by them, critized by them, with their own thoughts about architecture, which are of course have been in their minds longer than ours, or they think theirs are better than ours.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;First of all I thought that I just love to draw, instead of being in graphic design I chose architecture because of my parents granted more to architecture ( they had'nt known that this was forcing their son to a hell of earth ).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;In the first year, I found myself loved to imitate, especially in first 2 terms of school. I found myself liked to see from books, booklets, magazines, brochures, and stuffs like those.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;In the second year, I thought it would be cool to read star architects, once again to imitate their works, their styles, their... I found myself loved Frank Gehry, loved Greg Lynn, loved Calatrava, etc. It was just about style. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;In my third year, because of a comment of a tutor about my work, I started to think differently, I started to read books, not for their style, but for the their thoughts, why they're doing such stuffs, their minds. I started to combine them to make my own way, to make my own style ( which i'm still trying nowadays ). I started to left magazines and brochures to avoid the "coffee table" stuffs. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Here, a weird thing happened. I found myself starting to like, instead of those expressionists, Tadao Ando, Louis Kahn, Oscar Niemeyer, whose images sometimes were so minamalists, their works sometimes are not so photogenic. but I liked them, I liked their monumentalisms, I liked their thoughts behind works. I loved their ways of thinking. Then I knew why there are such men loved them. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Now in my fourth year, I find that architecture is teaching me not merely to be architect, but it teaches me how to think, how to be discipline, how to value my time, how to think for my environment. it teaches and shapes my way of thinking. I could find myself talking to my friends with other major and I found them talking was still so "childish", still so "selfish", I found they're talking just out of meaning sometimes, which sometimes I'll response with out of meaning too. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Because of architecture, I started to read theory, I started to read "texts", I started to read philosophies, I started to like to watch movies, I started to like seminars, I even started to like to be in class for lectures, because I find myself by seeing and watching more, I can know more and I have a chance to make better than those things which have been on earth. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oscar Niemeyer said once, " It's not important to teach our students about architecture, but the most important is teach them how to make a better world." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;And Tadao Ando once said, " from now on, there are 2 main points in learning architecture, first one is how to make it, and the second one is how to make our better environment. " &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Architecture teaches me how to make things better. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ardy Prasetya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6766070184861060313-6609149197240765372?l=kolongkolong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolongkolong.blogspot.com/feeds/6609149197240765372/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6766070184861060313&amp;postID=6609149197240765372' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/6609149197240765372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6766070184861060313/posts/default/6609149197240765372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolongkolong.blogspot.com/2007/07/kabut-antara-kamu-dan-kedewasaan.html' title='My Architecture'/><author><name>kolongkolong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00462621767152623494</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
