[1] DENGAR-DENGAR
Dengar-dengar Singkawang udah ada lampu lalu lintas, bilang aja di Singkawang udah ada lampu merah, tapi bukan nama koran. Singkawang sudah maju. Mungkin kendaraan-kendaraannya roda 2, roda 3, roda 4, roda 5, roda 6, roda 12 udah banyak, gak seperti dulu, kalau nyeberang jalan, tinggal lihat kiri kanan, terus lari sekuat tenaga, atau jalan pelan-pelan sambil lambai-lambai tangan. Singkawang sekarang sudah maju. Memang udah saatnya ada lampu merah, biar keren. Walet-walet juga sudah tambah banyak. Apa barangkali lampu merahnya juga bisa difungsikan buat walet supaya gak sembarangan terbang sehingga terjadi kecelakaan di udara ? tapi dengar-dengar lagi banyak orang yang ngelanggar lampu merah, katanya gak disiplinnya jadi kelihatan, jadi ketahuan belangnya. Tapi, jangan heran lah, namanya juga barang baru, ya masih kagok pakainya. Tahu-tahu hijau berhenti, merah malah jalan. Namanya juga barang baru. Masih adaptasi. Lagian semua kota yang nama belakangnya pakai “Indonesia” kan kayak gitu. Kan ngikut ibukota. Kota besar. Orang ibukota aja ngelanggar, padahal udah berpuluh tahun pakai lampu merah, masih juga kagok. Lagian lagi belum ada yang nangkap-nangkapin, nanti kalau ada kan bisa takut sendiri (maksudnya takut keluar duit damai), kayak dulu pakai helm besar, sampai sport jantung dikejar-kejar kalau ketangkap basah gak makai. Lagian orang Singkawang kan bakal tahu diri, Singkawang kan udah maju, ngelanggar lampu merah, kayak orang kampung aja. Barangkali, Singkawang sudah maju.
Dengar-dengar Singkawang mau dibangun dengan investasi asing. Bilang aja akan ada orang mau bangun pabrik di Singkawang. Entah itu pabrik sepatu, pabrik asinan, manisan, pabrik terigu, perusahaan rokok, kontraktor seperti Total. Singkawang sudah maju. Mungkin nanti bakal banyak pabrik di Singkawang, kayak Cikarang. Tidak kayak dulu lagi, di mana-mana hutan, orang-orangnya kayak orang utan primitif aja, lalu-lalang di jalan gak pakai baju. Sekarang malu kalau-kalau dilihat ama investor berjas pakai dasi wangi parfum bawa Mercy. Gak pakai baju ? malu lah. Tapi Singkawang juga makin panas. Gimana nggak, kata Al Gore, es di Kutub sudah mencair saking panasnya bumi ini. Apa jadinya daerah Khatulistiwa ? (itu kan jelas-jelas ada hotelnya, kalau gak salah di Jalan Ponegoro-nama pahlawan). Pakai jas dasi ? apa gak panas ? Kan ada AC. Kan udah dibilang Singkawang udah maju. Nanti lapangan kerja pun jadi banyak. Kalau dulu mancing batok, bikin hakoi, jualan bubur, sekarang kan bisa nyoba lamar jadi programmer, staf marketing, jadi pegawai inventory, operasional, maintenance, syukur-syukur bisa jadi manager, direktur cabang. Mumpung belum pakai robot, kayak Willy Wonka. Barangkali, Singkawang sudah maju.
Dengar-dengar orang Singkawang banyak yang berhasil di luar. Bilang saja… Kalau di Jakarta, orang Singkawang sudah jadi penguasa Kerendang Jembatan Lima, penguasa Metro Tanah Abang, penunggu Pasar Pagi Mangga Dua. Orang Singkawang sudah maju. Tidak seperti dulu lagi. Orang-orang tua duduk-duduk kongkow di warung kopi sambil makan pisang goreng srikaya, nasi putih ama holansujap makhikoi (kayak lagu Obeng), anak-anak kecil nangkap ikan di got, main kelereng, kejar-kejaran, petani-petani cuma bisa jualan durian dan rambutan di pasar. Kata orang itu udah gak zaman. Sekarang zamannya olahraga daki gunung di Kulor, aerobik, cha-cha, bisnis walet, kelapa sawit, main futsal, petani jualan bunga hias kayak Anthurium yang harganya selangit, makan Tomyam dan Padthai, KFC, Burger dan Steak, main PS 3, ke Fun Station. Kelereng ? malu-maluin. Barangkali, Singkawang sudah maju.
Dengar-dengar di Singkawang sekolah gratis SD, SMP sampai SMA, sayang belum ada universitas, kalau gak kan kuliah juga gratis. Tapi udah mau dibangun, tenang aja. Nanti kuliah juga bisa gratis. Sekolah tinggi ? ngapain ? dari dulu juga gitu-gitu aja. Udah ketinggalan zaman. Sekarang zamannya uni-unian, biar maju. Singkawang kan udah mau maju, masa dari dulu kayak gitu-gitu aja. Nanti Singkawang udah maju masa gak ada universitas ? kota maju gak ada universitas, kapan baru bisa maju ?masa nanti anak-anak mudanya lulusan sekolah menengah semua ? yang ada malah pada pergi kuliah ke luar gak pulang-pulang, bangun kota orang lain, kota sendiri dilupakan. Kapan Singkawang mau maju ? atau kapan Singkawang sudah maju ? Anak-anak muda Singkawang sekarang juga udah keren-keren pakai baju 126 yang ada blink-blinknya, lengan panjang digulung sedikit, kayak artis-artis Taiwan gitu lah. masa pakai baju tradisional ? gak level lah. Rambut aja udah dicat merah kuning coklat, masa baju adat ? parah-parahnya nanti diklaim jadi punya orang lagi, lagi-lagi malu-maluin. Malu-maluin ? Barangkali, Singkawang sudah maju.
Dengar-dengar Singkawang mau bangun bandara dan pelabuhan. Udah ada kodenya lagi. Tinggal nunggu waktu saja, Luar biasa. Mau ngomong apa lagi, Singkawang memang sudah maju. Kalau dulu, mau naik pesawat aja pantat harus pegel 2-3 jam sebelum bisa lihat pesawat, gila aja. Sebentar lagi, tinggal jalan kaki juga sampai ke bandara, nanti bisa ke Singkawang cuma buat makan choi po pan, makan bakmi dan kwetiau goreng. Habis makan, naik pesawat pulang lagi. Keren. Tapi nanti pesawatnya ada gak penumpangnya ? takut apa, orang Singkawang banyak kok, hampir 200.000 orang penduduknya, belum lagi nanti orang dari Pemangkat, Tebas, Sanggau, Ketapang, dan lain-lain yang berbondong-bondong. Kedengarannya saja sudah menakutkan, pasti ramai.
Dengar-dengar selanjutnya bakal ada universitas, sebagai pusat akademik dan tolak ukur pembangunan kota Singkawang. kalau dulu mau kuliah aja harus test dulu di kota besar yang namanya Pontianak, bangun pagi-pagi, mandi buru-buru, sikat gigi aja lupa. Sekarang malamnya masih bisa main RF di Cyber X sampai pagi, habis itu minum kopi dulu di Nikmat, bisa langsung nyelonong test di kampus universitas Singkawang. Kalau dulu mau sekolah keren harus terbang jauh-jauh ke Jakarta, ke Bandung, ke Jogja, ke Malang, lebih keren lagi, yang gengsi, ya ke Taiwan (tapi bukan buat dikawinin), ke Singapur, ke Jepang, ke Kuching, Malaysia, nanti lanjut ke Australia. Nanti tinggal naik motor 5 menit sampai. Tapi ingat, harus pakai helm besar, jangan pakai helm-helman warna hitam yang dihias-hias lagi, biar gak usah keluar duit damai. Tapi, nanti ada gak siswanya ? takut apa, nanti tinggal bagaimana usaha kita saja. Barangkali, Singkawang memang sudah maju.
Singkawang sudah maju ?
Tidak ikut membangun. Makanya jangan hanya bisa dengar-dengar. Ikut terjun langsung bangun Singkawang. Baru namanya orang Singkawang yang punya rasa memiliki kampungnya sendiri. Istilah kerennya “sense of belonging”. Makanya jangan cuman bisanya ngomong doang. Cuman bisa mengkritik, gak mau dikritik. Coba masuklah dalam kehidupan yang nyata, baru tahu rasa. Jangan hanya pintar ngomong aja. Kalau bisanya cuman ngomong mendingan diam aja. Pesimistis, mimpi aja tak punya. Kapan Singkawang mau maju kalau orang-orangnya pesimis dan hanya bisa ngomong aja. Makanya jangan hanya bisa melihat, hanya bisa jadi penonton di lahan sendiri. Jadilah pemain dalam pembangunan Singkawang, baru bisa dikatakan ikut memberi kontribusi, ikut melakukan sesuatu untuk pembangunan Singkawang.
Singkawang maju ?
Singkawang mau maju ?
Singkawang kapan maju ?
Bangun Singkawang ?
Dengar-dengar…
[2] LALU
Bintarto : “ Kota adalah sebuah jaringan kehidupan manusia-manusia dengan strata sosial ekonomi yang heterogen, dengan corak kehidupan yang cenderung materialistik. “
Kota merupakan simbol kebudayaan manusia, di mana terdapat ragam manusia dengan kebutuhan-kebutuhannya yang mengadu nasib dan berusaha mewujudkan mimpi dan harapan mereka. Heterogenitas inilah yang membuat sebuah kota bisa tumbuh berkembang menjadi sebuah “karya seni” (fine art), baik di bidang sosial, ekonomi, maupun budaya. Di sini perlu ada konsep perencanaan, strategi yang kreatif dan efektif yang bisa mengakomodir semua kebutuhan manusia-manusia secara kolektif kuantitatif di dalamnya.
Jika kebutuhan adalah dasarnya, maka heterogenitas atas kebutuhan adalah awalnya, lahannya. Maslow membagi kebutuhan manusia yang heterogen tersebut dari yang paling dasar sampai yang paling atas, dari yang paling generik sampai yang paling prestisius. Kebutuhan-kebutuhan yang jika diurutkan dari yang paling rendah adalah kebutuhan fisik : udara, air, makan, olahraga, istirahat, kebebasan dari penyakit, cacat dan lain-lain; kebutuhan keamanan : keselamatan, perlindungan, stabilitas dan lain-lain; kebutuhan sosial : cinta, saling memiliki, saling membutuhkan dan lain-lain; kebutuhan ego : gengsi, kekuasaan, pengakuan, prestisi dan lain-lain; dan kebutuhan atas aktualisasi diri : pembangunan, pengembangan, kreasi, inovasi, idealisasi dan lain-lain. Heterogenitas ini kemudian membuat manusia-manusia terbagi dalam strata-strata sosial ekonomi yang berbeda-beda dan labil. Berbicara keinginan, semua level tersebut adalah keinginan yang akan berubah menjadi kebutuhan seiring naiknya “status” sosial ekonomi manusia sendiri.
Lalu perlu dijawab, seberapa heterogenkah strata sosial dan ekonomi masyarakat di Singkawang ? terlepas dari aneka ragam suku budaya yang menghiasi peta kota. Terlepas juga dari elit-elit modernis yang merasa Singkawang seharusnya bukan Singkawang. Seberapa besar bagian yang kini benar-benar membutuhkan diri mereka untuk diaktualisasikan ? ataukah bagian besarnya sesungguhnya masih berkutat pada kegalauan di antara kebutuhan fisik, keamanan, sosial, dengan keinginan-keinginan dini untuk diakui atas gengsinya ? Mungkin memang begitu tipikal konsepsi dan kreasi inovasi dalam pembangunan Indonesia masa kini yang akhirnya hanya perlu menyentuh pada level kulit saja, level paling atas, serta tak mampu dan memang tak berniat masuk lebih dalam lagi. Secara Indonesia yang demokratis, mungkinkah harus menyalahkan bawaan sejak lahir itu sebagai linggis raksasa yang mencungkil dan memperlebar jurang ? sebagai bom waktu dari keadaan yang disebut sebagai urban yang modern yang maju dengan tujuan menjadi wujud yang segemerlap mungkin ?
Kusumawijaya : “ Permasalahan mendasar budaya berkota di Indonesia adalah bahwa urbanitas pada saat yang sama adalah modernitas itu sendiri. “
Kota dan kemajuannya banyak dan sudah terlanjur dipersepsikan sebagai modernitas. Terlepas dari apakah itu keinginan atau kebutuhan, terlepas dari ada tidaknya jejak historis, tidak akan ada yang menyangkali fakta bahwa memang atribut-atribut modernlah yang dilihat sebagai tolok ukur. Bahwa mobilisasi masyarakat yang luar biasa di siang hari dengan kawasan-kawasan elit bertabur tinggi rendah tiang-tiang beton menandai apa yang disebut dengan kemajuan. Bahwa taburan gemerlap lampu-lampu warna-warni di malam hari yang menjadi daya tarik kepada mereka yang disebut sebagai orang desa untuk merasa kota sebagai daerah modern yang hebat menandai apa yang disebut sebagai progresif. Sialnya, modernitas juga seperti layaknya kubus putih dingin tak berperasaan yang tak pernah peduli atas konteks budaya dalam budaya berkota. Kelamaan yang di satu sisi perlu dipertahankan sebagai jejak juga hanya bisa diam termakan oleh buruan dominasi kebaruan di sisi lain yang perlu dan ingin mencuat sebagai indikasi dari keadaan yang progresif tersebut. Lalu barangkali Singkawang akan ingin seperti itu. Menjadi salah satu kota besar yang modern di dunia, paling tidak Indonesia, atau Kalimantan, paling tidak, atau Kalbar, paling tidak.
Budihardjo : “ Kita memang harus mencoba mengangkat kepala untuk mencoba melihat keluar, namun di saat bersamaan, kaki harus tetap dipancangkan kuat-kuat di bumi tempat kita berdiri “
Lalu masih adakah kebutuhan atas jati diri ? mengingat hasil-hasil rancang bangun tanpa jejak yang dipungut dari etalase modern ala Barat yang sama rata dan sama rasanya telah terlihat di semua kota besar di Indonesia, yang perlahan hilang jati dirinya, dan masih sibuk bernegosiasi untuk membentuk simbol-simbolnya yang baru. Kapitalisme yang terselubung indah dalam balutan demokrasi prematur akhirnya menurunkan semuanya ke lubang yang sama. Munafik memang, tapi masih perlukah jati diri ? masih perlukah jejak sejarah dan karakteristik tanah dan manusia-manusianya yang masing-masing telah unik ? atau memang benar modernisasi di tanah-tanah kita bukan lagi alat, namun telah menjadi tujuan akhir dari progresifitas, sehingga apa yang dikatakan oleh Bintarto yang kini terasa sangat real tidak mampu lagi diubah ? Singkawang ?
Mungkin masih lama. Mungkin terlalu berlebihan. Dan belum parah untuk mulai memikirkan tentang keberlanjutan. Atau mungkin belum mulai sama sekali.
[3] NGOMONG-NGOMONG
Ngomong-ngomong, sesungguhnya apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat Singkawang ? sekedar menjadi modern ? sekedar kebanggaan bahwa Singkawang sudah ada lampu merah ? sudah ada pabrik ? sudah ada bandara ? sudah ada pelabuhan ? sudah ada universitas ? orang Singkawang itu butuh apa sebenarnya ? mungkin Singkawang sudah maju. Tapi orang Singkawang sebenarnya butuh apa ?
Ngomong-ngomong lagi, apa sebenarnya arti dari melakukan sesuatu untuk pembangunan Singkawang ? sesuatu yang seperti apa yang harus dilakukan sehingga Singkawang bisa dikatakan sebagai telah dibangun atau telah terbangunkan oleh sesuatu yang telah dilakukan itu ? Apakah ikut membangun Singkawang berarti harus kembali ke Singkawang dan menampakkan batang hidung dengan terjun langsung dan bebas tanpa mengerti dan tahu apa yang bisa diterjuni ? Apa definisi dari berbuat dan tidak berbuat itu? Dengan apa seseorang bisa dikatakan sebagai yang telah berbuat ? apakah dengan menjadi pengusaha super sukses dan investor untuk mengeksploitasi potensi kota dalam sudut pandang komersil yang kemudian dipuji sebagai ikut mengembangkan dan membangun kota ? apakah dengan menjadi seorang karyawan dan pramuniaga yang menawarkan barang-barang jualan majikannya yang pada akhirnya dihargai sebagai orang biasa yang mencari penghidupan di sebuah kota kecil yang lalu mendapat kebanggaan sebagai ikut mendukung pembangunan kota ? apakah dengan mendaftarkan diri sebagai pegawai negeri sipil yang jumlahnya berlebih-lebihan sehingga lebih banyak yang sangat sibuk untuk duduk bersantai di kantor untuk kemudian disaluti atas jasanya sebagai abdi negeri ? atau apakah dengan menjadikan mereka yang menjual diri dan anak-anak perempuan mereka ke luar negeri atas nama kemiskinan dan usaha pamungkas untuk melanjutkan hidup sebagai contoh atas kemampuan yang disebut sebagai membantu perekonomian dan sumber devisa ?
Demi Tuhan atau demi siapa saja, sebenarnya bagaimana caranya baru bisa dikategorikan sebagai ikut dalam pembangunan Singkawang ? Mungkinkah akan ada yang berbagi ? Apakah cukup dengan cara sejalan dan mendukung mimpi-mimpi yang dikatakan besar dan ide-ide yang dikatakan cemerlang yang bagaimana cara mewujudkannya pun tidak tahu, tidak mampu tahu, tidak berniat tahu, dan tidak akan pernah tahu, yang akhirnya hanya menyisakan cangkang kosong untuk selanjutnya diisi dengan wacana-wacana besar yang lain yang sedang menunggu di belakang dan begitu seterusnya ? Atau tak terkecuali setelah berwacana tanpa arah, apakah semuanya hanyalah kepura-puraan, yang sebenarnya kita semua sama-sama tidak pernah tahu apa yang kita maksud ? Lalu kembali lagi ke dalam mimpi dan harapan sebagai penduduk kota yang mengadu nasib seperti kata Bintarto, yang kemudian seakan menunggu waktu untuk dikatakan sebagai yang tidak berbuat apa-apa, sebagai penduduk kota yang punya kebutuhan pun di sisi lain juga dibutuhkan untuk dikatakan tidak berbuat apa-apa ? Apakah ada yang akan berbagi tentang cara yang benar untuk berbuat sehingga tidak terlihat seperti tidak berbuat ?
Bagaimana bisa “hanya” yang sudah cukup, dan “berbuat” yang tidak pernah dirasakan cukup ? “memberi” cukup ? “menonton” tidak cukup ? “mendukung” paling tidak ? “mendukung” sambil menonton ? paling tidak, cukup atau tidak cukup ? apakah dengan berteriak ? “tidak berteriak” tidak cukup ? “berteriak” cukup ? paling tidak sudah “berteriak” dan ada yang mengatakan “paling tidak” atau “sudah cukup” ? “cukup” seperti apa yang sudah cukup, belum cukup, tidak cukup, atau paling tidak ?
Seberapa cukup adalah cukup atau tidak cukup ?
Ngomong-ngomong sana-sini juga akhirnya tidak mampu mendefinisikan apa yang dikatakan sebagai “sudah berbuat apa-apa”, sebagai “tidak berbuat apa-apa” dan “belum berbuat apa-apa”. Tidak mampu mendefinisikan maju bukan modern. Mungkinkah ada baiknya kita menghadap ke bawah melihat piring-piring sendiri dan mulai menghabiskan makanan kita masing-masing ?
Lalu pada kesimpulannya, ketika semua terasakan dengan depan yang berkabut, kita sendirikah yang menyatakan di bawah sadar bahwa kita semua orang Singkawang memang ingin dan perlu pergi karena kita tidak punya arah ? karena kita tidak tahu apa yang kita butuhkan dan untuk apa kita dibutuhkan ? karena kita memang malu menjadi orang Singkawang yang Singkawang ? karena kita tidak punya gunung yang bisa dinaiki dan lembah yang bisa dituruni ? karena kita memang benar-benar tidak pernah tahu apa yang sedang kita tuju dan apa yang sedang kita bicarakan?
Atau apakah semuanya itu akhirnya lagi-lagi harus dibebankan pada stereotip dan tipikalitas ala Indonesia ?
[4] TERUS
Singkawang sebenarnya maju atau tidak maju ? Singkawang ini sebenarnya mau diapakan supaya bisa “dikatakan” sebagai “maju” oleh kita ? Sebenarnya yang namanya orang Singkawang itu inginnya apa ? butuhnya apa ? saya juga benar-benar tidak tahu.
Apakah masih perlu kata-kata bermimpi besar dan memberikan ide cemerlang ? Apakah ada yang akan berbagi, tentang bagaimana caranya membangun sebuah kota kecil yang diapit oleh gunung dan laut dengan karakter yang unik, tapi seperti tertidur, secara “berbeda” dengan mengesampingkan cara-cara paternalistik pembangunan sebuah kota yang telah dijadikan konvensi ? Barangkali tidak, karena pada akhirnya semua akan dikembalikan pada jalur dan pola-pola tersebut, dan selanjutnya keberhasilannya akan diukur menurut konvensi yang seperti telah menjadi hukumnya. Jadi sebenarnya masih ada dan perlukah mimpi besar dan ide cemerlang ?
Seperti, ketika api bisa dihasilkan dengan sekali tekan, masih perlukah kita mencoba membenturkan batu atau menggesek kayu ? ketika lampu telah ditemukan, masih perlukah kita mencoba menciptakan alat penerang, terlebih, masih perlukah kita mencoba menemukan listrik ? atau kita memang tidak pernah tahu apa fungsi dan bagaimana cara menggunakannya.
Apakah kota sudah benar-benar kota ?
Kebutuhan bukan keinginan. Keberadaan sebuah kota pada dasarnya harus memenuhi kebutuhan penduduk di dalamnya, bukan untuk memenuhi keinginan. Namun, lagi-lagi menyalahkan kodrat manusia sebagai makhluk yang hanya tidak ingin dan tidak butuh kesempurnaan, kadang-kadang tidak mampu membedakan apa yang termasuk kebutuhan bukan apa yang termasuk keinginan. Sebagai yang tidak pernah merasa cukup dan puas, saking banyaknya keinginan akhirnya membuat manusia sendiri tidak pernah tahu dan terpikirkan tentang apa sebenarnya kebutuhannya.
Namanya juga dengar-dengar, lihat-lihat, ngomong-ngomong, nunggu-nunggu.
Mao Tze Dong : “ Just let the flowers bloom ”.
Mungkin, dengan caranya sendiri, diam-diam, Singkawang membangun. Semoga saja.
[5] DIAM-DIAM SAJA
Ardy Prasetya.
Dengar-dengar Singkawang udah ada lampu lalu lintas, bilang aja di Singkawang udah ada lampu merah, tapi bukan nama koran. Singkawang sudah maju. Mungkin kendaraan-kendaraannya roda 2, roda 3, roda 4, roda 5, roda 6, roda 12 udah banyak, gak seperti dulu, kalau nyeberang jalan, tinggal lihat kiri kanan, terus lari sekuat tenaga, atau jalan pelan-pelan sambil lambai-lambai tangan. Singkawang sekarang sudah maju. Memang udah saatnya ada lampu merah, biar keren. Walet-walet juga sudah tambah banyak. Apa barangkali lampu merahnya juga bisa difungsikan buat walet supaya gak sembarangan terbang sehingga terjadi kecelakaan di udara ? tapi dengar-dengar lagi banyak orang yang ngelanggar lampu merah, katanya gak disiplinnya jadi kelihatan, jadi ketahuan belangnya. Tapi, jangan heran lah, namanya juga barang baru, ya masih kagok pakainya. Tahu-tahu hijau berhenti, merah malah jalan. Namanya juga barang baru. Masih adaptasi. Lagian semua kota yang nama belakangnya pakai “Indonesia” kan kayak gitu. Kan ngikut ibukota. Kota besar. Orang ibukota aja ngelanggar, padahal udah berpuluh tahun pakai lampu merah, masih juga kagok. Lagian lagi belum ada yang nangkap-nangkapin, nanti kalau ada kan bisa takut sendiri (maksudnya takut keluar duit damai), kayak dulu pakai helm besar, sampai sport jantung dikejar-kejar kalau ketangkap basah gak makai. Lagian orang Singkawang kan bakal tahu diri, Singkawang kan udah maju, ngelanggar lampu merah, kayak orang kampung aja. Barangkali, Singkawang sudah maju.
Dengar-dengar Singkawang mau dibangun dengan investasi asing. Bilang aja akan ada orang mau bangun pabrik di Singkawang. Entah itu pabrik sepatu, pabrik asinan, manisan, pabrik terigu, perusahaan rokok, kontraktor seperti Total. Singkawang sudah maju. Mungkin nanti bakal banyak pabrik di Singkawang, kayak Cikarang. Tidak kayak dulu lagi, di mana-mana hutan, orang-orangnya kayak orang utan primitif aja, lalu-lalang di jalan gak pakai baju. Sekarang malu kalau-kalau dilihat ama investor berjas pakai dasi wangi parfum bawa Mercy. Gak pakai baju ? malu lah. Tapi Singkawang juga makin panas. Gimana nggak, kata Al Gore, es di Kutub sudah mencair saking panasnya bumi ini. Apa jadinya daerah Khatulistiwa ? (itu kan jelas-jelas ada hotelnya, kalau gak salah di Jalan Ponegoro-nama pahlawan). Pakai jas dasi ? apa gak panas ? Kan ada AC. Kan udah dibilang Singkawang udah maju. Nanti lapangan kerja pun jadi banyak. Kalau dulu mancing batok, bikin hakoi, jualan bubur, sekarang kan bisa nyoba lamar jadi programmer, staf marketing, jadi pegawai inventory, operasional, maintenance, syukur-syukur bisa jadi manager, direktur cabang. Mumpung belum pakai robot, kayak Willy Wonka. Barangkali, Singkawang sudah maju.
Dengar-dengar orang Singkawang banyak yang berhasil di luar. Bilang saja… Kalau di Jakarta, orang Singkawang sudah jadi penguasa Kerendang Jembatan Lima, penguasa Metro Tanah Abang, penunggu Pasar Pagi Mangga Dua. Orang Singkawang sudah maju. Tidak seperti dulu lagi. Orang-orang tua duduk-duduk kongkow di warung kopi sambil makan pisang goreng srikaya, nasi putih ama holansujap makhikoi (kayak lagu Obeng), anak-anak kecil nangkap ikan di got, main kelereng, kejar-kejaran, petani-petani cuma bisa jualan durian dan rambutan di pasar. Kata orang itu udah gak zaman. Sekarang zamannya olahraga daki gunung di Kulor, aerobik, cha-cha, bisnis walet, kelapa sawit, main futsal, petani jualan bunga hias kayak Anthurium yang harganya selangit, makan Tomyam dan Padthai, KFC, Burger dan Steak, main PS 3, ke Fun Station. Kelereng ? malu-maluin. Barangkali, Singkawang sudah maju.
Dengar-dengar di Singkawang sekolah gratis SD, SMP sampai SMA, sayang belum ada universitas, kalau gak kan kuliah juga gratis. Tapi udah mau dibangun, tenang aja. Nanti kuliah juga bisa gratis. Sekolah tinggi ? ngapain ? dari dulu juga gitu-gitu aja. Udah ketinggalan zaman. Sekarang zamannya uni-unian, biar maju. Singkawang kan udah mau maju, masa dari dulu kayak gitu-gitu aja. Nanti Singkawang udah maju masa gak ada universitas ? kota maju gak ada universitas, kapan baru bisa maju ?masa nanti anak-anak mudanya lulusan sekolah menengah semua ? yang ada malah pada pergi kuliah ke luar gak pulang-pulang, bangun kota orang lain, kota sendiri dilupakan. Kapan Singkawang mau maju ? atau kapan Singkawang sudah maju ? Anak-anak muda Singkawang sekarang juga udah keren-keren pakai baju 126 yang ada blink-blinknya, lengan panjang digulung sedikit, kayak artis-artis Taiwan gitu lah. masa pakai baju tradisional ? gak level lah. Rambut aja udah dicat merah kuning coklat, masa baju adat ? parah-parahnya nanti diklaim jadi punya orang lagi, lagi-lagi malu-maluin. Malu-maluin ? Barangkali, Singkawang sudah maju.
Dengar-dengar Singkawang mau bangun bandara dan pelabuhan. Udah ada kodenya lagi. Tinggal nunggu waktu saja, Luar biasa. Mau ngomong apa lagi, Singkawang memang sudah maju. Kalau dulu, mau naik pesawat aja pantat harus pegel 2-3 jam sebelum bisa lihat pesawat, gila aja. Sebentar lagi, tinggal jalan kaki juga sampai ke bandara, nanti bisa ke Singkawang cuma buat makan choi po pan, makan bakmi dan kwetiau goreng. Habis makan, naik pesawat pulang lagi. Keren. Tapi nanti pesawatnya ada gak penumpangnya ? takut apa, orang Singkawang banyak kok, hampir 200.000 orang penduduknya, belum lagi nanti orang dari Pemangkat, Tebas, Sanggau, Ketapang, dan lain-lain yang berbondong-bondong. Kedengarannya saja sudah menakutkan, pasti ramai.
Dengar-dengar selanjutnya bakal ada universitas, sebagai pusat akademik dan tolak ukur pembangunan kota Singkawang. kalau dulu mau kuliah aja harus test dulu di kota besar yang namanya Pontianak, bangun pagi-pagi, mandi buru-buru, sikat gigi aja lupa. Sekarang malamnya masih bisa main RF di Cyber X sampai pagi, habis itu minum kopi dulu di Nikmat, bisa langsung nyelonong test di kampus universitas Singkawang. Kalau dulu mau sekolah keren harus terbang jauh-jauh ke Jakarta, ke Bandung, ke Jogja, ke Malang, lebih keren lagi, yang gengsi, ya ke Taiwan (tapi bukan buat dikawinin), ke Singapur, ke Jepang, ke Kuching, Malaysia, nanti lanjut ke Australia. Nanti tinggal naik motor 5 menit sampai. Tapi ingat, harus pakai helm besar, jangan pakai helm-helman warna hitam yang dihias-hias lagi, biar gak usah keluar duit damai. Tapi, nanti ada gak siswanya ? takut apa, nanti tinggal bagaimana usaha kita saja. Barangkali, Singkawang memang sudah maju.
Singkawang sudah maju ?
Tidak ikut membangun. Makanya jangan hanya bisa dengar-dengar. Ikut terjun langsung bangun Singkawang. Baru namanya orang Singkawang yang punya rasa memiliki kampungnya sendiri. Istilah kerennya “sense of belonging”. Makanya jangan cuman bisanya ngomong doang. Cuman bisa mengkritik, gak mau dikritik. Coba masuklah dalam kehidupan yang nyata, baru tahu rasa. Jangan hanya pintar ngomong aja. Kalau bisanya cuman ngomong mendingan diam aja. Pesimistis, mimpi aja tak punya. Kapan Singkawang mau maju kalau orang-orangnya pesimis dan hanya bisa ngomong aja. Makanya jangan hanya bisa melihat, hanya bisa jadi penonton di lahan sendiri. Jadilah pemain dalam pembangunan Singkawang, baru bisa dikatakan ikut memberi kontribusi, ikut melakukan sesuatu untuk pembangunan Singkawang.
Singkawang maju ?
Singkawang mau maju ?
Singkawang kapan maju ?
Bangun Singkawang ?
Dengar-dengar…
[2] LALU
Bintarto : “ Kota adalah sebuah jaringan kehidupan manusia-manusia dengan strata sosial ekonomi yang heterogen, dengan corak kehidupan yang cenderung materialistik. “
Kota merupakan simbol kebudayaan manusia, di mana terdapat ragam manusia dengan kebutuhan-kebutuhannya yang mengadu nasib dan berusaha mewujudkan mimpi dan harapan mereka. Heterogenitas inilah yang membuat sebuah kota bisa tumbuh berkembang menjadi sebuah “karya seni” (fine art), baik di bidang sosial, ekonomi, maupun budaya. Di sini perlu ada konsep perencanaan, strategi yang kreatif dan efektif yang bisa mengakomodir semua kebutuhan manusia-manusia secara kolektif kuantitatif di dalamnya.
Jika kebutuhan adalah dasarnya, maka heterogenitas atas kebutuhan adalah awalnya, lahannya. Maslow membagi kebutuhan manusia yang heterogen tersebut dari yang paling dasar sampai yang paling atas, dari yang paling generik sampai yang paling prestisius. Kebutuhan-kebutuhan yang jika diurutkan dari yang paling rendah adalah kebutuhan fisik : udara, air, makan, olahraga, istirahat, kebebasan dari penyakit, cacat dan lain-lain; kebutuhan keamanan : keselamatan, perlindungan, stabilitas dan lain-lain; kebutuhan sosial : cinta, saling memiliki, saling membutuhkan dan lain-lain; kebutuhan ego : gengsi, kekuasaan, pengakuan, prestisi dan lain-lain; dan kebutuhan atas aktualisasi diri : pembangunan, pengembangan, kreasi, inovasi, idealisasi dan lain-lain. Heterogenitas ini kemudian membuat manusia-manusia terbagi dalam strata-strata sosial ekonomi yang berbeda-beda dan labil. Berbicara keinginan, semua level tersebut adalah keinginan yang akan berubah menjadi kebutuhan seiring naiknya “status” sosial ekonomi manusia sendiri.
Lalu perlu dijawab, seberapa heterogenkah strata sosial dan ekonomi masyarakat di Singkawang ? terlepas dari aneka ragam suku budaya yang menghiasi peta kota. Terlepas juga dari elit-elit modernis yang merasa Singkawang seharusnya bukan Singkawang. Seberapa besar bagian yang kini benar-benar membutuhkan diri mereka untuk diaktualisasikan ? ataukah bagian besarnya sesungguhnya masih berkutat pada kegalauan di antara kebutuhan fisik, keamanan, sosial, dengan keinginan-keinginan dini untuk diakui atas gengsinya ? Mungkin memang begitu tipikal konsepsi dan kreasi inovasi dalam pembangunan Indonesia masa kini yang akhirnya hanya perlu menyentuh pada level kulit saja, level paling atas, serta tak mampu dan memang tak berniat masuk lebih dalam lagi. Secara Indonesia yang demokratis, mungkinkah harus menyalahkan bawaan sejak lahir itu sebagai linggis raksasa yang mencungkil dan memperlebar jurang ? sebagai bom waktu dari keadaan yang disebut sebagai urban yang modern yang maju dengan tujuan menjadi wujud yang segemerlap mungkin ?
Kusumawijaya : “ Permasalahan mendasar budaya berkota di Indonesia adalah bahwa urbanitas pada saat yang sama adalah modernitas itu sendiri. “
Kota dan kemajuannya banyak dan sudah terlanjur dipersepsikan sebagai modernitas. Terlepas dari apakah itu keinginan atau kebutuhan, terlepas dari ada tidaknya jejak historis, tidak akan ada yang menyangkali fakta bahwa memang atribut-atribut modernlah yang dilihat sebagai tolok ukur. Bahwa mobilisasi masyarakat yang luar biasa di siang hari dengan kawasan-kawasan elit bertabur tinggi rendah tiang-tiang beton menandai apa yang disebut dengan kemajuan. Bahwa taburan gemerlap lampu-lampu warna-warni di malam hari yang menjadi daya tarik kepada mereka yang disebut sebagai orang desa untuk merasa kota sebagai daerah modern yang hebat menandai apa yang disebut sebagai progresif. Sialnya, modernitas juga seperti layaknya kubus putih dingin tak berperasaan yang tak pernah peduli atas konteks budaya dalam budaya berkota. Kelamaan yang di satu sisi perlu dipertahankan sebagai jejak juga hanya bisa diam termakan oleh buruan dominasi kebaruan di sisi lain yang perlu dan ingin mencuat sebagai indikasi dari keadaan yang progresif tersebut. Lalu barangkali Singkawang akan ingin seperti itu. Menjadi salah satu kota besar yang modern di dunia, paling tidak Indonesia, atau Kalimantan, paling tidak, atau Kalbar, paling tidak.
Budihardjo : “ Kita memang harus mencoba mengangkat kepala untuk mencoba melihat keluar, namun di saat bersamaan, kaki harus tetap dipancangkan kuat-kuat di bumi tempat kita berdiri “
Lalu masih adakah kebutuhan atas jati diri ? mengingat hasil-hasil rancang bangun tanpa jejak yang dipungut dari etalase modern ala Barat yang sama rata dan sama rasanya telah terlihat di semua kota besar di Indonesia, yang perlahan hilang jati dirinya, dan masih sibuk bernegosiasi untuk membentuk simbol-simbolnya yang baru. Kapitalisme yang terselubung indah dalam balutan demokrasi prematur akhirnya menurunkan semuanya ke lubang yang sama. Munafik memang, tapi masih perlukah jati diri ? masih perlukah jejak sejarah dan karakteristik tanah dan manusia-manusianya yang masing-masing telah unik ? atau memang benar modernisasi di tanah-tanah kita bukan lagi alat, namun telah menjadi tujuan akhir dari progresifitas, sehingga apa yang dikatakan oleh Bintarto yang kini terasa sangat real tidak mampu lagi diubah ? Singkawang ?
Mungkin masih lama. Mungkin terlalu berlebihan. Dan belum parah untuk mulai memikirkan tentang keberlanjutan. Atau mungkin belum mulai sama sekali.
[3] NGOMONG-NGOMONG
Ngomong-ngomong, sesungguhnya apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat Singkawang ? sekedar menjadi modern ? sekedar kebanggaan bahwa Singkawang sudah ada lampu merah ? sudah ada pabrik ? sudah ada bandara ? sudah ada pelabuhan ? sudah ada universitas ? orang Singkawang itu butuh apa sebenarnya ? mungkin Singkawang sudah maju. Tapi orang Singkawang sebenarnya butuh apa ?
Ngomong-ngomong lagi, apa sebenarnya arti dari melakukan sesuatu untuk pembangunan Singkawang ? sesuatu yang seperti apa yang harus dilakukan sehingga Singkawang bisa dikatakan sebagai telah dibangun atau telah terbangunkan oleh sesuatu yang telah dilakukan itu ? Apakah ikut membangun Singkawang berarti harus kembali ke Singkawang dan menampakkan batang hidung dengan terjun langsung dan bebas tanpa mengerti dan tahu apa yang bisa diterjuni ? Apa definisi dari berbuat dan tidak berbuat itu? Dengan apa seseorang bisa dikatakan sebagai yang telah berbuat ? apakah dengan menjadi pengusaha super sukses dan investor untuk mengeksploitasi potensi kota dalam sudut pandang komersil yang kemudian dipuji sebagai ikut mengembangkan dan membangun kota ? apakah dengan menjadi seorang karyawan dan pramuniaga yang menawarkan barang-barang jualan majikannya yang pada akhirnya dihargai sebagai orang biasa yang mencari penghidupan di sebuah kota kecil yang lalu mendapat kebanggaan sebagai ikut mendukung pembangunan kota ? apakah dengan mendaftarkan diri sebagai pegawai negeri sipil yang jumlahnya berlebih-lebihan sehingga lebih banyak yang sangat sibuk untuk duduk bersantai di kantor untuk kemudian disaluti atas jasanya sebagai abdi negeri ? atau apakah dengan menjadikan mereka yang menjual diri dan anak-anak perempuan mereka ke luar negeri atas nama kemiskinan dan usaha pamungkas untuk melanjutkan hidup sebagai contoh atas kemampuan yang disebut sebagai membantu perekonomian dan sumber devisa ?
Demi Tuhan atau demi siapa saja, sebenarnya bagaimana caranya baru bisa dikategorikan sebagai ikut dalam pembangunan Singkawang ? Mungkinkah akan ada yang berbagi ? Apakah cukup dengan cara sejalan dan mendukung mimpi-mimpi yang dikatakan besar dan ide-ide yang dikatakan cemerlang yang bagaimana cara mewujudkannya pun tidak tahu, tidak mampu tahu, tidak berniat tahu, dan tidak akan pernah tahu, yang akhirnya hanya menyisakan cangkang kosong untuk selanjutnya diisi dengan wacana-wacana besar yang lain yang sedang menunggu di belakang dan begitu seterusnya ? Atau tak terkecuali setelah berwacana tanpa arah, apakah semuanya hanyalah kepura-puraan, yang sebenarnya kita semua sama-sama tidak pernah tahu apa yang kita maksud ? Lalu kembali lagi ke dalam mimpi dan harapan sebagai penduduk kota yang mengadu nasib seperti kata Bintarto, yang kemudian seakan menunggu waktu untuk dikatakan sebagai yang tidak berbuat apa-apa, sebagai penduduk kota yang punya kebutuhan pun di sisi lain juga dibutuhkan untuk dikatakan tidak berbuat apa-apa ? Apakah ada yang akan berbagi tentang cara yang benar untuk berbuat sehingga tidak terlihat seperti tidak berbuat ?
Bagaimana bisa “hanya” yang sudah cukup, dan “berbuat” yang tidak pernah dirasakan cukup ? “memberi” cukup ? “menonton” tidak cukup ? “mendukung” paling tidak ? “mendukung” sambil menonton ? paling tidak, cukup atau tidak cukup ? apakah dengan berteriak ? “tidak berteriak” tidak cukup ? “berteriak” cukup ? paling tidak sudah “berteriak” dan ada yang mengatakan “paling tidak” atau “sudah cukup” ? “cukup” seperti apa yang sudah cukup, belum cukup, tidak cukup, atau paling tidak ?
Seberapa cukup adalah cukup atau tidak cukup ?
Ngomong-ngomong sana-sini juga akhirnya tidak mampu mendefinisikan apa yang dikatakan sebagai “sudah berbuat apa-apa”, sebagai “tidak berbuat apa-apa” dan “belum berbuat apa-apa”. Tidak mampu mendefinisikan maju bukan modern. Mungkinkah ada baiknya kita menghadap ke bawah melihat piring-piring sendiri dan mulai menghabiskan makanan kita masing-masing ?
Lalu pada kesimpulannya, ketika semua terasakan dengan depan yang berkabut, kita sendirikah yang menyatakan di bawah sadar bahwa kita semua orang Singkawang memang ingin dan perlu pergi karena kita tidak punya arah ? karena kita tidak tahu apa yang kita butuhkan dan untuk apa kita dibutuhkan ? karena kita memang malu menjadi orang Singkawang yang Singkawang ? karena kita tidak punya gunung yang bisa dinaiki dan lembah yang bisa dituruni ? karena kita memang benar-benar tidak pernah tahu apa yang sedang kita tuju dan apa yang sedang kita bicarakan?
Atau apakah semuanya itu akhirnya lagi-lagi harus dibebankan pada stereotip dan tipikalitas ala Indonesia ?
[4] TERUS
Singkawang sebenarnya maju atau tidak maju ? Singkawang ini sebenarnya mau diapakan supaya bisa “dikatakan” sebagai “maju” oleh kita ? Sebenarnya yang namanya orang Singkawang itu inginnya apa ? butuhnya apa ? saya juga benar-benar tidak tahu.
Apakah masih perlu kata-kata bermimpi besar dan memberikan ide cemerlang ? Apakah ada yang akan berbagi, tentang bagaimana caranya membangun sebuah kota kecil yang diapit oleh gunung dan laut dengan karakter yang unik, tapi seperti tertidur, secara “berbeda” dengan mengesampingkan cara-cara paternalistik pembangunan sebuah kota yang telah dijadikan konvensi ? Barangkali tidak, karena pada akhirnya semua akan dikembalikan pada jalur dan pola-pola tersebut, dan selanjutnya keberhasilannya akan diukur menurut konvensi yang seperti telah menjadi hukumnya. Jadi sebenarnya masih ada dan perlukah mimpi besar dan ide cemerlang ?
Seperti, ketika api bisa dihasilkan dengan sekali tekan, masih perlukah kita mencoba membenturkan batu atau menggesek kayu ? ketika lampu telah ditemukan, masih perlukah kita mencoba menciptakan alat penerang, terlebih, masih perlukah kita mencoba menemukan listrik ? atau kita memang tidak pernah tahu apa fungsi dan bagaimana cara menggunakannya.
Apakah kota sudah benar-benar kota ?
Kebutuhan bukan keinginan. Keberadaan sebuah kota pada dasarnya harus memenuhi kebutuhan penduduk di dalamnya, bukan untuk memenuhi keinginan. Namun, lagi-lagi menyalahkan kodrat manusia sebagai makhluk yang hanya tidak ingin dan tidak butuh kesempurnaan, kadang-kadang tidak mampu membedakan apa yang termasuk kebutuhan bukan apa yang termasuk keinginan. Sebagai yang tidak pernah merasa cukup dan puas, saking banyaknya keinginan akhirnya membuat manusia sendiri tidak pernah tahu dan terpikirkan tentang apa sebenarnya kebutuhannya.
Namanya juga dengar-dengar, lihat-lihat, ngomong-ngomong, nunggu-nunggu.
Mao Tze Dong : “ Just let the flowers bloom ”.
Mungkin, dengan caranya sendiri, diam-diam, Singkawang membangun. Semoga saja.
[5] DIAM-DIAM SAJA
Ardy Prasetya.
0 comments:
Post a Comment