also visit

30 November, 2008

Pulang – Kembali dari Pergi, Bangun dari Tidur Panjang

Saya pulang. 25 09 08, kembali ke tempat lama. Singkawang. Pulang ke rumah, pastinya bukan sesuatu yang luar biasa bagi semua orang. Tapi bagi saya, pulang ke Singkawang, kapanpun, seberapa lamapun, seberapa seringpun, selalu menjadi sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang spesial. Emosional. Rumah adalah tempat di mana hati berada, begitu yang digambarkan oleh CJ Snare dan Bill Leverty dalam tulisan mereka. Secara emosional saya mau tidak mau, terikat dengan tempat ini. Tempat di mana saya lahir, tumbuh, besar, berteman, bersekolah, bermain. Mungkin biasa saja, yang dikatakan sebagai kampung halaman mungkin memang seperti ini rasanya. Tapi ternyata itulah rasa yang susah dijelaskan. Susah dilukiskan. Ketika jantung serasa naik ke kerongkongan, bagaimana menjelaskannya ? bagaimana deskripsinya ? mungkin ada beberapa kata yang memang tak dapat dideskripsikan dengan baik menggunakan bahasa Indonesia. Lalu mau bagaimana ? Hanya seonggok rasa ganjil yang terpikir. Aneh.

Di Singkawang. Ketika bertemu dengan rumah, emosional. Tempat saya dulu tinggal. Ketika bertemu dengan jalan-jalan, emosional. Tempat saya dulu melintas hampir setiap hari. Ketika bertemu dengan bangunan-bangunan, emosional. Saya pernah lihat semuanya. Ketika bertemu dengan gunung, lembah, hutan, pasir, emosional. Tempat vista selama belasan tahun terekam. Ketika bertemu dengan orang-orang, emosional. Orang-orang yang saya kenal, dulu dan sekarang. Semua orang terasa seperti dikenal, walau tak kenal. Bau kota ini, tempat ini, emosional. Pikiran dan perasaan seakan mengalami dejavu yang bertubi-tubi. Semuanya emosional bagi saya. Mungkin terasa hiperbol, tapi memang pada kenyataannya hantaman perasaan hiperbol itu yang saya rasakan.

Mungkin kepulangan kali ini adalah kepulangan terakhir, yang mana pulang masih terasa seperti dulu, ketika belum meninggalkannya. Kepulangan kali ini sangat memaksa mata untuk melihat semuanya, memaksa hati untuk menghayati semuanya, memaksa raga untuk meraba semuanya, dan jiwa untuk menyerap semuanya. Diri sendiri berkata harus merasakan semua denyut tempat ini, sebelum benar-benar pergi darinya. Lebih emosional. Lalu hanya sedikit saja yang mampu tergambarkan karena memori lusuh ini tak lagi mampu menampung hantaman semuanya yang bertubi-tubi itu.

Singkawang adalah ruko. Masih tetap sama, seperti dulu-dulu. Singkawang adalah, deretan ruko yang dihuni oleh orang-orang tionghoa. Tanpa bermaksud mengesampingkan etnis lain yang habitatnya bukan di ruko, jantung Singkawang memang dipenuhi dengan ruko seperti layaknya daging-daging babi dalam sepiring nasi campur. Memang etnis tionghoa pendatang Indonesia yang dikirim dari tanah nenek moyangnya sejak dahulu kala telah menjadikan deretan rumah baris dengan balkon, yang desain railingnya terkadang norak, sebagai habitat baru mereka. Mungkin inilah dasar dan faktor utama kuatnya budaya wiraswasta dan tradisi bisnis tionghoa di Indonesia, yang bahkan dalam tidurnya pun, tak ingin jauh-jauh dari bau uang dan peluh labanya. Ada berbagai jenis model ruko di Singkawang dari sejak zaman akhir rambut kepang setengah botak ala dinasti Manchuria yang menyeruak masuk ke sini, yang kata orang merupakan nenek moyang orang tionghoa Singkawang, hingga saat cerita ini diturunkan. Saking banyaknya mungkin sebentar lagi menyamai rekor negara dengan 17.000-an pulau yang beberapa ribu di antaranya belum bernama dan bahkan tak jelas punya siapa. Makanya dulu ada slogan KB yang legendaris, cukup 2 anak. Masalahnya kalau terlalu banyak anak, nanti bisa jadi lupa kasih nama, seperti pulau-pulau itu, bahkan lupa itu anak siapa. Sudah seperti ragam spesies burung di buku pintar fauna untuk anak SD saja. Tapi tak pernah coba disensus untuk urusan yang satu ini – model ruko, karena memang tak penting. Bagi saya yang pernah belajar dan punya sedikit bekal kearsitekturan, namun tak pernah disahkan menjadi arsitek karena memang tak bisa dan tak perlu lulus sensor ikatan arsitek, ruko-ruko di Singkawang itu terkesan, maaf, murahan, meskipun tak perlu disangkal, konstruksinya mungkin mahal. Memang ada beberapa perkembangan cukup signifikan dalam hal bentuk, tapi lagi-lagi perkembangan itu membuat semua yang berbeda menjadi semakin sama. Semakin berbeda, semakin sama. Modelnya boleh jadi berbeda, namun semangat yang diusung pastinya sama, yaitu semangat imitatif. Sampai kapanpun semangat seperti ini akan membuat sebuah barang semahal apapun, menjadi terlihat murahan. Pada akhirnya hanya menyisakan sedikit rasa geli seperti telapak kaki sendiri yang tak sengaja digaruk oleh orang lain. Memang ada ruas jalan yang sejak dulu telah menjadi daerah eksklusif, sebuah daerah di mana rumah-rumah mendapat barang sedikit, sentuhan desain yang lebih bermartabat. Namun ternyata keadaan dan tempat berbeda seperti itu juga penuh dengan kekurangan. Lain dengan deretan rumah-rumah baris tak bernyawa seni itu, yang ternyata bersemayam sebuah semangat yang telah ada sejak lama. Semangat itu adalah semangat kebersamaan dan berbagi. Bisa dipastikan, orang-orang tionghoa yang tinggal di ruko-ruko itu kenal baik dengan tetangga-tetangga mereka, dari buyut sampai cicit, bahkan sampai 7 turunan. Mereka adalah orang-orang yang sehari-harinya saling berbagi canda, berbagi tawa, berbagi suka, berbagi duka, berbagi kabar, berbagi informasi, berbagi dinding, berbagi air pam, berbagi air sumur, bahkan berbagi makanan, tapi tidak sampai berbagi suami. Semangat berbagi itu, adalah semangat yang sepertinya masih terjaga hingga saat ini, dan itu sangat sulit ditemukan di daerah rumah-rumah eksklusif tadi. Maka sepertinya kosakata desain seperti ini tak terdapat dalam segala macam teori arsitektur yang pernah saya baca. Dari Singkawang, ada sebuah pelajaran bahwa arsitektur yang baik tidak selalu berefek baik, dan tidak semua arsitektur buruk akan berefek buruk pula. Maka tetaplah tinggal di ruko-ruko. Biar murahan, tapi api semangat yang terjaga, tidak murahan.

Singkawang adalah walet. Dulu pernah ada satu superstisi konyol dari kalangan tionghoa Singkawang, yaitu menganggap jika ada orang yang berada di tengah jalan, melintasi pusat kota dan pulang dengan membawa pulang setitik kotoran walet di badan, yang tak sengaja terjatuhkan oleh walet-walet itu, maka orang itu adalah orang yang sedang hoki. Mungkin sekarang logikanya sudah bisa dibalik. Yaitu jika saja ada orang yang melintasi pusat kota dan pulang dalam keadaan badan dan kendaraan yang bersih tanpa sedikitpun kotoran walet, maka dia adalah orang yang paling hoki sedunia. Mungkin ini sudah bisa memberikan gambaran betapa Singkawang adalah walet. Hal ini juga didukung oleh riset setelah berada belasan hari di sana, 50%nya saya pulang ke rumah dengan 1 atau 2 tetes kotoran walet-walet tak bertanggung jawab itu. Membuat saya merasa bahwa saat itu saya adalah salah satu manusia yang paling sial sedunia. Di manakah walet-walet sebanyak itu tinggal ? saya yakin semua orang Singkawang pasti tahu. Di rumah walet pasti. Rumah walet, jika dijelaskan secara lugas dan lugu, adalah sebuah pabrik penghasil sejenis makanan yang sangat eksklusif sekaligus eksotis yang dipercaya turun temurun sebagai makanan para raja dan kaisar di Asia pada zaman dahulu kala. Percaya atau tidak, makanan itu sebenarnya adalah kumpulan ludah dari para walet yang beberapa hari itu sempat membuang air besarnya ke badan saya. Pabrik-pabrik terus bertambah. Walet, rumah walet, makanan, eksklusif, dan eksotis, di mata orang-orang tionghoa, akhirnya lagi-lagi tak akan bisa jauh dari urusan bisnis. Bisnis walet, adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Sebagai komoditas ekspor, barang ini mempunyai value yang sangat tinggi. Dan yang terpenting adalah, para buruh pabriknya, 95% adalah sukarelawan. Dan di masa-masa krisis global seperti saat ini, keuntungannya semakin terlihat. Pertama, tak perlu menggaji para buruh itu, karena mereka juga tak mengerti uang. Tak perlu uang makan, tak perlu tunjangan, tak perlu THR, tak perlu asuransi, apalagi jamsostek. Maka pebisnis walet pun tak perlu pusing untuk melakukan PHK dan memberi pesangon kepada karyawan-karyawannya yang terbang bebas di langit Singkawang sambil melempar-lemparkan bomnya ke orang-orang Singkawang yang sedang sial di bawahnya. Para sukarelawan itu. Pantas saja Singkawang penuh dengan mereka. Singkawang adalah walet.

Singkawang adalah makan. Ada 1 hal pasti selama itu. Sesuatu yang secara disiplin diatur dan disiapkan sedemikian rupa seperti sedang berada di markas komando pasukan khusus militer. Ada 3 hal utama yang diatur dengan jadwal yang ketat, yaitu jadwal makan, makan, dan makan lagi. Pulang ke Singkawang, tak bisa dilepaskan dari acara makan, dan jadwalnya yang super disiplin. Baru saja makanan sarapan masuk ke perut dan belum sempat diolah oleh mesin lambung, otak di kepala sudah terprogram untuk rencana makan 5 jam lagi. Dan 12 jam lagi. Luar biasa, berpikir seperti teknologi quad core saja. Percaya atau tidak, bagi mereka yang berbadan kurus, Singkawang adalah terapi khusus untuk membuat badan terasa lebih kencang, lebih berisi. Singkawang seperti sihir. Tiba-tiba saja badan ini bisa terasa lebih berat, kaki terasa lebih pegal, leher terasa lebih kaku (dokter bilang ini merupakan salah satu tanda-tanda kolesterol akut), perut pun terasa lebih maju, sehingga pandangan mungkin bisa tertutup dan kehilangan orientasi semburan seketika waktu berada di depan urinoir. Tiba-tiba saja seperti ada batu 5 kg yang tertanam ke dalam tubuh tanpa berasa sakit bahkan tanpa disadari. Magis. Tidak variatif sebenarnya, 2 minggu dipenuhi dengan makanan-makanan seperti itu terus, berulang-ulang, bahkan bisa membuat mesin-mesin di tubuh ini tak berani lagi untuk sekedar memikirkannya saja. Bisa muntah. Tapi bikin kangen. Sebulan meninggalkannya, nafsu kembali meningkat terhadap makanan-makanan semacam itu. Aneh memang, kalau tidak mau dibilang sihir. Maka berbicara tentang makan pun adalah sebuah menu makan yang wajib di Singkawang.

Singkawang adalah panas. Dulu waktu kecil, ibu guru sering menjelaskan bahwa negara kita yang tropis ini punya daerah khatulistiwa, salah satu daerah itu adalah kota kita, kota Singkawang. Waktu itu, tak peduli apa artinya khatulistiwa, bagi saya nama itu adalah sebuah nama yang keren sekali, sehingga saya dengan bangganya merasa nanti kalau sudah punya anak maka saya sudah punya nama untuk mereka. Anak pertama akan bernama khatulistiwa dan anak kedua, equator. Ketika semakin besar dan tahu apa artinya khatulistiwa dan equator yang sebenarnya, rasanya seperti orang bodoh. Ketika tahu bahwa arti equatorial atau khatulistiwa jika dijelaskan secara konservatif adalah sebuah tempat di mana ubun-ubun manusia berjarak paling dekat dengan matahari, maka rasanya seperti orang idiot. Kembali ke topik panas, ngomong-ngomong masa kecil, Singkawang dulu, sepertinya tak sepanas sekarang ini. Tak tahu apa badan yang sudah bertambah umur ini tak lagi mampu menjalankan proses metabolisme dan adaptasi terhadap temperatur berlebih sebaik zaman dulu ketika mesin tubuh ini masih relatif baru. Juga tak tahu apakah temperatur yang tak seperti dulu ini berkaitan dengan mencairnya es di kutub-kutub bumi yang sering disebut-sebut sebagai dampak pemanasan global yang membuat daerah-daerah geografis termaju di bumi yang paling dekat dengan matahari seperti Singkawang menjadi semakin matang. Di sisi lain, Singkawang juga merupakan daerah lembah dan pesisir yang dekat dengan laut, sehingga cukup sudah syarat-syarat panas berlebih yang ideal bagi sebuah kota. Yang jelas Singkawang tambah panas. Dan ini mungkin menjadi alasan beberapa wanita muda Singkawang yang terlihat berpakaian sangat minim sehingga saya waktu itu merasa sangat ingin meminta supaya mereka sebaiknya tak usah pakai apa-apa saja. Karena ingin berpikiran positif, maka tentu mereka berpakaian begitu karena panas. Mudah-mudahan saja teman-teman binatang yang bertransmigrasi dari daerah Jawa beberapa waktu lalu bisa merumput dan bertahan dengan baik di kota baru mereka yang lebih panas, yang pastinya tidak mereka mengerti walaupun dijelaskan kepada mereka, masalah equatorial itu. Singkawang tambah panas. Untuk yang satu ini, apa yang bisa dilakukan. Menanam pohon ? tentu saja. Ternyata sepintar-pintarnya mengatur dan merencanakan, manusia akhirnya menyerah dan takluk juga kepada alam dan semesta yang membuat mereka semakin hitam dan gosong. Badan ini rasanya gerah. Singkawang tambah panas.

Singkawang adalah mistis dan takhayul. Senang rasanya, telah lama saya ingin mengatakan ini. Senang sekaligus bergetar. Singkawang, terlalu mistis. Tak sama seperti sihir dan begitu mistisnya makan dan kotoran walet di Singkawang, orang-orang Singkawang justru punya sifat percaya takhayul yang kadang berlebihan. Dari dulu sampai sekarang. Belum berubah. Memang Singkawang itu magis. Apakah ini berkaitan dengan tingkat pendidikan dengan menyalahkan tidak adanya institusi pendidikan yang memadai di Singkawang ? tak tahu. Mungkin tak mau tahu. Muchtar Lubis pernah merumuskan beberapa sifat manusia Indonesia, salah satunya bisa ditebak, manusia Indonesia masih suka percaya takhayul. Dan ini terbukti di Singkawang. Orang-orang Singkawang, sebagian tionghoa setahu saya, adalah orang-orang yang mempunyai tingkat logika di atas normal, dan sering disebut dengan istilah kerennya, paranormal. Singkawang adalah kota seribu kuil. Maka sangat tidak etis jika saya berada di sana tapi tidak pernah masuk ke satu kuil pun di sana. Suatu kali di suatu tempat itu, saya melintasi sebuah foto yang cukup saya kenal. Dan beberapa orang sedang berlutut, menyembah di depannya. Mereka adalah para konfusianis, yang menurut saya konfusianis mistis. Karena sejujurnya sampai umur saya sekarang ini, saya tidak pernah tahu bahwa ada wasiat dari Konfusius yang mengatakan bahwa dia meminta untuk disembah. Konfusius adalah seorang filsuf besar dari China. Tiga pokok ajarannya adalah moral, moral, dan moral. Mendengarkan, menghayati, dan menerapkan ajarannya lalu menjadikan kita mulai memvisikan dia sebagai seorang nabi dengan sifat-sifat kenabian yang perlu disembah adalah sesuatu yang absurd. Di manapun. Yang lebih mengenaskan dan tak adil bagi Konfusius adalah, bahwa Konfusianisme telah menjadi semacam kedok bagi semakin berkembangnya tingkat paranormalitas di sebagian kalangan masyarakat Singkawang. Sungguh tega. Segala macam tindak tanduk animisme, dinamisme, bahkan masokisme dan sebagainya banyak diasosiasikan dengan Konfusianisme, walaupun memang Konfusius juga mengajarkan tentang menghormati orang tua dan leluhur, tapi saya yakin implementasinya seharusnya tidak seperti itu. Seperti setetes minyak bawang mie instant yang disiram dengan air panas, meski tercampur, tetap terlihat bedanya, karena substansinya sama sekali berbeda. Tapi ternyata mienya enak dimakan. Apa mau dikata, semakin mistik masyarakat Singkawang, ternyata nilai jualnya semakin tinggi setiap tahunnya, seperti mie instant yang enak itu. Tak bisa ngomong apa-apa. Saya hanya bisa menghargainya sebagai sebuah perjalanan tradisi dan budaya. Dan ikut menikmatinya, merasakan gairahnya, dengan perasaan dan mindset yang tak jelas. Tan Malaka, seorang komunis, seorang marxis. Mungkin sebagian orang Indonesia menganggapnya sebagai seorang pemberontak dan kafir gila seperti pernah saya baca dalam buku-buku sejarah terbitan CBSA sewaktu SD. Doktrinasi. Maaf, Saya pikir dia hanyalah seorang idealis. Seorang pembela kaum martil dan arit, kaum buruh dan tani. Seorang nasionalis. Saya hanya ingin meminjam satu saja pernyataannya, satu-satunya yang paling saya ingat. Bahwa dunia mistis dan takhayul menyebabkan orang mudah menyerah, dan tak punya semangat juang. Apakah ini telah terlihat secara gamblang pada masyarakat Singkawang terutama mereka yang muda sehingga sepertinya malas untuk bekerja ? Saya tak tahu apakah ini harus dikatakan secara serius atau main-main. Saya bukan agnostik. Saya hanya sedang berada di persimpangan. Bermain-main di halaman kepercayaan orang lain tentu tidak sopan, sering saya melakukannya dan bersamaan dengan itu pula diusir dari halaman yang penuh dengan probabilitas itu. Dan saya tak ingin lebih jauh lagi.

Lalu apa. Hhhh... Lalu apapun untuk Singkawang, saya tak ingin banyak peduli, karena Singkawang bagi saya akan selalu seperti itu. Seperti dulu, ketika pertama kali membuka mata ke dunia. Saya tak perlu bangga padanya. Saya hanya perlu tahu bahwa Singkawang adalah hidup, Singkawang adalah rumah yang akan selalu seperti sedia kala seperti ketika saya meninggalkannya. Egois ? terserah. Saya hanya ingin mendapatkan kembali hidup selama semuanya masih tetap ada. Seperti kata kakak, ini adalah, sampai kapanpun, kampung halaman kita. Tunggulah, suatu hari nanti kita pasti akan kembali. Ya, suatu hari nanti, tak ingin muluk-muluk dengan membawa semangat perubahan segala, tapi cukup kembali saja. Dan untuk yang satu ini, saya tak ingin hanya ngomong saja.

Singkawang, adalah apa adanya. Dengan mengerti bahwa kebahagiaan dan terutama syukur yang paling besar bukanlah ketika mampu mendapatkan apapun yang diinginkan, tapi adalah ketika mampu menginginkan apapun yang telah didapatkan. Maka Singkawang adalah apapun adanya, Singkawang adalah apapun yang telah didapatkan dalam hidup. Sama seperti ketika menerima bahwa kita telah terlahir di tanah ini.

Sore itu, 06 10 08, langit sangat jingga. Tubuh ini terasa lebih berat, ditidurkan di atas bidang hijau rumput yang ikut menjingga karena junjungannya terhadap langit. Telentang, memandang ke atas. Langit Singkawang penuh dengan suara-suara kecil walet-walet yang beterbangan, yang semakin banyak, dan semakin banyak. Di iringi dengan nyanyian jangkrik-jangkrik yang saling bersahutan ke sana kemari menghasilkan suara stereo yang indah. Kiri, kanan, kiri, kanan. Jingga semakin tua. Langit yang sebenarnya semakin tak terlihat oleh mata biasa. Matahari petang itu, sepertinya dengan enggan menenggelamkan diri, lalu dengan sangat perlahan turun, bersama dengan cacahan-cacahan awan yang murung, seakan berucap, selamat tinggal, dan sampai jumpa lagi. Sampai jumpa lagi langit Singkawang.

Lalu, bersamaan dengan lebatnya hujan di tengah hutan tropis Singkawang, dan munculnya pelangi yang anehnya bersembur muncul dari depan gunung, saya pun pergi lagi darinya.

Singkawang, bagi sebagian urbanis, mungkin adalah sebuah pelarian kembali yang indah, dan perhentian, untuk sekedar melepaskan diri sejenak, berhenti sejenak, atau selama mungkin, dari dinamika hidup yang sebenarnya tak pernah berhenti. Tubuh ini, oleh kemajuan peradaban dan teknologi, mau tidak mau telah terisi oleh unsur-unsur sintetis yang semakin lama semakin menumpuk. Wujud-wujud aditif yang menumpuk di paru-paru, menumpuk di jantung, menumpuk di hati, menumpuk di ginjal, menumpuk di lambung, menumpuk di perut, lama kelamaan mungkin akan menggerogoti hidup itu sendiri, hingga tak lagi mampu bertahan.

Singkawang bagi saya, selalu menjadi tempat yang ideal, tempat lama, sebagai tujuan pelarian dan pencarian kembali bagi hidup. Mungkin juga tempat yang paling ideal untuk berpisah dengan dunia, waktu, dan hidup. Sependek apapun, harus ada waktu untuk itu, di dalam agenda hidup. Semua terus berubah, waktu terus berjalan, umur pun mungkin tak sepanjang dulu lagi. Seberapa panjang yang diharapkan ? apa mau hidup seribu tahun lagi ? sayang saya tak punya waktu sebanyak Chairil.

Hidup ini dinasti yang pendek. Besar atau kecil, untuk mengatur dan menggerakkannya, memanfaatkan dan menggunakannya, harus selalu ada rencana. Karena itu baru benar-benar hak asasi yang paling mutlak, untuk hidup yang lebih berarti. Kekuasaan manusia atas hidup ini adalah seperti seorang kaisar pada kekaisarannya, raja pada kerajaannya, sultan pada kesultanannya. Mutlak. Kesuksesan atau keberhasilan dalam hidup, entah pada kekayaan, kekuasaan, kebesaran, kepopuleran, tak peduli kita ingin membawanya ke mana, harus selalu ada visi ke depan. Bahkan untuk menjadi miskin dan bodoh pun, harus ada visi dan rencana, untuk bisa berhasil mencapai kemiskinan dan kebodohan itu, tapi ngomong-ngomong siapa yang mau. Tak peduli kita ingin membawa hidup ini ke mana, selama nafas masih terus tersambung, harus selalu ada visi dan rencana. Ke depan. Besar ataupun kecil.

Dan untuk Singkawang, akan selalu ada rencana dan harapan yang terbayang di otak dan hati.

Jika waktunya sampai nanti, ketika tua nanti, saya ingin mempunyai sebidang tanah di hutan di Singkawang. Di daerah Pajintan mungkin. Tempat kelahiran ayah. Dan harus di hutan, untuk mendapatkan bayangan itu. Membangun sebuah rumah kayu, harus dengan arsitektur yang benar dan baik. Di sana saya akan tinggal dengan istri saya, yang juga pastinya sudah tua, tapi tetap cantik, seperti ketika pertama kali bertemu. Juga anak, jika ada. Rumah, dan sebidang kebun kecil, untuk istri saya, menanam tumbuh-tumbuhan ala kadar saja. Ketika tak lagi bekerja, lepas dari segala peradaban dan dinamika hidup yang membosankan. Setiap hari saya akan ke hutan mencari sayuran-sayuran hutan, bebas pestisida, memancing ikan, udang, kepiting, labi, bebas bahan-bahan artifisial. Pulang di rumah, ada istri yang akan memasaknya. Dan saya akan berusaha membantunya, kalau tak capek. Lalu kami makan bersama-sama. Sampai kenyang, lalu tidur. Dan besoknya begitu lagi.

Sesekali mungkin saya akan ke kota, melihat sampai sejauh mana teknologi manusia telah berkembang. Dan tentu saja, bertemu dengan teman-teman yang mungkin masih di sana, yang juga pastinya sudah tua, dan mungkin sudah kaya raya. Semoga. Melepas lelah, walau tak pernah lelah lagi. Menunggu, menghabiskan sisa umur. Sampai waktunya tiba pun, saya ingin menggali kuburan sendiri, bersama dengan istri. Mungkin di dekat sawah dengan pohon kelapa, dengan aliran sungai yang masih jernih garis-garisnya, mengalir langsung ke muara. Membelakangi gunung, menghadap laut. Di sana saya akan diam dengan istri saya. Sampai takdir yang tak berbatas. Tak masalah jika anak kami tidak akan menyembahyangi kami, tidak membakar uang-uangan untuk kami, tak menyiram air untuk kami, tak memasang bunga untuk kami. Kami tak ingin merepotkan mereka. Hidup ingin benar-benar kembali ke dasar, dan kali ini akan berhenti, berhenti untuk selamanya. Dan begitu saja dunia kami, semuanya akan berakhir.

Harapan telah ada. Dan tentu saja, semoga Singkawang, dan semua itu masih tetap ada.

Seorang sastrawan China, Lin Yu Tang pernah berkata, bahwa seorang perantau biasa adalah perantau yang tak tahu ke mana ia akan pergi, dan seorang perantau hebat adalah perantau yang ternyata, bahkan tak tahu dari mana ia datang. Seorang perantau. Tapi tak tahu apakah sebagai seorang perantau, Lin adalah termasuk yang biasa atau yang hebat. Lalu sampai kapanpun, saya akan memilih menjadi seorang perantau yang biasa saja, karena saya akan selalu ingin tahu dari mana saya datang, hingga saya bisa tahu bahwa ke sanalah saya akan pulang. Sejak rumah adalah tempat di mana hati ini berada, maka ke sanalah kita akan pulang.

Sampai waktunya nanti, kita akan pulang, pulang ke rumah, ke tempat di hati, tempat tersimpannya sejuta kenangan, tempat di mana ada keindahan yang paling sempurna.


Untuk Singkawang, pulang, dan hidup yang lebih berarti,
Ardy Prasetya.

0 comments: