Sejuta kenangan manis itu, hanya sedikit yang mampu diingat jelas, sampai kapanpun akan tetap menjadi cerita tentang hidup yang begitu berharga.
Dan pada hari-hari biasa berikutnya yang berlalu dan lalu, dalam sebuah bus kota yang pengap dengan wajah-wajah yang tertekan oleh kesehariannya, ketika sedang duduk terdiam dalam keramaian itu, dalam keberhentian terpaksa yang lama dan luar biasa, sampai pada sebuah palang pintu kereta api. Kebetulan saat itu sedang duduk di bagian belakang bus, di antara bunyi deru kendaraan dan klakson yang keras dan seperti saling bersahutan dalam bahasa lain yang tak dimengerti, hanya diam. Dalam diam itu, terdengar suara dari tempat duduk sebelah, seorang ibu sedang bercengkerama dengan anaknya yang berumur sekitar 5-6 tahun. Terdengar ibu itu berkata, “ Tuh nak, ayo lihat kereta api mau lewat “, anaknya menjawab, “ Mana Ma ? tidak keliatan “. Ibu, “ Coba Mama gendong, nah keliatan gak, Tuh dah mulai lewat “. Terdengar suara gesekan roda-roda mekanik kereta api dan sentuhan pilu dengan relnya. “ Ma, gak keliatan Ma ! “, kata anaknya, lalu Ibunya menjawab “ Itu ada suaranya, dengar gak ? itu ada suara pluitnya, dengar gak ? “, Anak, “ dengar Ma… “ …
“ Maka dengarkanlah… “ tak diduga suara dalam diam itu ternyata membawa lamunan kembali ke dalam kenangan-kenangan tentang Singkawang, dalam fenomena dan wujud yang tak sama.
Dan pada kenangan-kenangan yang telah lalu, keluar dari lamunan yang tertuliskan ketika timbul, dan terlupakan ketika tenggelam. Merepotkan, kenangan yang belum juga mampu dihabiskan dalam kata-kata itu, kadang timbul, kadang tenggelam. Kenangan-kenangan yang kini terasakan telah lebih dari sekedar ingatan akan Singkawang, tapi kenikmatan yang tak berwujud, tak berbatas masa, tak berbatas ruang dan waktu, tak berbatas personal, kenikmatan dalam indera yang dirasakan lebih dari sekedar materi.
Menikmati Singkawang, terpikirkan bukan hanya melalui sesuatu yang bersifat material, seperti berbagai makanan-makanannya, jalan-jalan sorenya, hutan-hutannya, sungai-sungainya, pantai-pantainya, tahun-tahun barunya, festival budayanya. Tapi lebih dari itu, wujud-wujud yang immaterial. Bau, rasa, gairah, suara, angin, bunyi, suasana, kebiasaan, dalam detail, semua yang abstrak dan tak konkret, semua yang tak terlukiskan, tapi terasakan, terlamunkan, terkhayalkan.
Ketika di sini merasakan sama seperti ketika berjalan di hutan-hutan di sana. Mayat-mayat daun oval dan meruncing coklat tua terus berjatuhan dari pohon-pohon yang tingginya mencapai 30 kaki membayangi hampir semua bagian tanah. Di antara celah celah pohon itu, menerawang cahaya yang terasa hangatnya pada bulu-bulu tangan. Gesekan-gesekan daun dengan daun, daun dengan ranting, daun dengan batang, dan jatuhnya daun menjejak ke tanah. Sesekali angin bertiup menyusuri tanah menyibak daun-daun itu dari kulit tanah dengan bunyi serak terseret. Kicauan-kicauan burung-burung hutan. Semua yang terdengar dan terasa biasa ketika di sana malah tidak biasa ketika tak lagi di sana. Setahun, dua tahun, lima tahun, bunyi dan rasa itu adalah kenikmatan yang membawa kembali pikiran kepada Singkawang, meski tak sedang di sana.
Dengan secangkir kopi pun, terasakan lain. Bangku-bangku kayu coklat panjang tanpa pelitur, terasa licin di tangan, berkilau di mata, kadang-kadang bau kayu lembab di hidung. Licin dan berkilau karena telah sekian lama terduduki, lembab dari titik-titik air yang menetes dari teritis-teritis atap daun rumbia, meresap melalui celah-celah ujung kayu bangku dengan gurat-gurat pecah dari pasak-pasaknya. Suara-suara dalam dialek khas yang terdengar, cangkir-cangkir dengan alas piring besi yang saling menyahut berbunyi. Bunyi-bunyi bidak catur gajah, bulat silinder dengan diameter 1.5 inci dan ketebalan 0.5 inci padat berukir, bertuliskan aksara-aksara cina, yang dihentakkan dengan begitu kencang ke papannya. Asap-asap putih yang melayang landai begitu saja melintas di hidung membawa aroma rokok lintingan kertas yang kental kadar tembakaunya. Di antara uap, asap dan hentakan-hentakan itu, dari agak jauh terdengar, mungkin dari dalam rumah, mungkin dari radio tua, mungkin pemutar kaset bersejarah, suara nyanyian yang agak tinggi melengking khas tiongkok klasik dari penyanyi wanita yang lagu-lagunya sudah sangat terkenal di sana. Bersamaan dengan bau kafein yang lewat di atas bibir, samar-samar sepertinya terdengar lagu Sedap Malamnya yang akrab di telinga. Bau kopi di Singkawang tidak lain, tapi begitu pada suasananya, suaranya, bunyinya, nyanyiannya, bau meja bangku kayunya, lintingan-lintingannya, asapnya, cangkirnya, caranya, kebiasaannya, tradisinya.
Bunyi panci-panci yang dibuka-tutup, bunyi mangkuk-mangkuk yang dirapikan, suara-suara beberapa yang terasa sudah sangat dikenal, meski tak kenal. Ketika semangkuk bakmi yang datang, bukan kepada bakminya yang berukuran kecil dan krem, atau dagingnya yang merah atau coklat, kuahnya yang berminyak. Tapi kepada bau bawang putih yang kental pada kuah, bau seledri bercampur bau alami kecambah yang begitu saja terangkat bersamaan dengan asap yang mengepul dari permukaan mangkuk, semuanya terasakan. Karena ini benar-benar bakmi, bukan bakmi ayam. Lalu terdengar bunyi pentungan bambu dari depan, seketika lamunan berpindah kepada bunyi gesekan dan tumbukan antara wajan dan spatula besi, hangatnya minyak menyergap ketika tetes-tetes air menyentuh sisi wajan yang panas, dengan asap mengudara dan mendekati tubuh. Bau asin kedelai yang masih asli terasa ketika sepiring kwetiau goreng yang telah selesai diadu di antara wajan dan spatulanya, disorongkan ke atas meja. Bunyi-bunyi pukulan bambu dan wajan dari sorongan gerobak terlewati. Ini berbau asin, tidak manis. Oh iya, dan ini kwetiau, bukan kwetio.
Ketika berjalan di atas pasir-pasir pantai-pantai, debur-debur bunyi ombak yang terdengar seperti nafas yang dikeraskan volumenya, yang dengan malas dan tak berdaya menampar pelataran pasir-pasir yang berusaha dipanjatinya tanpa batas waktu. Bau asinnya udara yang lembut begitu saja tercium. Dalam jalan di bawah bayang-bayang yang biasa ketika ada dan tak biasa ketika tak ada, biji-biji cemara lonjong sekitar 1 inci yang begitu saja jatuh mengenai badan, dari dahan dan rantingnya yang menahannya dalam tarikan selama ini. Jutaan butir-butir pasir itu pun tercampur dalam adukan seperti sudah biasa dengan hijaunya rumput-rumput liar yang merambati dan mengikisnya ke dalam dan kaki-kaki yang berjalan merasakan sela-sela licin dan halus di antara tekstur kasarnya, kadang berniat ingin menggalinya. Angin yang menerpa begitu saja bahkan membuat rambut tak pernah bisa menempel di dahi. Teriakan-teriakan menggema camar laut yang sudah biasa, dalam sepi. Oh, tentu saja, yang membuatnya berbeda, bahwa dia tidak ekspresif, dia diam tak bergerak, seolah termakan oleh nafas tidurnya. Atmosfer ketika berjalan di antara batas basah dan kering, antara batas panas dan dingin, membuatnya terasa seperti tak berjiwa, tapi itulah jiwanya. Dan tentu saja, di sana ada ingatan. Dia kesan yang pertama dari dunia, sama seperti pertama kalinya anak itu mendengarkan kereta.
Pun begitu ketika sama-sama merayakan tradisi Festival Musim Semi di sini dan di sana. Ketika kini lebih dekat dan dikatakan lebih besar memaksa pikiran seakan tidak ada waktu untuk tidak memikirkannya. Telinga menangkap derap-derap kaki-kaki kecil bersepatu baru yang terus berlarian dari gang ke gang, disertai dengan celoteh kegembiraan yang sepertinya sudah akrab. Tak terasa, itu sudah lama ditinggalkan. Kertas-kertas berwarna merah dengan bentuk-bentuk kasar tidak beraturan bertaburan begitu saja dari rumah ke rumah. Terekam kegembiraan, senyuman dan tawa baru diledakkan semalam. Sisa-sisa kabut darinya, yang dulu tak terasa enaknya dalam nafas, kenapa sekarang baru dipikirkan bahwa itu yang tak lagi dirasa. Dan itu pun sudah cukup lama ditinggalkan. Lalu pada waktu siang dan malamnya dengan manusia-manusia merah yang ramai bergerak dalam suasana yang juga merah, kelompok, berpasangan dan tunggal, muda dan tua, dari jalan ke jalan. Aura semangat yang tak terlihat tapi terasakan temperaturnya dari bibir-bibir yang melengkung turun dan raut-raut muka yang mengerut naik. Hanya dari itu. Ketika di sini makan dan minum. Dan di sana pun makan dan minum. Tapi ini tak sama. Di sini sudah banyak. Bebas, namun tanpa gairah, bisa makan, namun dengan mata yang terasa terpaku turun ke pipi dan kerongkongan yang seperti tersekat karena kekosongan perasaan, ditemani bangku-bangku multipleks yang diduco mengkilat tersapu oleh gerakan-gerakan sekitarnya, yang lapang-lapang saja tanpa ada yang akan menduduki di hari ini pun besok. Hampir tak ada di sini, sebanyak apapun, berbeda. Karena di sana, lebih dari apapun, sudah hadir wajah-wajah yang lebih dari kata cukup. Makanan dan minuman yang biasa. Tapi tak terasa biasa. Sedikit tapi tak terasa sedikit. Karena tangan-tangan yang menjamahnya mampu membuat hati dan jantung bergairah sampai terasa naik ke bahu. Lalu terus saja begitu sampai 10-15 kali perputaran cahaya kemudian. Lebih dan berbeda.
Lalu apa lagi. Mungkin belum habis.
Mungkin Singkawang akan terasa lebih dari sekedar Singkawang, seperti ketika bergerak tidak lagi terasa bergerak, berjalan tidak lagi terasa berjalan, ketika berbicara tidak lagi terasa berbicara, menulis tidak lagi terasa menulis, hingga dengan sendirinya akan terasakan, lebih dari sekedar semua yang tak tergambarkan, tak terceritakan, mungkin juga tak tertuliskan. Ini bukan apa-apa.
Singkawang itu, dlihat, didengar, diraba, dibaui, dirasakan. Singkawang itu, ah sudahlah.
Kepekaan itu, seperti kata Louis Armstrong dalam suara beratnya, bukan apa yang dikatakan, tetapi bagaimana cara mengatakannya.
Dalam lamunan tak berbatas, tiba-tiba kedua lengan merasakan tusukan-tusukan dingin yang sudah lama tak ada, berbau khas sedikit asam, yang mendadak. Semua terasa pusing, berputar lagi menuju kenyataan yang kadang tak semanis juga sepahit mimpi.
Ketika sadar, ternyata, Jakarta turun hujan lagi.
Lebih, ketika lama tak lagi terasa Singkawang,
Ardy Prasetya.
Dan pada hari-hari biasa berikutnya yang berlalu dan lalu, dalam sebuah bus kota yang pengap dengan wajah-wajah yang tertekan oleh kesehariannya, ketika sedang duduk terdiam dalam keramaian itu, dalam keberhentian terpaksa yang lama dan luar biasa, sampai pada sebuah palang pintu kereta api. Kebetulan saat itu sedang duduk di bagian belakang bus, di antara bunyi deru kendaraan dan klakson yang keras dan seperti saling bersahutan dalam bahasa lain yang tak dimengerti, hanya diam. Dalam diam itu, terdengar suara dari tempat duduk sebelah, seorang ibu sedang bercengkerama dengan anaknya yang berumur sekitar 5-6 tahun. Terdengar ibu itu berkata, “ Tuh nak, ayo lihat kereta api mau lewat “, anaknya menjawab, “ Mana Ma ? tidak keliatan “. Ibu, “ Coba Mama gendong, nah keliatan gak, Tuh dah mulai lewat “. Terdengar suara gesekan roda-roda mekanik kereta api dan sentuhan pilu dengan relnya. “ Ma, gak keliatan Ma ! “, kata anaknya, lalu Ibunya menjawab “ Itu ada suaranya, dengar gak ? itu ada suara pluitnya, dengar gak ? “, Anak, “ dengar Ma… “ …
“ Maka dengarkanlah… “ tak diduga suara dalam diam itu ternyata membawa lamunan kembali ke dalam kenangan-kenangan tentang Singkawang, dalam fenomena dan wujud yang tak sama.
Dan pada kenangan-kenangan yang telah lalu, keluar dari lamunan yang tertuliskan ketika timbul, dan terlupakan ketika tenggelam. Merepotkan, kenangan yang belum juga mampu dihabiskan dalam kata-kata itu, kadang timbul, kadang tenggelam. Kenangan-kenangan yang kini terasakan telah lebih dari sekedar ingatan akan Singkawang, tapi kenikmatan yang tak berwujud, tak berbatas masa, tak berbatas ruang dan waktu, tak berbatas personal, kenikmatan dalam indera yang dirasakan lebih dari sekedar materi.
Menikmati Singkawang, terpikirkan bukan hanya melalui sesuatu yang bersifat material, seperti berbagai makanan-makanannya, jalan-jalan sorenya, hutan-hutannya, sungai-sungainya, pantai-pantainya, tahun-tahun barunya, festival budayanya. Tapi lebih dari itu, wujud-wujud yang immaterial. Bau, rasa, gairah, suara, angin, bunyi, suasana, kebiasaan, dalam detail, semua yang abstrak dan tak konkret, semua yang tak terlukiskan, tapi terasakan, terlamunkan, terkhayalkan.
Ketika di sini merasakan sama seperti ketika berjalan di hutan-hutan di sana. Mayat-mayat daun oval dan meruncing coklat tua terus berjatuhan dari pohon-pohon yang tingginya mencapai 30 kaki membayangi hampir semua bagian tanah. Di antara celah celah pohon itu, menerawang cahaya yang terasa hangatnya pada bulu-bulu tangan. Gesekan-gesekan daun dengan daun, daun dengan ranting, daun dengan batang, dan jatuhnya daun menjejak ke tanah. Sesekali angin bertiup menyusuri tanah menyibak daun-daun itu dari kulit tanah dengan bunyi serak terseret. Kicauan-kicauan burung-burung hutan. Semua yang terdengar dan terasa biasa ketika di sana malah tidak biasa ketika tak lagi di sana. Setahun, dua tahun, lima tahun, bunyi dan rasa itu adalah kenikmatan yang membawa kembali pikiran kepada Singkawang, meski tak sedang di sana.
Dengan secangkir kopi pun, terasakan lain. Bangku-bangku kayu coklat panjang tanpa pelitur, terasa licin di tangan, berkilau di mata, kadang-kadang bau kayu lembab di hidung. Licin dan berkilau karena telah sekian lama terduduki, lembab dari titik-titik air yang menetes dari teritis-teritis atap daun rumbia, meresap melalui celah-celah ujung kayu bangku dengan gurat-gurat pecah dari pasak-pasaknya. Suara-suara dalam dialek khas yang terdengar, cangkir-cangkir dengan alas piring besi yang saling menyahut berbunyi. Bunyi-bunyi bidak catur gajah, bulat silinder dengan diameter 1.5 inci dan ketebalan 0.5 inci padat berukir, bertuliskan aksara-aksara cina, yang dihentakkan dengan begitu kencang ke papannya. Asap-asap putih yang melayang landai begitu saja melintas di hidung membawa aroma rokok lintingan kertas yang kental kadar tembakaunya. Di antara uap, asap dan hentakan-hentakan itu, dari agak jauh terdengar, mungkin dari dalam rumah, mungkin dari radio tua, mungkin pemutar kaset bersejarah, suara nyanyian yang agak tinggi melengking khas tiongkok klasik dari penyanyi wanita yang lagu-lagunya sudah sangat terkenal di sana. Bersamaan dengan bau kafein yang lewat di atas bibir, samar-samar sepertinya terdengar lagu Sedap Malamnya yang akrab di telinga. Bau kopi di Singkawang tidak lain, tapi begitu pada suasananya, suaranya, bunyinya, nyanyiannya, bau meja bangku kayunya, lintingan-lintingannya, asapnya, cangkirnya, caranya, kebiasaannya, tradisinya.
Bunyi panci-panci yang dibuka-tutup, bunyi mangkuk-mangkuk yang dirapikan, suara-suara beberapa yang terasa sudah sangat dikenal, meski tak kenal. Ketika semangkuk bakmi yang datang, bukan kepada bakminya yang berukuran kecil dan krem, atau dagingnya yang merah atau coklat, kuahnya yang berminyak. Tapi kepada bau bawang putih yang kental pada kuah, bau seledri bercampur bau alami kecambah yang begitu saja terangkat bersamaan dengan asap yang mengepul dari permukaan mangkuk, semuanya terasakan. Karena ini benar-benar bakmi, bukan bakmi ayam. Lalu terdengar bunyi pentungan bambu dari depan, seketika lamunan berpindah kepada bunyi gesekan dan tumbukan antara wajan dan spatula besi, hangatnya minyak menyergap ketika tetes-tetes air menyentuh sisi wajan yang panas, dengan asap mengudara dan mendekati tubuh. Bau asin kedelai yang masih asli terasa ketika sepiring kwetiau goreng yang telah selesai diadu di antara wajan dan spatulanya, disorongkan ke atas meja. Bunyi-bunyi pukulan bambu dan wajan dari sorongan gerobak terlewati. Ini berbau asin, tidak manis. Oh iya, dan ini kwetiau, bukan kwetio.
Ketika berjalan di atas pasir-pasir pantai-pantai, debur-debur bunyi ombak yang terdengar seperti nafas yang dikeraskan volumenya, yang dengan malas dan tak berdaya menampar pelataran pasir-pasir yang berusaha dipanjatinya tanpa batas waktu. Bau asinnya udara yang lembut begitu saja tercium. Dalam jalan di bawah bayang-bayang yang biasa ketika ada dan tak biasa ketika tak ada, biji-biji cemara lonjong sekitar 1 inci yang begitu saja jatuh mengenai badan, dari dahan dan rantingnya yang menahannya dalam tarikan selama ini. Jutaan butir-butir pasir itu pun tercampur dalam adukan seperti sudah biasa dengan hijaunya rumput-rumput liar yang merambati dan mengikisnya ke dalam dan kaki-kaki yang berjalan merasakan sela-sela licin dan halus di antara tekstur kasarnya, kadang berniat ingin menggalinya. Angin yang menerpa begitu saja bahkan membuat rambut tak pernah bisa menempel di dahi. Teriakan-teriakan menggema camar laut yang sudah biasa, dalam sepi. Oh, tentu saja, yang membuatnya berbeda, bahwa dia tidak ekspresif, dia diam tak bergerak, seolah termakan oleh nafas tidurnya. Atmosfer ketika berjalan di antara batas basah dan kering, antara batas panas dan dingin, membuatnya terasa seperti tak berjiwa, tapi itulah jiwanya. Dan tentu saja, di sana ada ingatan. Dia kesan yang pertama dari dunia, sama seperti pertama kalinya anak itu mendengarkan kereta.
Pun begitu ketika sama-sama merayakan tradisi Festival Musim Semi di sini dan di sana. Ketika kini lebih dekat dan dikatakan lebih besar memaksa pikiran seakan tidak ada waktu untuk tidak memikirkannya. Telinga menangkap derap-derap kaki-kaki kecil bersepatu baru yang terus berlarian dari gang ke gang, disertai dengan celoteh kegembiraan yang sepertinya sudah akrab. Tak terasa, itu sudah lama ditinggalkan. Kertas-kertas berwarna merah dengan bentuk-bentuk kasar tidak beraturan bertaburan begitu saja dari rumah ke rumah. Terekam kegembiraan, senyuman dan tawa baru diledakkan semalam. Sisa-sisa kabut darinya, yang dulu tak terasa enaknya dalam nafas, kenapa sekarang baru dipikirkan bahwa itu yang tak lagi dirasa. Dan itu pun sudah cukup lama ditinggalkan. Lalu pada waktu siang dan malamnya dengan manusia-manusia merah yang ramai bergerak dalam suasana yang juga merah, kelompok, berpasangan dan tunggal, muda dan tua, dari jalan ke jalan. Aura semangat yang tak terlihat tapi terasakan temperaturnya dari bibir-bibir yang melengkung turun dan raut-raut muka yang mengerut naik. Hanya dari itu. Ketika di sini makan dan minum. Dan di sana pun makan dan minum. Tapi ini tak sama. Di sini sudah banyak. Bebas, namun tanpa gairah, bisa makan, namun dengan mata yang terasa terpaku turun ke pipi dan kerongkongan yang seperti tersekat karena kekosongan perasaan, ditemani bangku-bangku multipleks yang diduco mengkilat tersapu oleh gerakan-gerakan sekitarnya, yang lapang-lapang saja tanpa ada yang akan menduduki di hari ini pun besok. Hampir tak ada di sini, sebanyak apapun, berbeda. Karena di sana, lebih dari apapun, sudah hadir wajah-wajah yang lebih dari kata cukup. Makanan dan minuman yang biasa. Tapi tak terasa biasa. Sedikit tapi tak terasa sedikit. Karena tangan-tangan yang menjamahnya mampu membuat hati dan jantung bergairah sampai terasa naik ke bahu. Lalu terus saja begitu sampai 10-15 kali perputaran cahaya kemudian. Lebih dan berbeda.
Lalu apa lagi. Mungkin belum habis.
Mungkin Singkawang akan terasa lebih dari sekedar Singkawang, seperti ketika bergerak tidak lagi terasa bergerak, berjalan tidak lagi terasa berjalan, ketika berbicara tidak lagi terasa berbicara, menulis tidak lagi terasa menulis, hingga dengan sendirinya akan terasakan, lebih dari sekedar semua yang tak tergambarkan, tak terceritakan, mungkin juga tak tertuliskan. Ini bukan apa-apa.
Singkawang itu, dlihat, didengar, diraba, dibaui, dirasakan. Singkawang itu, ah sudahlah.
Kepekaan itu, seperti kata Louis Armstrong dalam suara beratnya, bukan apa yang dikatakan, tetapi bagaimana cara mengatakannya.
Dalam lamunan tak berbatas, tiba-tiba kedua lengan merasakan tusukan-tusukan dingin yang sudah lama tak ada, berbau khas sedikit asam, yang mendadak. Semua terasa pusing, berputar lagi menuju kenyataan yang kadang tak semanis juga sepahit mimpi.
Ketika sadar, ternyata, Jakarta turun hujan lagi.
Lebih, ketika lama tak lagi terasa Singkawang,
Ardy Prasetya.
3 comments:
Hehe..
akhirnya ngeblog juga..
Sip dah...!
-rdt-
halo... thanks tamu pertama :-)
hahaha...
ya...blognya udah daku link di tempat daku ya...
keep writing!
Post a Comment