also visit

03 February, 2008

Sekali Lagi Rikiplik Tercinta, Merdeka

Sebuah renungan…

Jakarta, 17 Agustus 1945, ketika pernyataan kemerdekaan dibacakan oleh Sukarno dan Hatta, maka merdekalah Indonesia, maka bersukacitalah seluruh pengikut dan rakyat-rakyat Indonesia, merayakan pertama kalinya merasakan kebebasan dari penjajahan senjata yang telah berlangsung selama 300an tahun. Semua orang seperti merasakan surga dunia. Sekali merdeka, tetap merdeka. Dan hari ini, setelah tepat 62 tahun berlalu dari kala itu, 17 Agustus 2007, maka sekali lagi kita merdeka. Merdekakah kita ?

Tahun-tahun berlalu setelah hari pertama itu, dan orang-orang pun terus berbenah dengan optimis bahwa Indonesia akan terus menjadi sebuah negara maju. Pucuk pimpinan berganti tapi tidak berpengaruh. Bangunan-bangunan besar dan publik dibangun di Jawa, dan Sumatera, dan Jawa, dan Sumatera, dan Sulawesi, dan Jawa. Maju tak gentar. Dan dalam beberapa 17 Agustus yang berikutnya, maka majulah kita. Majukah kita ?

Dan bertahun-tahun lagi berlalu, dan orang-orang pun berganti, generasi ke generasi dan terus berbenah. Lama kelamaan orang-orang pun mulai sadar, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan republik ini. Kesadaran-kesadaran mereka akhirnya membawa mereka berpikir bahwa ada yang tidak benar. Benarkah ?

Merdeka menurut Purwadarminta adalah bebas dari penjajahan, penghambaan, dan lain-lain. Dan apa yang tidak benar dari kita ? Benarkah republik kita telah merdeka ?

Beberapa realita republik kita yang sedang terjadi dan akan terjadi mungkin berkata lain…

Ketika kita melihat kota-kota seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, lalu ketika kita pulang ke Purwakarta, Kidul, Tentena, Banggai, Sarmi, Waropen, Ketapang, Sanggau… ( apakah ada nama kota yang tidak pernah kita dengar ? )… dan ternyata… kita merdeka ?

Sama juga seperti ketika ketika kita masuk ke sebuah pusat perbelanjaan, dan kita minum Starbuck, makan Lasagna, Ice Cream NewZealand, pakai parfum merk Hugo Boss, pakaian merk Prada, Celana Levi’s 501, Sepatu Bally, lalu kita bertanya, di mana Mbok Tun penjual Jamu, di mana Warteg, di mana Warung Kopi Tubruk, dan lalu di mana Celana dan Sepatu Cihampelas ?… dan ternyata… kita merdeka ?

Sama seperti ketika kita bermobil ria ter-AC dan terlindungi dari hujan dan panas, dan kita lewat di sebuah jalan kecil kumuh, di mana anak-anak bermain dengan taruhan nyawa karena kendaraan-kendaraan kita bersliweran di antara petak-petak permainan mereka, dan ibu-ibu duduk mengawasi sambil memberi mereka makan, sambil berpikir, “ Nanti kami mandi dimana ya ? “ dan sesekali berteriak, “ Awas ! “, dan ternyata… kita merdeka ?

Sama seperti ketika beberapa orang Cina berjalan cepat di trotoar yang penuh Fankui, tanpa saling bertegur sapa, dan Cina-Cina agak takut, terus waspada agar dompet dan perhiasan mereka tidak dicopet sambil berbisik, “ Hati-hati… “ dan Fankui-Fankui pun berbisik pula, “Cina sial, jalan-jalan aja seenaknya di daerah kita, awas aja jangan sampai nyinggung kita… “ dan ternyata… kita merdeka ?

Sama seperti ketika Cina-Cina di Singkawang dan kota-kota lain di Indonesia yang terus berusaha bertahan hidup dan akhirnya berhasil, lalu pejabat-pejabat pemerintah pusat dan daerah yang didominasi oleh Fankui-Fankui mulai merasa gerah, dan mengharuskan Cina-Cina itu punya SBKRI untuk membuktikan mereka tidak “berkhianat” pada Indonesia. Anak-anak Cina harus dibedakan dengan menggunakan marga yang melekat pada namanya dan jadi bahan ejekan teman-teman Fankui mereka di sekolah, dan mereka juga harus berbahasa Indonesia di sekolah mereka sedangkan teman-teman Fankui mereka bebas berbahasa Melayu, dan ternyata… kita merdeka ?

Sama seperti ketika sekelompok tokoh pemuda Fankui yang mulai merasa gerah dengan tingkah laku Cina-Cina yang seenaknya saja ngobrol bahasa Cina di tempat umum, dan di sisi lain kota yang juga tempat umum, beberapa anak-anak muda Fankui bebas berbahasa Melayu tanpa ada yang merasa terganggu. Dan mereka berpikir harus mengangkat wacana menggunakan Bahasa Indonesia di tempat umum sebagai bahasa persatuan tanpa berpikir secara Melayu, dan ternyata… kita merdeka ?

Sama seperti ketika kebebasan pers dan media mulai dijunjung tinggi dan dimerdekakan sehingga wartawan-wartawan merasa bebas untuk mewawancara, mengejar, mengawasi, mengintip, serasa “meneror” para artis ibukota dan ketika artis-artis manusia itu merasa tidak suka dan marah, lalu wartawan tersebut ikut marah karena kemerdekaan mereka terenggut, dan ternyata… kita merdeka ?

Sama seperti ketika kebebasan berpendapat direformasi dan semakin menemukan kebebasannya, dan kita mulai berpendapat ke sana dan ke sini, dan kadang-kadang kita mulai memotong pembicaraan orang lain, karena sudah tidak tahan mengutarakan opini kita, dan orang yang pembicaraannya terpotong oleh kita, dan ternyata… kita merdeka ?

Mungkin bagi Jakarta, Surabaya, Starbuck, Levi’s, mobil ber-AC, Fankui, bahasa Melayu, dan wartawan, mereka merdeka… tapi bagi Banggai, Sanggau, Mbok Tun, Ibu-Ibu dan anak-anak kecil, Cina, bahasa Cina, dan artis, apakah mereka merasa bebas dari penjajahan dan penghambaan ? dan lain-lain ?

Pengertian kemerdekaan kita hanya sebatas merdeka dari senjata, dan kalau begitu bagaimana kalau kita kembali ke zaman RIKIPLIK saja.

Lalu Konfusius pun berucap, “ Apa yang tidak akan kamu lakukan pada dirimu sendiri, janganlah lakukan pada orang lain. “.

Ya… kita merdeka, meskipun tidak sepenuhnya, tapi setidaknya tidak lagi terjajah oleh senjata… dan kita manusia… merekapun manusia…

Mungkin ada suatu saat, ketika kita bisa melihat Jalan Sudirman-Thamrin di Tentena dan Sanggau, ketika kita makan Lasagna sambil minum Kopi Tubruk, atau makan Warteg sambil minum Starbuck, ketika kota kita dipenuhi ruang-ruang publik dan sosial di mana orang-orang dengan mobil ber-AC turun dan ikut berjalan sambil bermain bersama anak-anak kecil, ngobrol sebentar dengan Ibu-Ibu, ketika Cina-Cina yang berjalan di jalan-jalan kecil dan kumuh saling bertegur sapa dengan Fankui-Fankui, duduk sebentar, ngobrol, dan mengeluarkan HP-HP mereka untuk berfoto ria bersama, ketika Cina dan Fankui bisa saling bercanda menggunakan bahasa Melayu dan Cina sambil saling mempelajari bahasa mereka dan kemudian bercanda lagi, ketika wartawan menganggap artis benar-benar manusia dan sebaliknya, ketika kita mulai sabar mendengarkan pendapat orang lain tanpa ingin memotong, dan ketika kita mulai saling memikirkan seperti sedang bercinta… mungkin saat itu kita akan mendengar mereka dengan nyaring dan semangat 45 memekikkan kata : “ MERDEKA ! “.

Seperti surga dunia, rasanya akan sama seperti zaman Rikiplik, tapi dengan kegembiraan jiwa yang berbeda, suatu saat nanti.

Renungan, 17 Agustus 2007
Dirgahayu Rikiplik Tercinta,
Ardy Prasetya.

0 comments: