also visit

03 February, 2008

Setelah Mencicipi Arsitektur – Idealisme dan Moralitas

Setidaknya sudah mencoba ?

Jika berbicara tentang idealisme, sepertinya tidak selalu berhubungan dengan pesan moral. Kapitalisme juga ideal jika dilihat dari kacamata kapitalis. Komunisme juga ideal kalau dilihat dari kacamata komunis. Pembunuhan juga ideal kalau dilihat dari kacamata pembunuh. Tapi apakah ada pesan moral di dalamnya ?

Uang.

Jika kita hanya mengatakan bahwa sekarang kita berhadapan dengan uang, lalu apakah idealisme kita selalu lebih bermoral dari uang ? Contoh, sekarang yang kita inginkan dalam desain kita, kita ingin membuat air terjun buatan pada dinding rumah klien supaya suhu bisa diturunkan, supaya dindingnya terlihat dinamis. Tapi klien kita tidak mau, karena itu menurutnya tidak efisien, atau maintenancenya susah, atau klien hanya bilang “tidak bagus”, lalu karena mereka yang pegang uang, jadi tidak direalisasikan. Lalu jika memang kreatifitas / desain kita yang kita bilang ideal benar-benar dilaksanakan, apakah desain kita langsung membawa pesan moral ? jika klien tidak ingin, apakah lalu kliennya jadi tidak bermoral ?

Atau contoh kedua, sebuah bangunan desain kita, kita ingin bermain-main dengan cahaya, idealnya bangunan dibengkokkan sedikit di tengah-tengah, sehingga cahaya matahari yang masuk membentuk sudut yang berubah-ubah setiap jam, dan itu memang ideal. Lalu ternyata klien juga suka. Lalu karena mereka megang uang jadi, dilaksanakan ide kita itu, lalu apakah langsung bangunannya jadi membawa pesan moral ? pesan moral apa yang ingin kita sampaikan dengan membengkokkan bangunan kita ? pesan moral apa yang ingin kita sampaikan dari idealisme kita itu ?

Lalu apakah kita selalu lebih bermoral dari klien kita ?

Mungkin dan selalu, perlu diperjelas idealisme seperti apa yang membawa pesan moral yang dimaksud itu.

Tanggung jawab terhadap lingkungan alam dan sosial.

Jika moralitas adalah tanggung jawab arsitek dan arsitekturnya terhadap lingkungan dan ruang sosialnya, saya jadi merasa agak munafik dengan semua ini.

Sebuah keranjang rotan hasil dari desain produk atau selembar poster hasil dari desain grafis merupakan realisasi atas ide dasar manusia. Semua terealisasi mungkin hanya dengan biaya 50 ribu rupiah per product, hitung-hitung 100 ribu rupiah dengan perhitungan kebutuhan tenaga dan energi per satu product, bahkan bisa kurang. Dan itu realisasi ide, dan hanya realisasi ide, bukan perbanyakan, pabrikasi, dan sebagainya. Hanya realisasi.

Di arsitektur, realisasi ide dasar juga terjadi, tapi apakah cukup dengan 100 ribu rupiah per product ? seidealis apapun desain kita, seramah apapun desain kita, sesehijau apapun desain kita, seadem apapun desain kita, seberkelanjutan apapun desain kita, apakah kita masih pantas berbicara tentang moral ? Ketika daerah-daerah hijau dibabat habis, ketika daerah-daerah serapan dikorbankan, ketika begitu banyak biaya, tenaga, energi dihabiskan, hanya untuk merealisasikan satu product ide dasar manusia yang disebut arsitektur meski dengan embel-embel sustainable, atau arsitektur hijau, atau hemat energi, apa mungkin masih pantas kita berbicara tentang moral ?

Apakah cukup kita mengganti dengan taman dan area hijau di bangunan kita, untuk semua hutan yang kita babat ? apa cukup kita mengganti dengan bangunan hemat energi untuk semua energi tak terdaur yang telah kita hisap ? apakah cukup kita mengganti dengan sumur-sumur resapan untuk semua daerah resapan yang kita injak-injak dan perkeras meski dengan iming-iming bukan perkerasan ?

Kaya dan miskin.

Dari dulu arsitektur adalah mainan orang kaya, bukan berarti tak tersentuh orang miskin maka mereka lebih ramah lingkungan dari orang kaya. Tapi mungkin persentase keramahan lingkungan mereka lebih besar dibanding orang kaya. Kita belum tahu jika orang miskin sudah jadi orang kaya. Mungkin memang benar kita telah berusaha bertindak sustainable atau berusaha mengurangi konsumsi energi atau berusaha berpikir dalam ruang sosial, tapi dalam realitanya, apakah benar kita tidak sedang menutupi badan serigala kita dengan bulu-bulu domba ?

Memang kita kenal masih ada arsitek-arsitek idealis environmentalis yang memperhatikan keberlangsungan ekosistem dan konteks sosial dalam desainnya. Katakanlah Mangunwijaya, atau Adi Purnomo, Ken Yeang, lalu siapa lagi ? memang masih ada, tapi seberapa besar pengaruh keberadaan mereka di belantara arsitektur yang demikian besar ini ? seberapa besar efek tanggung jawab moral mereka terhadap lingkungan, tanah dan bumi yang sedemikian luas ?

Lalu ketika mendengar pujian-pujian arsitek-arsitek lokal kepada Louis Kahn, Tadao Ando, Oscar Niemeyer, Richard Meier, dan lain-lain, apakah pujian mereka terutama terletak pada moralitas dan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan ? yang paling menarik untuk dibahas pastinya iramanya, proporsinya, feelnya, monumentalismnya, fleksibilitasnya, tekstur materialnya, campuran betonnya, sambungan elemen2nya, permainan cahayanya. Mereka memang idealis, tapi apa pesan moral dari idealisme mereka yang bisa tersampaikan ? lalu apa tanggung jawab moral mereka terhadap lingkungan atau masyarakat, yang bisa dijadikan pelajaran ?

Philip Johnson berkata, “ architecture is an art of wasting space ”

Lalu kadang ada yang berpikir, sebaiknya semua ini dimulai dari diri sendiri, setidaknya saya tidak ikut-ikut arus kapitalisme yang membangun membabi buta, setidaknya desain saya pro dengan lingkungan, pro dengan masyarakat marjinal, paling tidak sudah ada usaha, kalau saya tidak memulai dari diri sendiri, mau tunggu siapa ? jika tidak sekarang, kapan lagi ? mungkin ini memang solusi yang terbaik, saat ini, bukan yang terakhir. Paling tidak kita tidak dengan sengaja membohongi diri kita sendiri, meskipun kita sedang melakukannya.

Mungkin sah-sah saja jika arsitek dikatakan sebagai salah satu perusak lingkungan terparah, idealis ataupun tidak idealis. Dan saya tidak banyak peduli.

Michael Graves : “ I don’t believe about morality in architecture “

Kadang-kadang memang terasa naif, seperti menjilat ludah sendiri. Alah mak, cuma datang untuk mencari sesuap nasi saja kok jadi seperti ini, apa sebaiknya belajar cara-cara korupsi yang cepat dan tepat saja daripada mengurus tentang moralitas, jadi calon arsitek begini. Cari makan saja susah. Jadi untuk saat ini saya hanya bisa bilang, “ I don’t really give a shit about morality in architecture, yet “

Dua kata untuk kerongkongan dan angan-angan arsitektur besar yang ideal bagi lingkungan dan ruang sosialnya, pahit dan munafik.

Philip Johnson : “ architects are pretty much like the high class whores ”

Di ambang kelacuran diri,
Ardy Prasetya.

0 comments: