Melayang tujuh keliling, vertigo yang tak diundang menyerang dan membuyarkan orientasi. Selembar plano putih yang sangat luas dan saya mendarat di tengahnya. Putih, putih sejauh cakrawala yang terjauh. Putih-putih itu kemudian berubah menjadi kumpulan warna-warna lain yang menyeruak seperti hujan badai yang dingin menyiram sekujur tubuh, antara sadar dan tak sadar. Warna-warna yang tak asing lagi.
Saya seperti sedang melihat sekelompok anak-anak kecil berlarian dari gang ke gang, dengan celana jeans panjang yang kepanjangan sehingga digulung dalam beberapa lipatan. Sepatu-sepatu Eagle baru berwarna hitam yang disiapkan sekaligus untuk masuk sekolah nanti. Di tangan mereka terpegang beberapa pasang petasan cabe rawit dan kembang api Apollo yang terkenal di zaman itu. Menyalakannya dan sembarangan saja melemparnya. Tak ada yang memarahi mereka biar seberapa bising yang mereka hasilkan dari suara-suara itu, karena pagi itu, semua orang masih terlelap setelah berpesta dan bergembira semalam suntuk. Namun tiba-tiba saja sekelompok ibu-ibu seketika lewat dengan sepeda mini mereka, dengan keranjang di depan. Sekelebat, terlihat tulisan Phoenix di rangka sepeda beberapa orang di antaranya. Membawa bermacam buah dan kertas-kertas sembahyang, berlalu berkelompok sambil membunyikan lonceng sepeda. Mereka akan bersembahyang ke kuil-kuil di seantero kota, di pagi hari pertama Tahun Lunar itu. Bunyi kring sepeda terus terdengar seperti gema yang semakin hilang dan hilang. Saya membalikkan diri, dan hanya terlihat kumpulan anak-anak yang sedang menyalakan kembang api mereka, tanpa suara sama sekali. Wajah-wajah mereka berkontraksi dalam tawa, namun tak ada suara sama sekali yang terdengar meskipun terlihat kertas-kertas merah petasan yang terus berhamburan. Hanya vista. Dan dalam sekejap, vista itu hilang.
Mundur sedikit, ada vista lain. Saya melihat murid-murid sekolah yang beramai-ramai menangkap kodok ketika musim hujan tiba, di lapangan rumput yang penuh basah oleh hujan semalam, di selokan-selokan samping parkir sepeda, terkelilingi oleh pohon-pohon kelapa sawit yang tak pernah terlihat berbuah sejak dulu. Baju-baju kotor penuh lumpur sepertinya tidak dipedulikan sama sekali padahal selepas jam istirahat ini, masih ada pelajaran sampai siang nanti. Tapi mereka masih terus saja menangkap kodok-kodok kecil yang baru saja bermetamorfosis dari fase berudunya. Ingin rasanya memberi tahu mereka bahwa baju-baju putih sekolah mereka sekarang telah berubah belang seperti kucing kampung, tapi keceriaan mereka membuat tak tega. Dengan satu tangan memegang kantong plastik gula bekas, mereka sibuk menangkap dan memasukkan kodok-kodok itu. Entah apa yang akan mereka lakukan dengan makhluk-makhluk kecil itu sesudah ini. Pikiran-pikiran anak kecil yang kadang tak tersentuh logika. Apa peduli, mereka hanya hidup tanpa beban. Sudahlah. Lalu lagi-lagi sontak terdengar bunyi kring yang cukup nyari. Terus mengiang di telinga, saya hanya bisa melihat murid-murid sekolah itu melemparkan segala pegangan di tangan mereka ke tanah-tanah lumpur, dan berlarian ke arah bangunan panjang di seberang. Lalu kali ini badai yang menyerang pandangan hingga semuanya menjadi begitu kabur tanpa suara apa-apa.
Ketika pandangan kembali jelas, saya telah berdiri di balkon belakang rumah. Memandangi hijaunya padi-padi muda yang sepertinya baru tersiram hujan gerimis dari pagi, dengan berlatar Gunung Poteng dan Pegunungan Pasi di sebelahnya. Kabut-kabut putih dengan nakal menggerayangi kepala pegunungan itu. Di kejauhan, seorang ibu membawa anak perempuannya berjalan melalui pematang-pematang sawah menuju rumah gubuk mereka yang berada di seberang sawah. Di antara tangan dan pinggang mereka, terkepit tempayan kuning dari tanah liat, entah apa isinya. Di kiri kanan mereka, jernih air membasahi lahan-lahan padi keluarga mereka yang baru mendapat berkah air melimpah. Seekor sapi sedang sibuk berkubang sambil makan rumput, dengan gerobak penuh rumput di sampingnya. Majikannya sendiri sibuk memotong rumput tanpa sempat memperhatikan sapinya yang sedang tertawa. Seperti cerobong asap, dari ujung atap setiap rumah mulai terlihat asap tipis yang membubung makin lama makin pekat. Bau kayu bakar mulai tercium. Satu, dua, tiga, lima, delapan, dua belas rumah, semuanya membubungkan asap kayu bakar yang terasa menghangatkan, dalam baluran sejuk kabut selepas hujan sore itu. Perlahan mulai terdengar bunyi-bunyi adzan dari suro-suro sahut menyahut, pertanda maghrib. Hijau itu, sejuk itu, hangat itu, damai itu, mungkin hanya bisa dirasakan dalam pejaman. Namun ternyata pejaman ini menjadi awal dari perputaran berikutnya. Rasanya kepala dibalut oleh kabut-kabut putih panjang dan terus berputar dan bingung, semuanya hilang dan kembali putih.
Dalam bingung, mencoba menoleh lebih ke belakang, saya melihat pohon-pohon randu yang sedang menghasilkan salju-salju kapas yang terus berjatuhan. Beberapa anak mencoba menangkapnya, menangkap kapas-kapas itu sebanyak-banyaknya. Lalu meniupnya sembarangan sambil berlompat-lompatan saking senang di antara pohon-pohon sukun yang mengelilingi. Tawa membahana. Lalu dari jauh terlihat seorang nenek tua. Adrenalin rasanya deras terpacu mengalir ke saraf-saraf tubuh ketika nenek itu berlari menuju ke anak-anak itu sambil membawa sapu yang diacung-acungkannya. Anak-anak itu ketakutan sehingga lari berhamburan namun tetap dengan tawa yang membahana. Saya tiba-tiba ingat pada nenek tua itu. Saya ingat, ia adalah penjaga sekolah itu. Tukang sapu dan tukang pel yang juga merangkap tukang sampah, yang dulu sering mengancam akan mengadu kepada ibu jika saya nakal di sekolah. Nenek tua yang lucu. Spirit muda dalam syaraf-syaraf tua. Lalu sekali lagi hilang dalam pusaran angin putih yang melenyapkan semuanya, meninggalkan saya berdiri di lantai terakota, di teras sekolah yang sangat panjang. Sepi tanpa siapapun. Tiba-tiba angin putih menyapu seperti sedang membalikkan lembaran pandangan ke halaman berikutnya.
Lalu di kiri kanan, saya melihat jalan-jalan. Semakin lama semakin jelas bahwa sebelah kanan itu ada jalan Diponegoro dan di kiri adalah Ahmad Yani. Saya ke kiri, lurus dengan Gunung Sari di sebelah kiri dan 3 patung di sebelah kanan, sampai pada pertigaan, ada tulisan Alianyang dan berbelok ke sana. Menjumpai lapangan Kodim di kiri dan sebuah kelenteng di kanan, lurus dan saya menerobos beberapa gedung pemerintahan, dan melihat beberapa lampu lalu lintas, serta beberapa pertigaan, salah satunya bertuliskan Tsjafioedin, dan sampai pada sebuah tugu di perempatan, saya membelok lagi ke kanan dan menjumpai Yos Sudarso. Sekelebat saya melihat tulisan Gedung Juang di sebelah kiri. Yos Sudarso penuh dengan penjual makanan di kanan kirinya. Lalu tanpa disadari saya telah melewati sebuah pertigaan lagi dan menjumpai sebuah Mesjid Raya bercat hijau di sebelah kanan. Jauh di depan, sebuah klenteng lagi yang berwarna merah menyala. Beberapa orang sibuk bersembahyang di depannya. Ke kanan, saya sampai ke Sejahtera. Pada perempatan pertama saya ke kiri dan menemui sebuah tugu naga berwarna putih di tengah perempatan. Konon itu adalah patung naga yang legendaris. Entah apa yang membuatnya menjadi begitu hebat. lalu saya putuskan ke kiri dan sampai ke Niaga. Lurus terus dan saya ke Budi Utomo di sebelah kanan yang penuh dengan toko busana. Kembali menjumpai beberapa pertigaan lalu menjumpai Nusantara. Di sini terasa sepi, di sebelah kiri terdapat kantor polisi yang cukup besar sepertinya. Lalu di pertigaan berikut saya bertemu dengan Jenderal Sudirman dan PLN, setelah perjalanan lurus cukup jauh melewati tulisan Kalimantan, saya menemukan sederet ruko berseberangan yang cukup ramai, serta KS Tubun di sebelah kanan. Saya berbelok. Semua terasa sulit di sini, jalan yang cukup rusak, sebuah kuil besar di kiri, dan beberapa rumah walet, melalui beberapa jembatan, lalu sampai pada sebuah area pemakaman yang sangat luas. Akhirnya saya sampai pada sebuah jalan raya bernama GM Situt. Berbelok ke kiri, ruko berjejer di kiri kanan. Setelah sebuah pertigaan bernama Kridasana, saya menemukan Yohana Godang yang masih hijau kiri kanannya. Jalan ini akhirnya membawa saya kembali berhenti di antara Diponegoro dan Ahmad Yani dengan bangunan bertuliskan Mahkota di sebelah kanan. Perjalanan yang cukup panjang. Heh, tak terasa, hanya dengan 1 paragraf saja, saya sudah merasa seperti sedang berkeliling kota Singkawang. Lalu sedetik kemudian saya sadar bahwa semuanya akan kembali putih dan menghilang. Dan benar saja.
Saya kembali melihat ke depan, kali ini saya melihat sebuah pasar yang saya sepertinya banyak orang berjualan sayur-sayur dan daging. Seorang nenek Madura duduk di atas lembaran koran, di tepi jalan yang agak becek, dengan keranjang-keranjang sayur di hadapannya. Berikat-ikat pakis yang dibungkus dengan daun pisang dan diikat dengan batang-batang ilalang kering membuatnya terus meneriakkan iklan-iklan sayur dengan tenaga penuh, tiba-tiba ia memandangi saya, lalu terdiam. Saya tercekat, perempuan setua itu. Beberapa langkah di sampingnya, seorang bapak gendut yang tak memakai baju sedang memotong daging-daging babi di atas talenan lebar dari kayu nangka yang terlihat licin oleh gosokan daging dan pisau potong setelah sekian lama. Potongan-potongannya digantungkan di gantungan-gantungan besi yang modelnya mirip mata panjang raksasa bermata 3 yang dipakai untuk memancing hiu. Di lehernya tergantung dengan sangar sebuah kalung emas bermodel rantai sebesar ibu jari. Di sebelah kiri bapak itu, berdiri seorang amoy dengan sebuah nampan yang tertutup dengan lapisan kain katun putih. Seorang pembeli lewat dan dia langsung membuka tutup nampannya dan terhamparlah sebidang kenyal berwarna putih yang ternyata adalah tahu. Dari gerakan memotongnya, langsung bisa dilihat bahwa anak muda ini telah lama bergelut di bidang pertahuan. Tangannya gemulai menggerakkan pemotong tahunya dan seketika mengambil selembar daun simpur dari kolong mejanya. Seketika meletakkan beberapa potongan tahu pesanan di atasnya dan dalam beberapa lipatan, ia menyerahkannya kepada sang pembeli itu. Namun, seketika juga, saya seperti melihat sebuah cakar ekskavator raksasa menghantam ketiga orang itu dan seketika bayangan mereka beserta keramaian pasar menjadi blur, buram tergantikan oleh lempeng-lempeng batako yang dengan cepat menanjak dinding-dinding beton. Satu lantai, dua lantai, 3 lantai. Saya seperti sedang melihat selintas bayangan Pasar Kopro berpindah ke sana. Lalu kesadaran berlalu, sebentar.
Foto-foto hitam putih kakek dan nenek yang saya satukan pagi ini dengan program Photoshop bajakan kembali menyeret saya dari sadar. Dari keluarga ibu, mereka adalah 2 orang yang tak sama asal usulnya. Foto-foto mereka lusuh dalam bayangan noda waktu. Tak pernah punya foto berdua selama hidupnya, tak pernah terekam, yang ada hanya foto-foto keluarga besar. Menyatukan foto-foto itu hanya untuk mendapatkan kenangan bahwa suami istri itu dekat satu dengan lainnya. Foto-foto hitam-putih itu semakin menyeret saya ke belakang. Ke Singkawang 1948. Ke Singkawang yang masih membiru dalam kayuhan sepeda tua, membiru dalam urat-urat rumah-rumah kayu, membiru dalam jalan-jalan gerobak sapi, membiru dalam selangit panorama yang menggulung.
Langit biru. Sejauh mata di atas, ditutupi oleh selimut awan yang robek di sana-sini karena kadar air yang tak merata. Tak terlihat di mana matahari berada, barat dan timur, cerah tapi tak panas. Sekali, dari utara terdengar deru dari kejauhan, jauh sekali, stereo pesawat terbang, burung besi masa kecil, entah dari mana, entah ke mana. Lalu hilang tak berbekas, tertelan gumpalan-gumpalan arumanis, awan-awan di selatan. Di bawah kaki, bumi batu-batu koral, dengan tanah dan rumput, sepi ilalang di sela-selanya. Berjalan, berhenti, pijakannya tak rata. Tipikal tekstur bumi yang belum terjamah. Bayangan lembut di bawah, cerah dan hangat. Hamparan kristal berloncatan di antara beningnya riak-riak sungai yang terbelah oleh tumpukan-tumpukan andesit. Tarikan antara sejuknya air dan hangatnya tanah membuat ilalang-ilalang sabana jauh di sana, di sisi cakrawala, menari-nari dalam komposisi tropical waltz yang indah bukan kepalang. Bunga-bunganya seperti bola-bola sutera persia, terbang dalam alunan harmoni angin serenade dari tenggara.
Melihat Singkawang, adalah seperti melihat gulungan film tak berujung, berputar frame demi frame, adegan demi adegan. 2 lembaran ini, antara sadar dan tak sadar, adalah hanya karena saya kangen dengan kampung halaman saya, hanya karena kangen dengan tanah-tanah merahnya, hanya karena kangen dengan pohon-pohon randunya, dengan bau kayu-kayu bakar, bau tanah dan air yang tertinggal di sana, kangen dengan klasika Singkawang. Ingin sekali pulang.
Dan vertigo itu hilang.
Tiba-tiba saja, rasanya kangen Singkawang,
Ardy Prasetya.